Efek Kurang Tidur dan Dampaknya pada Otak dan Tubuh

Efek Kurang Tidur dan Dampaknya
Ilustrasi Efek Kurang Tidur. Foto: Ist/Net

Tahukah Anda jika efek kurang tidur bukan sekedar terganggunya aktivitas kerja Anda. Kondisi kurang tidur ternyata sangat berbahaya terhadap otak, mengganggu imunitas tubuh, dan membuat tubuh rentan terkena serangan penyakit.

Anda perlu tidur sebanyak Anda membutuhkan untuk bernafas dan makan. Saat tidur, tubuh akan sibuk merawat kesehatan fisik dan mental serta membuat Anda siap untuk hari berikutnya.

Pada anak-anak dan remaja, hormon yang mendorong pertumbuhan dilepaskan selama tidur. Hormon-hormon ini membantu membangun masa otot, serta melakukan perbaikan sel dan jaringan. Termasuk mengganti sel-sel yang telah mati.

Tidur sangat penting untuk pengembangan selama masa pubertas. Dampak dan efek kurang tidur membuat otak Anda tidak dapat berfungsi dengan baik. Ini dapat mempengaruhi kemampuan kognitif dan membuat Anda berada dalam gangguan emosional.

Tanda-tanda dari kurang tidur adalah mengantuk berlebihan, sering menguap, dan mudah tersinggung. Kurang tidur kronis dapat mengganggu koordinasi, keseimbangan, dan kemampuan pengambilan keputusan. Anda berisiko jatuh tertidur di siang hari, bahkan jika melawannya.

Efek Kurang Tidur pada Otak dan Syaraf

Kurang tidur berbahaya bagi kesehatan mental dan fisik Anda. Kondisi ini juga dapat secara dramatis menurunkan kualitas hidup Anda. Berikut ini beberapa efek kurang tidur pada otak dan syaraf yang wajib Anda tahu.

Sistem Pernapasan

Kurang tidur dapat melemahkan sistem imunitas tubuh dan membuat Anda lebih rentan terhadap gangguan pernapasan seperti influenza. Jika Anda sudah memiliki penyakit paru-paru kronis, kurang tidur cenderung membuatnya lebih buruk.

Sistem Pencernaan

Menurut Harvard Medical School, beberapa studi menemukan hubungan antara efek kurang tidur dan berat badan. Kurang tidur adalah salah satu faktor risiko obesitas selain makan terlalu banyak dan tidak berolahraga.

Produksi hormon stres kortisol pun akan meningkat akibat kurang tidur. Di samping itu kadar hormon yang disebut leptin menurun. Hormon ini yang memberitahu otak bahwa Anda sudah cukup makan. Selain itu, meningkatkan kadar yang disebut ghrelin biokimia, yang merupakan perangsang nafsu makan.

Sistem Saraf Pusat

Sistem saraf pusat adalah jalan raya bagi tubuh Anda. Tidur diperlukan agar sistem saraf pusat tetap berfungsi dengan baik. Selama tidur, otak neuron sibuk dan membentuk jalur baru sehingga Anda siap untuk pagi harinya.

Efek kurang tidur dapat membuat otak kehabisan berpikir sehingga tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik. Selain rasa kantuk, lesu, sering menguap, kurang tidur akan mengganggu berkonsentrasi dan berdampak pada memori otak.

Hal ini juga dapat membuat Anda lebih rentan terhadap cedera karena jatuh di perjalanan. Menurut National Heart, Lung, and Blood Institute, kurang tidur telah memainkan peran penting dalam kecelakaan tragis yang melibatkan pesawat terbang, kapal, dan bahkan kebocoran reaktor nuklir.

Sistem Kekebalan Tubuh

Ketika tidur, sistem imun memproduksi sel sitokin pelindung dan antibodi melawan infeksi. Sitokin dan zat pelindung lainnya juga membantu Anda tidur dan memberikan lebih banyak energi untuk mempertahankan kekebalan tubuh terhadap penyakit.

Efek kurang tidur akan membuat sistem kekebalan tubuh Anda tidak memiliki kesempatan membangun pasukannya. Studi menemukan jika Anda tidak cukup tidur, itu bisa menyebabkan tubuh Anda tidak akan dapat menangkis serangan.

Kondisi ini juga dapat membawa Anda lebih lama untuk pulih dari penyakit. Kurang tidur jangka panjang meningkatkan risiko Anda terkena penyakit kronis seperti penyakit diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Memperburuk Penyakit Kronis

Orang-orang dengan hipertensi, menurut Harvard Medical School, satu malam tanpa tidur yang cukup dapat menyebabkan tekanan darah tinggi sepanjang hari berikutnya.

Tidur berperan penting meningkatkan kemampuan tubuh untuk memperbaiki pembuluh darah dan jantung. Efek kurang tidur dapat menyebabkan risiko lebih tinggi masalah kesehatan kronis seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan stroke. (R11/HR-Online)