Penelitian Ular Bisa Terbang, Bagaimana Caranya Bertahan di Udara?

penelitian ular bisa terbang
Ilustrasi penelitian Ular Bisa Terbang. Foto Istimewa

Penelitian ular bisa terbang ini memang dirasa mengejutkan dilakukan. Sepertinya, di tahun 2020 ini banyak sekali kejutan mengenai beberapa fenomena yang terjadi.

Salah satunya adalah fenomena ular yang bisa terbang. Para peneliti pun kini mulai meneliti hal yang mengejutkan tersebut.

Penelitian Ular Bisa Terbang

Tahun 2020 merupakan tahun yang unik. Terutama bagi para peneliti yang kini sedang melakukan risetnya terhadap fenomena yang baru.

Ular bisa terbang ini terjadi di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Sebenarnya hal ini tentu bukan hal yang mustahil dilakukan oleh beberapa jenis ular pohon.

Namun, tampaknya para ahli tertarik untuk meneliti tentang kebiasaan mengudara tersebut. Mereka ingin mengetahui bagaimana hewan melata tersebut dapat mengudara sekian lama.

Baca juga: Jenis Tanaman Pengusir Ular, Cocok Ditanam di Pekarangan Rumah

“Saat terbang, ular meluncur dengan menggunakan undulasi udara,” studi di jurnal Nature Physics. Ular memiliki gerakan snaky yang dapat membantu dalam menstabilkan tubuh mereka.

Penelitian ular bisa terbang ini juga dapat memungkinkan ular untuk dapat meningkatkan jarak luncur mereka. Sehingga, hal ini juga dapat dikatakan sebagai gerakan berenang di udara.

Proses Terjadi Fenomena Ular Terbang

Seperti yang sudah dilihat mengenai habit hewan melata tersebut, jika proses “terbang” sebenarnya adalah sebuah proses meluncur ular pohon tersebut.

Mereka melakukan habit tersebut dengan cara menyebar atau membentangkan tulang rusuk, sehingga dapat memberikan perlawanan terhadap angin yang lebih besar.

Para peneliti pun merekam kejadian ular terbang di Kutub serta menangkap setiap gerak ular tersebut demi mendapatkan kesimpulan dari penelitian.

Menurut penelitian ular bisa terbang dan riset dari National Geographic, spesies ular mampu “terbang” atau meluncur dengan jarak 330 kaki yang setara seratus meter. Mereka melakukannya dalam meluncur dari ranting ke ranting.

Namun, bagaimana ular yang termasuk hewan melata tersebut mampu meluncur sejauh itu layaknya burung?

Sebuah Penemuan Studi Baru

Sebuah study dengan memakai video 3D yang belum pernah terjadi sebelumnya itu mampu “terbang” dan mengatur dirinya sendiri.

Terdapat lima spesies Chrysopelea, yakni spesies ular yang telah diamati memutar tulang rusuk mereka serta meratakan tubuh di udara seperti apa yang sudah dijelaskan di atas.

Akan tetapi, ular ini tidak mampu sepenuhnya menjelaskan bagaimana mampu mengendalikan keturunan mereka.

“Ular lain mampu melakukan hal yang sama juga (meratakan tubuh),” kata Jake Socha, ahli dalam bidang biologi di Virginia Tech.

Hal ini dapat juga diamati dari spesies Cobra yakni King Kobra yang bisa meratakan kerudung mereka untuk melakukan pertahanan diri (defensif) dari predator.

Penelitian ular bisa terbang ini juga dijelaskan dalam artikel Scitechdaily.com tentang habit hewan Viper yang mampu melakukan hal yang sama untuk melindungi diri dari pemangsa.

Dalam langkah mengetahui faktor lain yang memungkinkan ular mampu meluncur tersebut, Socha dan juga kawan-kawannya memakai empat kamera. Kamera-kamera tersebut dipakai untuk merekam empat ular terbang ketika mereka melompat.

Lompatan terjadi dari sebuah menara dengan ketinggian lima lantai ke menara yang lebih rendah dengan jarak beberapa meter di sampingnya.

Kemudian Socha dan timnya memakai komputer 3D dalam menganalisa posisi tubuh hewan reptil tersebut selama melakukan penerbangan.

Gambar dan model yang didapat mengungkapkan jika ular mampu memposisikan tubuh pada sudut 25 derajat. Sudut tersebut mereka buat saat benar-benar jatuh, mulai dari kepala atas dengan posisi ekor ke bawah.

Ular Terbang dengan Gerakan Twist

Penelitian ular bisa terbang ini juga diperoleh pada spesies Chrysopelea yang mampu tumbuh mencapai 1,2 meter. Mereka juga dapat memegang tubuh dalam konfigurasi berbentuk huruf S saat meluncur. Posisi twisty ini dapat membantu mereka agar tetap tinggi di udara.

Baca juga: Hewan Purba yang Belum Punah Sampai Sekarang, Apa Saja?

“Penelitian yang kami lakukan menunjukkan jika dengan konfigurasi S, ular dapat mengangkat lebih banyak daripada posisi lurus” kata Socha.

“Bagian depan ular dapat menciptakan sebuah gerakan yang berinteraksi dengan mengangkat bagian belakang tubuh mereka,” lanjutnya.

Hal seperti ini juga mirip dengan gerakan yang ada pada angsa terbang dengan membentuk huruf V. Bentuk yang dihasilkan oleh angsa tersebut dapat mengakibatkan posisi terbang marginal yang lebih mudah langsung dari bagian belakang dan seterusnya.

Setidaknya, dengan penelitian ular bisa terbang yang dilakukan oleh para ahli biologi ini mampu menjawab misteri atau fenomena ular tersebut mampu bertahan lebih lama di udara. (R10/HR-Online)