Teori Big Bang, Sejarah dan Kekurangannya

Teori Big Bang, Sejarah dan Kekurangannya

Berita Sains, (harapanrakyat.com).- Teori Big Bang, Sejarah dan Kekurangannya. Pernah mendengar istilah teori terbentuknya alam semesta? Ada banyak sekali teori yang dicetuskan para ilmuan.

Salah satunya yakni teori big bang atau ledakan besar. Ini merupakan teori terbentuknya alam semesta yang paling dikenal dan dianggap paling masuk akal.

Teori inipun bisa diterima oleh para ilmuwan maupun orang awam. Berikut ini penjelasan tentang munculnya istilah teori big bang yang sangat terkenal;

Sejarah Teori Big Bang

Dikonfirmasi bahwa Teori Big Bang pertama kali dijelaskan oleh Abbe Georges Lemaitre, asal Belgia pada tahun 1920.

Berdasar teori yang ia temukan, alam semesta terbentuk akibat dari kondisi yang super padat.

Kondisi ini menyebabkan panas yang luar biasa, kemudian meledak dan mengembang sekitar 13.700 juta tahun yang lalu.

Diantara banyaknya teori yang bermunculan tentang terbentuknya alam semesta, Teori Big Bangmerupakan teori yang dianggap paling masuk akal dan dipercaya oleh sederetan ilmuwan.

Proses

Menurut Abbe, alam semesta berasal dari gumpalan super atom dengan bentuk bola api dengan ukuran yang sangat kecil.

Gumpalan super atom tersebut semakin lama semakin padat dan panas. Selanjutnya gumpalan yang panas tersebut meledak dan menumpahkan seluruh isi alam semesta.

Ledakan tersebut mengeluarkan sejumlah besar energi yang tersimpan di dalam alam semesta. Selanjutnya berkembang dan membentuk kembali ke bentuk sekarang dan terus berkembang.

Atom hydrogen yang terbentuk saat ledakan terjadi, semakin lama semakin banyak dan berkumpul membentuk awan debu dan awan hydrogen atau yang disebut nebula.

Awan hydrogen yang bertambah padat dan memanas inilah yang menjadi pembentuk bintang-bintang yang bertaburan di alam semesta.

Bintang-bintang tersebut kemudian berkumpul dan membentuk kelompok, sehingga tercipta galaksi. Dari situlah terciptanya tata surya, termasuk bumi.

Proses yang Berulang

Teori Big Bang mengatakan bahwa alam semesta mempunyai proses siklus yang terus berulang. Dari teori itulah muncul kelanjutan dari Teori Big Bang, yaitu Teori Big Crunch.

Teori ini menjelaskan bahwa pada suatu titik alam semesta akan berhenti berkembang dan justru menyusut.

Kemudian muncul lubang hitam besar yang akan menghisap habis seluruh alam semesta.

Menurut Teori Big Crunch, alam semesta tidak akan pernah berakhir, karena prosesnya terus berputar.

Alam semesta akan meledak, mengembang, menyusut, lalu menghilang seperti itu dan seterusnya.

Siklus yang sama akan terjadi berulang-ulang. Itulah sebabnya alam semesta akan selalu melakukan reinkarnasi.

Setujukah jika alam semesta tidak akan pernah berakhir seperti yang sudah dijelaskan melalui Teori Big Crunch?

Kekurangan Teori Big Bang

Teori ini lebih dikenal dengan teori ledakan besar yang menyebabkan terbentuknya alam semesta.

Meskipun Teori ini dianggap paling masuk akal daripada teori lain yang sudah diteliti, ternyata teori ini masih memiliki banyak kekurangan.

Buat Anda yang masih penasaran, berikut ini ulasan mengenai kekurangan pada teori Big Bang.

Hidrogen Matahari Bisa Habis dan Meledak

Teori Big Bang menjelaskan bahwa hydrogen akan habis dan menyebabkan alam semesta meledak dan membentuk lubang hitam.

Padahal apabila melihat kembali tentang hukum kekekalan energi dimana hydrogen tidak akan benar-benar menghilang melainkan berubah bentuk sesuai dengan siklus perubahan.

Alam Semesta Tetap Stabil

Menurut teori Big Bang atau ledakan besar, sebuah ledakan tidak akan menciptakan sesuatu yang baru dan bagus, tanpa adanya penata atau perancang?

Kebanyakan sebuah ledakan akan menghasilkan kehancuran, kerusakan, dan kehilangan. Jadi, mungkinkah sebuah ledakan dahsyat menghasilkan sebuah keadaan yang lebih baik?

Energi Mengalami Perubahan, Tidak Muncul dan Menghilang Begitu Saja

Sama seperti penjelasan tentang hukum kekekalan energi, sesungguhnya suatu energi mustahil untuk dihilangkan.

Akan tetapi energi tersebut berubah bentuk atau menjadi materi lainnya. Misalnya, air akan menjadi es ketika dibekukan. Bukan berarti airnya menghilang, hanya berubah bentuk.

Alam Semesta yang Rapi dan Tersistem

Seluruh isi alam semesta tertata dengan rapi dan tersistem. Sebagai contoh adanya bulan yang senantiasa berputar mengelilingi bumi dengan beberapa sistem yang telah tersusun.

Adanya perputaran bumi yang disebut rotasi. Adanya kumpulan bintang yang membentuk galaksi. Semua hal tersebut tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan sudah tersedia aturan yang tersistem.

Seluruh Isi Alam Semesta Seimbang dan Sempurna

Kekurangan teori Bing Bang yang selanjutnya terlihat pada isi alam semesta yang tersusun secara seimbang.

Dimana dalam alam semesta terdapat komponen yang saling terhubung dan berkaitan satu sama lain.

Sebagai contoh, planet adalah sumber energi bagi keberlangsungan matahari, sedangkan energi matahari memancarkan kepada semua planet.

Jadi, setelah ledakan besar tersebut, manakah yang lebih dulu terbentuk antara planet atau matahari?

Keraguan Tentang Meledaknya Alam Semesta

Teori Big Bang menyebutkan jika ledakan besar tersebut terbentuk karena adanya gumpalan super atom yang semakin padat dan panas. Kemudian meledak dan membentuk galaksi, planet dan seluruh isi alam semesta.

Akan tetapi, dari ledakan alam semesta seharusnya terdapat banyak debu tersisa yang beterbangan memenuhi alam semesta.

Namun, masih tetap bisa melihat bintang dengan jelas sampai saat ini. Lalu, benarkah jika alam semesta itu meledak?

Meledaknya Alam Semesta Berarti Kiamat

Kekurangan Teori Big Bang selanjutnya mengenai kiamat. Meledaknya alam semesta beserta isinya menandakan bahwa kiamat telah terjadi.

Seperti diketahui, bahwa tidak ada satu orangpun yang mengetahui kepastian tentang kiamat dan seperti apa kiamat itu terjadi.

Itulah penjelasan terkait Teori Big Bang, sejarah dan kekurangannya. Menurut kalian, apakah teori ini benar? Tidak ada yang tahu secara pasti bagaimana alam semesta terbentuk.

Itu merupakan kuasa dari Sang Pencipta. Semoga ilmu pengetahuan ini dapat diserap dan diambil sisi baiknya untuk proses pendidikan. (Deni/R4/HR-Online)