Zakat pada Zaman Rasulullah SAW Dikelola oleh Lembaga Pemerintahan

Zakat pada Zaman Rasulullah SAW
Ilustrasi Zakat pada Zaman Rasulullah SAW. Foto: Ist/Net

Zakat pada zaman Rasulullah SAW dan sekarang menjadi salah satu dari rukun Islam dan merupakan hal yang pokok untuk menegakkan Islam. Islam tidak akan berdiri kokoh jika salah satu dari pokoknya menghilang.

Dengan ikut membayar zakat, kita telah membantu menegakkan Islam. Zakat juga amalan yang wajib dikerjakan setiap umat muslim. Berzakat juga mampu mensucikan harta benda yang dimiliki.

Salah satunya dengan berzakat fitrah yang dikerjakan menjelang habisnya bulan Ramadhan. Biasanya dibayarkan pada suatu lembaga yang dikelola swasta maupun melalui badan Amil Zakat Nasional yang pemerintah kelola.

Zakat pada Zaman Rasulullah SAW

Pada zaman Rasulullah, zakat dikelola oleh lembaga negara. Dengan demikian, negara mempunyai kewajiban untuk menghitungkan berapa banyak zakat yang harus dikeluarkan seseorang.

Bukan hanya menghitung, namun juga sekaligus mengumpulkan zakat. Kala itu Rasul dan para khalifah membentuk badan zakat serta mengirimkan petugas untuk mengumpulkan zakat dari wajib zakat.

Setelah dikumpulkan, zakat akan dimasukkan ke baitul mal. Baru setelah itu pemerintahan akan menentukan pembagian sesuai dengan ketentuan yang telah dituliskan di dalam Al-Qur’an serta hadist.

Dalam sejarah zakat pada zaman Rasulullah SAW, Beliau menunjuk Umar bin Khatab, Ibnu Qais ‘Ubadah Ibn Shamit, serta Mu’az Ibn Jabal untuk menjadi amil zakat pada tingkatan daerah.

Hal ini seperti diungkapkan di dalam sebuah buku berjudul Dimensi Global Kemiskinan di Dunia Muslim: Sebuah Penilaian Kuantitatif yang dituliskan oleh Amer al-Roubale.

Untuk membina masyarakat, kewajiban zakat merupakan tanggungjawab dari para sahabat Rasul. Zakat bertujuan untuk meminimalkan angka kemiskinan dan membantu penduduk yang membutuhkan.

Pengelolaan Zakat

Untuk pengelolaan zakat pada zaman Rasulullah SAW menurut pendapat dari Mustafa Edwin Nasution melalui bukunya yang berjudul Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam, Rasulullah memberikan sebuah contoh untuk pengoperasionalnya.

Managemen untuk operasionalan zakatnya memiliki sifat teknis. Hal ini dapat disaksikan dari struktur amil zakatnya kala itu.

Struktur Zakat

Struktur zakat terdiri dari katabah yang mempunyai tugas untuk mencatat semua yang wajib pajak. Untuk yang bertugas menghitung dan menaksir zakat merupakan tugas dari hasabah.

Untuk yang bertugas menarik atau mengambil zakat dari para wajib pajak adalah jubah. Sedangkan untuk yang memelihara harta dan menghimpun harta merupakan tugas dari khazzanah.

Baca juga: Sahabat Nabi yang Masih Hidup, Fakta Unik dan Penampakannya

Yang terakhir, orang yang menyalurkan zakat-zakat ini kepada orang yang membutuhkan (mustahiq) adalah tugas qasamah. Zakat pada zaman Rasulullah SAW sangat diperhatikan susunan lembaganya agar dapat tersalurkan dengan benar dan tepat sasaran.

Sejarah Zakat

Ketentuan untuk melaksanakan zakat ini telah tertulis di dalam Al-Qur’an sebanyak 30 kali, 27 kali disebutkan bersamaan dengan shalat. Sisanya disebutkan dalam konteks yang sama dengan shalat, namun tidak dalam satu ayat.

Kewajiban dalam mengeluarkan zakatditetapkan pada tahun ke-9 Hijriah dan untuk shadaqoh fitrah tahun ke-2 Hijriah. Namun ada ahli hadits yang menyebutkan jika kewajiban berzakat dikeluarkan tahun ke-9 Hijriah.

Baca juga: Istri Rasulullah yang Sempat Menolak Islam, Raihanah binti Zaid bin Amru

Maulana Abdul Hasan mengatakan bahwa zakat diwajibkan saat hijrah dalam rentan waktu 5 tahun sesudahnya. Pada tahun kedua inilah Rasulullah mulai memberi nasihat untuk menyampaikan kepada para ahli kitab mengenai beberapa hal, termasuk tentang kewajiban mengeluarkan zakat.

Dalam sejarah zakat pada zaman Rasulullah SAW, Beliau menyampaikan kepada para sahabat untuk diberitakan kepada ahli kitab jika kewajiban dalam mengeluarkan zakat harta benda yang mereka miliki sesuai dengan perintah yang Allah SWT berikan.

Adapun harta benda yang wajib untuk dizakati berupa binatang ternak, misalnya sapi, unta, dan kambing. Untuk barang berharga yang wajib dizakati berupa emas dan perak.

Selanjutnya untuk tumbuhan yang harus dizakati berupa syair (jelai), anggur kering (kismis), gandum, dan kurma. Semuanya terus berkembang sampai pada ditetapkan dengan hukum zakat yang berdasarkan illat.

Prinsip Zakat

Prinsip zakatadalah mengenai pengajaran berbagi dan kepedulian. Untuk itu, zakat harus mampu memberi rasa empati serta saling mendukung untuk sesama umat muslim.

Hal ini bermakna jika zakat haruslah mampu mengubah kehidupan umat muslim khususnya. Untuk itu, sebagai umat muslim, haruslah menaati rukun Islam ini sebagaimana zakat pada zaman Rasulullah SAW ditegakkan. (R10/HR-Online)

Loading...