Presiden Soekarno Wafat, Hari-hari Terakhir Sang Proklamator yang Tragis

Presiden Soekarno Wafat
Pemakaman presiden Soekarno. Foto: Istimewa/Net

Presiden Soekarno wafat pada 21 Juni 1970. Soekarno yang dikenal lantang berpidato, dan tegas dalam mengambil keputusan, ketika genap berusia 69 tahun, dirinya hanya tergolek lemas dan tak bernafas lagi.

Menurut hasil lab dokter, Soekarno wafat karena menderita penyakit ginjal akut yang sudah lama diidapnya. Akhirnya karena kondisi Soekarno melemah, ia pun wafat di rumah sakit RSPAD Gatot Soebroto Jakarta.

Akan tetapi dibalik kisah wafatnya yang penuh dengan duka, terdapat kisah tragis yang menyelimuti sang proklamator di usia senjanya.

Beberapa sejarawan mengungkapkan, ketika Soekarno menderita sakit ginjal parah selama menjadi tahanan politik, ia tidak mendapati perawatan dokter yang sesuai dengan standar medis kepresidenan. Sampai akhirnya presiden Soekarno wafat.

Hal ini bahkan dibenarkan oleh dokter pribadi Soekarno, bernama Mahar Mardjono. Mengutip buku Slamet Soetrisno berjudul “Kontroversi dan Rekonstruksi Sejarah” (2006: 35), mengungkapkan bahwa Mahar Mardjono pernah mengatakan “jadi, kalau ada yang mengatakan Bung Karno dibiarkan meninggal, saya tak terlalu menyalahkan pendapat tersebut”.

Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno dengan Ratna Sari Dewi yang Penuh Romantis

Lantas apa yang sebenarnya terjadi dengan Soekarno di usia senjanya? Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut, silahkan simak uraian di bawah ini.

Hari-hari Terakhir Sebelum Presiden Soekarno Wafat

Menurut Slamet Soetrisno, Soekarno pernah diduga terlibat sebagai dalang pembunuhan tujuh periwira ABRI yang terbagung dalam sebuah operasi militer bernama Gerakan 30 September (G30 S), atau dikenal dengan peristiwa Lubang Buaya.

G30 S, merupakan istilah untuk menyebut sebuah peristiwa pemberontakan yang membabi buta pada tahun 1965, dan dipimpin oleh Komandan Pasukan Pengaman Presiden (Tjakrabirawa) bernama Untung. Hal inilah yang menjadi penyebab utama kejatuhan Soekarno dari jabatannya sebagai presiden RI seumur hidup, yang selanjutnya digantikan oleh Soeharto sebagai presiden kedua RI.

Baca Juga: Tanggal Lahir Soeharto dan Sejarah Presiden Indonesia Kedua

Akan tetapi yang menarik untuk dibahas ialah pendapat Slamet Soetrisno. Menurutnya sesudah kejatuhan Presiden Soeharto pada tahun 1998, banyak riset yang membuktikan bahwa ternyata Soekarno tidak terbukti terlibat dalam peristiwa G30 S.

Setelah Presiden Soekarno wafat, ia justru ditetapkan sebagai Pahlawan Proklamator. Tragisnya terjadi sebaliknya pada Soeharto. Hingga kini Soeharto masih menghadapi opini publik yang menyudutkan dirinya.

Soekarno Didemo, Massa Menolak Bung Karno sebagai Presiden

Pasca terjadinya G30S sekitar tahun 1966 hingga 1967, ibukota dipenuhi aksi demonstrasi dengan tuntutan memberhentikan Soekarno dari jabatannya sebagai presiden. Adapun di dalam memorandumnya pada tanggal 23 Februari 1967, pemerintah Orde Baru menyimpulkan bahwa Soekarno telah terlibat G30 S.

Keberadaan Soekarno di Bandara Halim pada 1 Oktober 1965 bersama Brigjen Supardjo dan DN Aidit dikesankan sebagai bentuk kerjasama pembunuhan 7 Jenderal yang tidak pro kepada Soekarno, dan direncanakan dengan PKI.

Hal ini dinilai publik sebagai pembela PKI, terlebih ketika para jasad yang terbunuh dianggap Soekarno sebagai hal yang biasa di dalam revolusi.

Pendapat Soekarno kala itu membuat rakyat marah hingga tidak mempercayai lagi Soekarno menjadi Presiden. Tak lama setelah pengadilan dilakukan, akhirnya Soekarno ditetapkan menjadi tahanan politik di Wisma Yaso hingga akhir Presiden Soekarno wafat.

Peristiwa itu kini jarang ditampilkan di publik, padahal banyak menyimpan sejarah kelam perjalanan bangsa yang perlu diungkap lebih dalam.

Penyakit Ginjal yang Tak Tertangani dengan Baik

Semua peristiwa yang menimpa Soekarno saat ia sudah tak lagi menjadi presiden membuat kondisi kesehatannya semakin menurun.

Saat ia dirawat di Wisma Yaso, RSPAD, dan RS. Siti Khadijah Jakarta, para medis yang mencatat riwayat penyakit Soekarno membenarkan bahwa ia meninggal karena penyakit ginjal.

Adapun Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya di RSPAD, pada tanggal 21 Juni 1970 Jakarta. Dokter tak bisa berkata apa-apa ketika kondisi Soekarno sangat kritis. Soekarno menderita kesakitan karen ginjalnya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik.

Menurut kesaksian mantan dokter pribadi Soekarno, bernama Mahar Mardjono menyebut Presiden Soekarno wafat lantaran cara penanganan dokter yang cenderung lamban. Kekecewaannya itu Mahar ungkapkan dalam pernyataannya sebagai berikut “jadi, kalau ada yang mengatakan Bung Karno dibiarkan meninggal, saya tak terlalu menyalahkan pendapat tersebut”.

Tentu peristiwa ini menjadi tekateki hingga sekarang, sementara Soekarno hanya bisa pulang dengan tenang. Menurut Sulastro, St. (ed), dalam buku berjudul “Dialog dengan Sejarah: Soekarno Seratus Tahun” (2001: 166), mengungkapkan, sebelum Soekarno meninggal, ia sempat berkata bahwa pengorbanannya berhenti menjadi presiden dan berakhir sebagai tahanan politik ia relakan demi bangsanya. Perkataan itu muncul dengan lirih dan setiap kalimat yang penuh getar namun masih cukup terdengar.

Begitulah hari-hari terakhir menjelang Presiden Soekarno wafat. Di akhir masa hidupnya, sang proklamator ini melaluinya sebagai tahanan politik. (Erik/R7/HR-Online)