Batik Sukapura Tasikmalaya Mulai Terlihat Menggeliat

Batik Sukapura Tasikmalaya
Batik Sukapura buatan asli pengrajin Desa Janggala, Tasikmalaya, saat dijemur. Foto : Apip/HR

Berita Tasikmalaya, (harapanrakyat.com),- Batik Sukapura yang terancam punah kini mulai menggeliat lagi. Batik asli dari daerah Tasikmalaya, Jawa Barat ini, memang sudah lama terkenal.

Salah satu daerah pengrajin batik di Tasikmalaya saat ini adalah di Kampung Ciseupan, Desa Janggala, Kecamatan Sukaraja.

Kini, Desa Janggala ini selain memiliki objek wisata Puji Ningrum, juga menjadi pusat para pengrajin batik asli batik karuhun Sukapura.

Para pengrajin tersebut membuat kelompok dengan nama Gandok Jaya Mukti. Kelompok pengrajin batik ini, adalah atas dorongan dari Kepala Desa Janggala, Asep Ahmad Kastoyo.

Asep yang juga pembina kelompok batik Sukapura bersama sesepuh atau tokoh pengrajin batik tulis, mengajak untuk membangkitkan lagi batik asli Tasikmalaya itu.

“Batik ini mulai meredup setelah meninggalnya Enung, sesepuh pengrajin batik asli Sukapura. Karena, setelah tokoh batik ini meninggal, maka tidak ada yang memasarkan hasil pengrajin batik,” tutur Asep kepada HR Online, Kamis (23/7/2020).

Asep menambahkan, untuk sekarang jumlah pengrajin batik di Desa Janggala berjumlah 25 orang pengrajin, mulai dari sepuh sampai kaum muda.

Saat ini, lanjut Asep, generasi muda di Desa Janggala sudah mulai memahami betapa pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur, yakni batik karuhun Sukapura.

“Bukan hanya pengrajin batik sesepuh, tapi sekarang sudah mulai ada regenerasi pengrajin batik kaum muda,” katanya.

Selain itu, kelompok batik tersebut juga mendapat perhatian khusus, berupa permodalan, alat batik, kain serta upah dari pihak BI Cabang Tasikmalaya.

Dengan adanya bantuan itu, katanya, kini kelompok batik tulis Sukapura upahnya mulai meningkat dan menjadikan semangat.

Ciri Khas Batik Sukapura Tasikmalaya

Sementara itu, ketua kelompok batik karuhun Sukapura, Edang Ramdani, menjelaskan bahwa untuk ciri khas warna batik ini adalah dari warnanya. Menurutnya, ada tiga warna merah bata, biru dongker, dan hitam.

“Itu sudah ada dari dulu para leluhur pengrajin batik di sini. Karena batik ini identik atau kental dengan sejarah Sukapura, sekaligus sebagai pembeda dari batik yang lain,” jelas Edang yang juga anggota KKI (Karya Kreatif Indonesia).

Sementara untuk motif batik yang masih tetap dilestarikan dengan cara dicetak tulis ada 7 motif. Seperti motif Rereng Manis Kombinasi, Rereng Spiral, Rereng Kumeli, Motif Daun Taleus, Rereng Pisang Bali Kombinasi, Rereng Suliga Merah Hitam, Rereng Suliga Merah Putih.

Namun, kata Edang, seiring perkembangan zaman, para pengrajin batik Sukapura juga mulai melakukan inovasi-inovasi baru dengan menampilkan corak atau motif baru.  

Seperti motif kupu-kupu, Kujang, Lereng Kujang, ikan. “Bahkan ada terobosan baru, yaitu akan memproduksi batik sutra,” katanya.

Untuk penjualan batik tersebut kini juga sudah mulai menggeliat. Pemasarannya mulai dari tiap sekolah, sampai pihak BI memfasilitasi untuk memasarkan hasil karya para pengrajin batik dari Tasikmalaya ini.

“Kini batik ini sudah laku di pasaran. Bahkan sampai mengikuti pameran-pameran batik skala besar di Jakarta,” ucap Edang.

Edang berharap, sebelumnya batik Sukapura ini mulai redup kini bisa bangkit kembali, dan bisa terkenal kembali seperti dulu.

Selain itu, bagi para pengrajin batik juga taraf hidup perekonomian bisa meningkatkan, dam bisa menjaring lapangan kerja baru. “Sekaligus menjaga ngamumule warisan leluhur yaitu batik karuhun Sukapura,” pungkasnya. (Apip/R5/HR-Online)

Loading...