Di Tengah Pandemi Covid-19, Kasus DBD di Banjar Meningkat Cukup Drastis

Di Tengah Pandemi Covid-19, Kasus DBD di Banjar Meningkat Cukup Drastis
Di tengah pandemi Covid-19, kasus DBD di Banjar meningkat cukup drastis. Foto:Ilustrasi/Net

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Di tengah situasi pandeemi Covid-19, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kota Banjar, mengalami peningkatan cukup drastis, bahkan angkanya mencapai ratusan.

Berdasarkan data yang disampaikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjar, terhitung dari Januari sampai 10 Juni 2020, tercatat ada 120 kasus DBD. Sementara untuk kasus demam dengue (DD) ada 566 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Banjar, dr. H. Agus Budiana, mengatakan, ada peningkatan jumlah kasus DBD di Kota Banjar. Dari lonjakan kasus tersebut, paling tinggi terjadi di bulan Maret dengan jumlah temuan sebanyak 37 kasus.

“Untuk DBD 120 kasus dan DD 566 kasus. Jumlah seluruhnya mencapai 686 kasus, dua diantaranya meninggal dunia,” terangnya, kepada Koran HR, Senin (30/06/2020).

Adapun dari 120 kasus tersebut, data persebarannya untuk Kecamatan Banjar terdapat 54 kasus, Kecamatan Pataruman 35 kasus, Kecamatan Purwaharja 18 kasus, dan Kecamatan Langensari 13 kasus, totalnya 120 kasus.

Meski demikian, kata Agus, kasus tersebut belum bisa dimasukan dalam kategori kejadian luar biasa (KLB). Karena, ada beberapa persyaratan untuk menaikan status KLB, diantaranya lonjakan kasus yang terjadi mencapai 200 persen atau lebih dalam satu periode.

Selain itu, kasus kematian DBD di Banjar juga meningkat dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Setelah itu baru ditetapkan sebagai KLB oleh kepala daerah melalui surat keputusan.

“Jadi ada prosedurnya, karena nanti akan berimplikasi pada biaya perawatan pasien. Sebagai upaya preventive, kami terus berupaya melakukan tindak pencegahan tentang pemberantasan sarang nyamuk atau PSN, dan PHBS melalui Puskesmas pembantu,” katanya.

Adapun untuk fogging, imbuh Agus, upaya itu akan dilakukan sebagai tindakan preventif terakhir, setelah dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) di lapangan oleh tim petugas.

“Fogging itu dilakukan setelah ada temuan kasus dan penyeledikan epidiomologi. Dari hasil penyelidikan, kemudian baru bisa dilakukan fogging,” pungkasnya. (Muhlisin/Koran HR)

Loading...