Kamis, Agustus 18, 2022
BerandaBerita BanjarPawai Alegoris Kota Banjar Tahun 2020 Ditiadakan

Pawai Alegoris Kota Banjar Tahun 2020 Ditiadakan

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Pawai Alegoris Kota Banjar tahun 2020 terpaksa ditiadakan. Hal ini lantaran wabah Corona yang masih belum ada tanda-tanda menghilang.

Pawai Alegoris atau pesta rakyat di Kota Banjar ini biasanya digelar untuk memeriahkan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Aditya Nugraha, Plt Kabid Pariwisata Kota Banjar, mengatakan, Pawai Alegoris yang biasanya digelar untuk memeriahkan kemerdekaan, kemungkinan tahun ini tidak dilaksanakan.

Hal ini karena mengikuti kebijakan dari pemerintah untuk menghindari kerumunan massa yang berisiko pada penularan virus Corona.

Anggaran untuk kegiatan pawai juga dialihkan untuk yang lebih penting, yaitu untuk kesehatan juga untuk dana COVID-19.

“Hal ini memang masuk akal, yang namanya pertunjukan nggak bisa jaga jarak tetap saja mengundang massa banyak,” ujarnya, Rabu (22/7/2020).

Menurut Aditya, bukan hanya Pawai Alegoris Kota Banjar tahun 2020 yang ditiadakan, wabah Corona juga membuat sekolah-sekolah diliburkan.

“Tempat usaha seperti toko, café juga dibatasi jam bukanya, saya juga merasa prihatin melihat kondisi seperti ini. Mudah-mudahan tahun depan berbagai kegiatan bisa kembali normal, walaupun tidak ada yang tahu kapan pandemi ini akan berakhir,” katanya.

Saat ini, lanjut Aditya, semua pihak terkena imbas dari pandemi Covid-19. Namun yang terpenting, kata Aditra adalah tetap menjaga kesehatan dan tidak berkumpul untuk memutus penularan COVID-19.

“Kita harus menaati peraturan dari pemerintah, seperti menggunakan masker, rajin cuci tangan, dan berjaga jarak. Kami berharap masyarakat bisa hidup normal kembali, tetapi mungkin untuk sekarang agak berbeda, misalnya dengan adanya New Normal,” jelasnya.

Aditya menambahkan, menjaga kesehatan sangat penting di masa pandemi Covid-19, lantaran apabila satu orang terinfeksi Corona, maka efeknya bisa dirasakan juga oleh keluarga.

“Misalnya ada seorang kepala keluarga yang reaktif,  maka satu keluarga bakal terkena imbasnya, seperti misalnya pendapatan untuk membiayai dan menghidupi keluarga bisa terhambat,” terang Aditya. (Aji/R7/HR-Online)