Cafe Silogisme Kopi Patroman Roastrery di Kota Banjar, Sajikan Kopi Produk Lokal Berkualitas

Cafe Silogisme Kopi Patroman Roastrery Kota Banjar, menawarkan sajian kopi produk lokal bernama Pataruman Kopi. Foto: Aji Saomara/HR.
Cafe Silogisme Kopi Patroman Roastrery Kota Banjar, menawarkan sajian kopi produk lokal bernama Pataruman Kopi. Foto: Aji Saomara/HR.

Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Cafe Silogisme Kopi Patroman Roastrery Kota Banjar, menawarkan sajian kopi produk lokal bernama Pataruman Kopi. Jenis kopi luwak ini diproses sendiri oleh pemilik cafe melalui luwak yang dipeliharanya.

Husni, warga Lingkungan Cimeyan 1, Gang Holil, Kelurahan Mekarsari, Kota Banjar, adalah pemilik Cafe Silogisme Kopi Patroman Roastrery di Jalan Raya Banjar-Manonjaya, Nomor 128, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, Jawa Barat.  

Sebelum membuka cafe, awalnya Husni ingin membuat produk kopi di Kota Banjar, karena ia melihat kondisi kebun kopi atau pohon kopi di Banjar yang tidak dimanfaatkan oleh pemiliknya.

Selain itu, karena awalnya Husni dari komunitas musang, sehingga dirinya ingin memanfaatkan musang bukan hanya sebatas hobi untuk dipelihara, tapi ingin memanfaatkannya di bidang kopi luwak.

“Namun agak sulit jika untuk dijalankan, mungkin karena terlalu banyak orang. Pada tahun 2016, saya memulai kembali dan mengajak tiga teman saya dari komunitas musang untuk belajar tentang dunia perkopian,” tutur Husni, kepada HR Online, Minggu (05/07/2020).

Namun lanjut Husni, kegiatan itu sempat berhenti karena keterbatasan modal, dan belum begitu memahami tentang kopi maupun pemasaranya.

Kemudian, di tahun 2017, dirinya mencoba bangkit kembali dengan mencoba membuat kopi luwak. Karena kebetulan saat itu sedang panen kopi, sehingga musang peliharaannya pun diberi  makannya kopi.

Baca Juga : Disukai Luar Daerah, Kopi Luwak Patroman Kurang Diminati di Banjar

Perjalanan Sebelum Buka Cafe Silogisme Kopi Patroman Roastrery

Sebelum membuka Cafe Silogisme Kopi Patroman Roastrery, pada waktu itu Husni tidak memiliki modal besar untuk membeli biji kopi.

Dirinya mengaku hanya punya modal Rp 50 ribu untuk membeli biji kopi dari petani. Meski begitu, biji kopi yang dibelinya itu kemudian diproses dan bisa berhasil sampai ke penjualan.

“Tapi saat itu belum punya merek, yang penting terjual dulu. Saat itu kopi luwak yang diproses sendiri dijual dengan harga 130 ribu rupiah per 100 gramnya,” ungkap Husni.

Dari situlah dirinya mencoba memutar uang yang didapatnya untuk dijadikan tambahan modal pembelian biji kopi ke petani. Sambil me-review nama produk dari kopi luwak, akhirnya Husni dan teman-temanya menemukan nama yang cocok, yaitu Pataruman Kopi. 

Kopi luwak produksinya itu dipasarkan dengan bahan seadanya. Kala itu Husni hanya memiliki 300 gram kopi luwak, dan terjual dengan harga Rp 500 ribu.

Pendapatannya kembali diputar untuk menambah modal pembelian biji kopi, sambil mengumpulkan peralatan yang dibutuhkan, seperti alat penggilangan kopi.

Karena dalam menggiling kopi, Husni melakukannya dengan cara manual, yaitu menggunakan cowet atau ulekan. Sedikit demi sedikit akhirnya peralatan yang dibutuhkan mulai terbeli. Bahkan, perizinan usahanya pun sudah diurus.

Namun, dalam menggeluti usahanya itu, Husni sempat beberapa kali gulung tikar. Kedai kopi yang pertamanya dibuka di Toserba Pajajaran lantai 2. Dari situ ia buka lagi di Rest Area Banjar.

“Tapi, dari itu semua kita gulung tikar, karena persaingan semakin ketat dan manajemen strategi belum memahami, termasuk juga belum punya modal,” tuturnya.

Baca Juga : Berawal Sebagai Pecinta Hewan Musang, Pemuda Banjar Ini Kini Produksi Kopi Luwak

Kembali ke Basecamp Tempat Produksi Kopi Luwak

Setelah melewati sekelumit pejalanan usahanya di dunia perkopian, Husni dan teman-temannya akhirnya kembali lagi ke kontrakan yang selama ini menjadi basecamp untuk memproduksi kopi luwaknya.

“Kita buka seadanya di basecamp, ada pembeli atau tidak, kita tetap membuka, sampai akhirnya kita diusir oleh pemilik kontrakan karena belum membayar kontrakan,” kenang Husni.

Setelah  diusir, Husni dan teman-temannya pindah ke depan Toko Alpin, lokasinya dekat dengan tempat usaha cafenya sekarang. Di situ Husni dan teman-temannya mulai bertarung lagi menguji kemampuannya bersaing dengan kopi produk ternama.

“Alhamdulillah, ternyata kita mampu bersaing dan kita mempertahankan kualitas rasa. Sampai sekarang kita bisa seperti ini. Mempunyai cafe Silogisme Kopi Patroman Roastrery yang tempatnya lumayan bagus menurut saya. Semua ini didapatkan dengan melewati perjalanan yang panjang,” ucapnya.

Husni juga akan tetap mempertahankan kualitas kopi luwak yang diproduksi bersama teman-temannya, dari awal panen, pasca panen, hingga proses rosting. Tidak akan menggunakan produk lain atau membeli produk kopi orang lain.

Buka Kursus Bidang Barista

Selain menyajikan minuman kopi, di Cafe Silogisme Kopi Patroman Roastrery juga membuka kursus di bidang barista, tata boga, dan injeksi sepeda motor.

“Kursusnya baru ada tiga jurusan untuk sekarang. Tapi untuk kedepanya kita beharap bisa mendirikan perguruan tinggi di Kota Banjar, dengan memiliki beberapa jurusan seperti tata boga, bidang perhotelan, tekhnik di FI, dan FISIP,” ujar Husni.

Sebelumnya Husni adalah seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Siliwangi (Unsil). Ia juga seorang aktifis mahasiswa.

Karena sudah mearsa lelah, Husni pun mulai berfikir bagaimana menempuh cara hidup yang baru dan jati diri yang lebih baik. Akhirnya ia pun terjun dalam dunia usaha perkopian. (Aji/R3/HR-Online)

Loading...