Proses KBM Secara Daring Rumit, Orang Tua Siswa Keluhkan Sistem PJJ

Proses KBM Secara Daring Rumit, Orang Tua Siswa Keluhkan Sistem PJJ
Belajar secara daring. Foto:Ilustrasi/Net

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Kebijakan sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan oleh pemerintah akibat wabah Covid-19, kini mulai dikeluhkan oleh sebagian orang tua peserta didik di Kota Banjar.

Seperti diungkapkan Siti Solihah (38), salah satu orang tua peserta didik di salah satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Banjar, bahwa semenjak diadakannya sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ), aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga mulai berkurang karena harus mendampingi anaknya saat mendapat tugas dari guru sekolahnya.

Selain itu, Siti juga mengaku sedikit terbebani ketika proses kegiatan belajar dilakukan secara daring, mengingat biaya pembelian untuk kuota tidaklah murah.

“Mesti gimana lagi, namanya juga untuk pendidikan anak ya mau tidak mau harus diusahakan. Kalau bisa pihak sekolah juga membantu pengadaan fasilitas penunjang belajarnya,” kata Solihah, kepada Koran HR, Selasa (21/07/2020).

Ia juga mengaku rumit mengikuti proses kegiatan belajar mengajar secara daring. Agar anak tetap belajar dan tidak ketinggalan mata pelajaran, akhirnya anaknya ikut les privat secara mandiri. “Ya biar ngga terlalu ribet, saya nyari pendamping belajar,” kata Siti.

Pembelian Kuota Bisa Gunakan Dana BOS

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banjar, H. Dahlan, melalui Kepala Bidang Dikdas, Ahmad Yani, mengakui memang ada kendala dalam pelaksanaan sistem pembelajaran jarak jauh (daring), terutama fasilitas handphone dan kuota internet untuk mengerjakan tugas KBM.

Sebetulnya, kata Yani, untuk pembelian kuota internet peserta didik bisa dianggarkan dari anggaran dana bantuan operasional sekolah (BOS). Namun, mengingat anggaran dana BOS sangat terbatas, maka orang tua siswa harus bisa mengusahakan pembelian kuota internet secara mandiri, demi keberlangsungan proses kegiatan belajar mengajar anak-anak peserta didik.

Yani meminta semua pihak, termasuk orang tua siswa, harus bisa menyadari kebijakan proses belajar mengajar yang diberlakukan oleh pemerintah saat ini sebagai imbas adanya wabah pandemi Covid-19.

“Anggaran dana BOS itu kan terbatas. Makanya sebisa mungkin pihak orang tua juga bisa mengupayakan internet secara mandiri,” ujarnya.

Yani juga mengatakan, apabila dalam kegiatan belajar mengajar via daring ini banyak orang tua peserta didik yang merasa keberatan karena terkendala fasilitas penunjang, pihak Disdik sudah mengarahkan kepada pihak sekolah supaya dilakukan pembelajaran secara luring, atau mendatangi peserta didik.

Ia mencontohkan, dalam satu kelas terdapat 20 siswa. Dari 20 siswa tersebut hanya lima siswa yang memiliki fasilitas handphone, maka siswa lainnya akan dibentuk kelompok belajar dengan bimbingan dari guru kelas masing-masing.

“Sistem belajarnya kan ada dua. Kalau tidak bisa mengikuti secara daring karena terkenadala fasilitas, ya silahkan mengikuti pembelajaran secara luring,” terang Yani.

Dampak Buruk Psikologis Anak

Selain adanya beberapa kendala dalam proses belajar mengajar jarak jauh, Yani juga tidak menyangkal bahwa sistem pembelajaran ini dapat membawa dampak buruk bagi psikologis perkembangan peserta didik, ketika nanti mereka kembali ke sekolah.

Dampak buruk itu misalnya tumbuh rasa malas, dan peserta didik menjadi merasa bebas karena selama ini tidak terikat peraturan yang ketat dari pihak sekolah.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Disdik bekerjasama dengan orang tua akan berupaya secara maksimal melakukan pendampingan dan pengawasan kepada peserta didik.

“Untuk mendatangkan psikolog kan tidak mungkin, karena jumlah siswa juga sangat banyak. Paling tidak kita maksimalkan pendampingan dan pengawasan,” pungkasnya. (Muhlisin/Koran HR)