Kontroversi Hari Lahir Pancasila, Siapa yang Merumuskan Dasar Negara?

kontroversi hari lahir Pancasila
Potret Nugroho Notosusanto, sejarawan yang menimbulkan kontroversi hari lahir Pancasila. Foto: Ist/Net

Kontroversi hari lahir Pancasila, siapa sebenarnya yang merumuskan Pancasila, Moh. Yamin atau Sukarno?

Pada masa kepemimpinan Suharto di era Orde Baru, apa pun yang berbau Sukarno mesti ditiadakan, salah satunya peringatan hari lahirnya Pancasila. Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni hingga sekarang rupanya pernah dilarang oleh Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Kemanan dan Ketertiban) di zaman itu.

Alasannya pun sederhana yaitu tanggal 1 Juni bukan hari lahir Pancasila, dan penggali pancasila bukanlah Sukarno, melainkan Moh. Yamin yang dirumuskan pada tanggal 29 Mei 1945. Hal ini disepakati berdasarkan temuan ilmiah sejarawan ABRI bernama Nugroho Notosusanto.

Sudah barang tentu peristiwa ini mengundang kontroversial, dan memicu timbulnya pendapat beberapa pakar sejarah di Indonesia yang menentang temuan Nugroho tersebut.

Peristiwa ini pun semakin ramai diperbincangkan hingga akhir kejayaan Orde Baru pada tahun 1998. Lantas bagaimana sejarah hari lahir Pancasila yang sesungguhnya? Selengkapnya silakan simak penjelasan di bawah ini.

Kontroversi Hari Lahir Pancasila Berawal dari Penelitian Sejarawan ABRI

Slamet Soetrisno dalam bukunya yang berjudul “Kontroversi dan Rekonstruksi Sejarah” (2006:  2), mengungkapkan bahwa terdapat guru besar UGM bernama Notonagoro yang berusaha meluruskan sejarah Pancasila sebagaimana mestinya. 

Usaha ini didorong ketika beliau sedang menjabat sebagai pendiri Fakultas Filsafat pada tahun 1967. Slamet Soetrisno memiliki misi ilmiah yaitu mengembang filsafat Pancasila yang independen.

Baca Juga: Sejarah Hari Lahir Pancasila Lain dengan Hari Kesaktian Pancasila

Menurut Notonagoro sejarah Pancasila itu harus diluruskan berdasarkan pada fakta-fakta yang valid. Hal ini menyinggung tulisan yang kontroversial dari seorang sejarawan ABRI bernama Nugroho Notosusanto.

Sejarawan tersebut menulis buku tipis berjudul “Naskah Proklamasi jang otentik dan Rumusan Pancasila jang otentik” yang diterbitkan oleh Pusat Sejarah ABRI, Departemen Pertahanan-Keamanan, pada tahun 1971. Dari buku tipis itulah awal mula kontroversi hari lahir Pancasila.

Adapun menurut Asvi Warman Adam dalam artikel ilmiah LIPI berjudul “ Akhiri Kontroversi Lahirnya Pancasila” (LIPI: 2019), menyebut bahwa isi dari buku tersebut telah menimbulkan statement yang kontroversial di kalangan sejarawan-sejarawan Indonesia terkemuka, termasuk Notonagoro.

Nugroho dalam bukunya menyebut bahwa penggali Pancasila bukanlah Sukarno, melainkan Moh. Yamin dan Supomo. Selain itu Nugroho juga telah memasukkan teori baru bahwa tanggal 1 Juni bukanlah hari lahirnya Pancasila.

Maka dari peristiwa itulah wawasan sejarah kita telah dicemari, seperti di setiap mata pelajaran sekolah: (Penataran P4), dan buku-buku sejarah kebangsaan Indonesia yang terbit pada masa Orde Baru, ungkap Slamet Soetrisno (2006: 3).

Sejarah Hari Lahirnya Pancasila Menurut Nugroho Notosusanto

Salah satu isi penelitian Nugroho Notosusanto adalah membedakan Pancasila 1 Juni 1945 dengan Pancasila yang dikarang Moh. Yamin pada 29 Juni 1945, demikian juga dengan Pancasila 18 Agustus 1945 yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Inilah yang kemudian jadi kontroversi hari lahir Pancasila.

Nugroho berusaha memisahkan Pancasila Sukarno di dalam Pembukuan UUD 1945. Bahkan ia mengatakan bahwa sila kedua Pancasila gagasan Sukarno yaitu “Peri Kemanusiaan atau Internasionalisme”, mudah diinterpretasikan sebagai internasionalismenya kaum komunis.

Hal ini dinyatakan Nugroho sesuai dengan pada apa yang ia pegang dan dianggap fakta sejarah, yakni pidato lisan dan lampiran tertulis Moh. Yamin di depan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) pada tanggal 29 Mei 1945.

Pidato itu termuat dalam buku Moh, Yamin berjudul “Naskah Persiapan UUD 1945, jilid I” yang isinya berasal dari risalah rapat-rapat BPUPKI/PPKI pada tahun 1945. Oleh Nugroho Notosusanto buku itu dianggap sebagai sumber primer, sementara Slamet Soetrisno (2006: 4), menyebut buku itulah yang dipakai sebagai sumber tunggal dalam penelitian sejarah Pancasila versi Nugroho.

Sejarah Hari Lahirnya Pancasila Diluruskan Sejarawan UI

Sejarah hari lahir Pancasila yang ‘bengkok’ itu kemudian diluruskan oleh para sejarawan. Menurut Asvi Warman Adam (LIPI: 2009), manuver sejarah yang pada awalnya bersumber dari pusat sejarah ABRI itu kemudian ditentang sejarawan dan para pelaku sejarah. Ananda B. Kusuma sejarawan terkemuka dari Universitas Indonesia, menentang penelitian Nugroho Notosusanto yang menimbulkan kontroversi hari lahir Pancasila.

Hal ini sebagaimana beliau tulis dalam makalah berjudul “Menelusuri Dokumen Historis Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan” berdasar notulen yang telah ditemukan kembali 1989  bernama Pringgodigdo Archief dari Belanda. Lantas ia mengatakan tidak benar bahwa Moh. Yamin yang pertama mengungkapkan dasar negara Pancasila.

Selain itu, Moh. Yamin sendiri mengakui bahwa Sukarno sebagai penggali Pancasila. Kemudian Panitia Lima yang diketuai Hatta juga mengakui Sukarno yang pertama berpidato tentang Pancasila. Lantas apakah penelitian Nugroho Notosusanto tidak valid? Hal inilah yang perlu dipertanyakan. Mengapa membengkokan sejarah sehingga ada kontroversi hari lahir Pancasila? (Erik/R7/HR-Online)