Pembiasan Cahaya dan Sejarah Penemuannya

Pembiasan Cahaya
Ilustrasi pembiasan cahaya. Foto: Net/Ist

Pembiasan cahaya merupakan teori fisika dasar yang kemudian digunakan untuk pengembangan bidang optika. Pembiasan ini dalam teori biasanya dipelajari oleh siswa SMP.

Secara pengertian, ilmu dasar optik yang biasa disebut refraksi ini merupakan peristiwa beloknya arah rambat sinar yang disebabkan oleh perbedaan medium.

Terdapat dua hukum yang menjelaskan teori ini, yaitu sinar datang garis normal, dan cahaya bias yang terletak pada satu bidang datar.

Kedua, pembagian antara sudut segitiga atau biasa disebut sinus cahaya datang dan bias yang menghasilkan suatu nilai yang kemudian disebut indeks bias.

Indeks bias sendiri adalah besaran yang menunjukan perbandingan kecepatan cahaya pada ruang vacum dan menjadi dasar ukuran teori ini.

Pelajaran fisika biasanya mencontohkan dengan pensil yang terlihat tidak lurus saat dimasukan ke dalam gelas yang berisi air.

Baca juga: Polusi Cahaya Mengancam Kehidupan Ekosistem Bumi, Waspadalah!

Proses Pembiasan Cahaya

Pada dasarnya setiap medium memiliki indeks yang berbeda-beda, yang dimaksud medium di sini adalah sesuatu yang merambatkan cahaya.

Perbedaan indeks bias ini yang menyebabkan pensil dalam gelas yang mengandung air terlihat berbelok, dan cahaya pada medium udara dan medium air berbeda.

Cahaya memiliki karakter atau sifat tersendiri, yaitu merambat secara lurus pada kondisi normal dengan arah rambat A – B – C.

Tetapi berbeda ketika cahaya melewati media memiliki indeks bias berbeda, seperti contoh pada udara , karena nilai bias lebih kecil maka arah rambatnya menjadi A–B–D.

Contoh lainnya, pembiasan cahaya juga terjadi pada air laut yang terlihat dangkal, pembiasan pada lensa dan berlian yang terlihat berkilau.

Dalam kehidupan sehari-hari, salah satu cabang ilmu fisika ini sering digunakan pada lensa kacamata, teleskop atau kamera.

Seperti kacamata, ilmu optik memanfaatkan konsep ini untuk menghitung lensa cekung atau cembung untuk menciptakan bayangan yang sesuai pandangan mata.

Atau halnya kamera, setiap ponsel yang diterbitkan pasti memiliki alat perekam tersebut, dan tentunya konsep sudah banyak dimanfaatkan melalui camera.

Sejarah Penemuannya

Dalam pelajaran fisika, penemu teori ini adalah Willebrord Snellius (1580 – 1626), bahkan disebutkan bahwa ialah pencetus dasar optika ini.

Perkembangannya terjadi saat masa Renaissance atau biasa disebut zaman pencerahan bangsa Eropa, di mana masa itu banyak ilmu pengetahuan berkembang.

Snellius adalah seorang ahli matematika berkebangsaan Belanda dan seorang astronom, dialah yang menjelaskan proses pembiasan cahaya dengan metode trigonometri.

Selain Snellius, terdapat ilmuwan lain yang meneliti dan mengembangkan teori ini, di antaranya Harriott (1560-1621), Keppler (1571-1626) dan Descartes (1596-1650).

Hampir semua pelajaran dalam bidang ini mendasarkan pada penemuan mereka, terlebih terhadap penemuan yang dilakukan oleh Snellius.

Tetapi, tahukah Anda siapa sebenarnya yang pertama kali menemukan teori pembiasan cahaya?, yang ternyata bukan mereka semua.

Penemu Pertama

Jauh sebelum Snellius dan lainnya, sampai saat ini masih diyakini sebagai penemu pembiasan cahaya adalah seorang muslim bernama Abu Sa’ad Al-‘Ala Ibnu Sahal.

Ibnu Sahal telah melakukan penelitian perihal sinar sejak 673 tahun sebelum Snell, dan telah mengabadikannya dalam Kitab al-Harraqat (Benda-benda yang membakar).

Ia merupakan ahli matematika asal Persia yang banyak memberikan pengetahuan pada masa keemasan Islam di Baghdad dalam bidang sains ini.

Sayangnya pengetahuan ini tidak banyak diketahui, bahkan seperti hilang seiring runtuhnya masa kejayaan Islam.

Meskipun demikian, sejarah ini sudah menjadi perdebatan panjang di Eropa, berawal dari penelitan Rashed Roshid, seorang peneliti Prancis terhadap kitab Sahal pada 1990.

Dari penelitian tersebut ditemukan sebuah diagram yang dibuat olehnya, di mana diagram tersebut dijelaskan perbandingan indeks pembiasan yang menghasilkan sebuah konstanta.

Dengan konstanta itu, Ibnu Sahal menjelaskan proyeksi arah pembiasan sebuah berkas sinar melalui sebuah lensa dengan akurat.

Penemuan ini digunakan para ilmuwan untuk membantah bahwa Snell adalah penemu teori ini. Namun perdebatan dan bangunan sejarah yang sudah terlampau lama membuat perdebatannya terus berlanjut.

Sampai saat ini, teori pembiasan cahaya masih didasarkan kepada penemuan Snell, meskipun teori yang lebih banyak digunakan lebih mengacu kepada penemuan Ibnu Sahal. (Muhafid/R6/HR-Online)

Loading...