Sejarah Bahari Indonesia, Menelusuri Teknologi Maritim Nenek Moyang

Sejarah Bahari Indonesia
Ilustrasi perahu bercadik sebagai bukti sejarah bahari Indonesia yang terkenal dengan kemajuan teknologi navigasi. Foto: Ist/Net

Sejarah bahari Indonesia berkaitan erat dengan sejarah nenek moyang Indonesia dalam dunia maritim. Mereka sudah dikenal mahir menggunakan navigasi pelayaran di samudera luas.

Para leluhur bangsa Indonesia dicatat sejarah sebagai kelompok masyarakat yang mampu menguasai samudera dengan bekal kemajuan teknologi perkapalan, keahlian navigasi, serta jiwa berusaha yang pantang menyerah.

Hal ini mendorong pengetahuan pelayaran dan perkapalan yang diperoleh sejak berabad-abad lamanya diteruskan dan dikembangkan secara turun temurun kepada setiap generasi ke genarasi penduduk di pesisiran Indonesia.

Misalnya pengetahuan tentang sistem angin setempat sehingga para pelaut bisa memanfaatkan tenaga angin dalam perjalananya di lautan lepas.

Keahlian itu terlihat ketika kita berada dalam lingkungan nelayan. Penduduk daerah pantai khususnya nelayan dapat mengetahui bahwa angin laut mulai bertiup pagi hari, sementara sore hari angin merubah haluannya sehingga akhirnya menjadi angin darat.

Oleh sebab itu para nelayan  berangkat melaut pagi-pagi dan kembali ke kampung pada sore hari. Menarik bukan? Selengkapnya yuk simak penjelasan berikut di bawah ini.

Sejarah Bahari Indonesia

Sejarah kebaharian nenek moyang Indonesia tak lepas dari tradisi melaut dari orang-orang yang berada di pesisir pantai. Hanya dengan bantuan angin saja, seorang pelaut Indonesia kala itu sudah bisa memegang kendali kapal. Berikut penjelasan selengkapnya:

Tradisi Melaut Pertama Orang Indonesia, Menggunakan Angin Muson

Nugroho Notosusanto dalam bukunya berjudul “Sejarah Nasional Indonesia 2” (1992: 87), mengungkapkan bahwa tradisi bahari bangsa Indonesia sudah lama menggunakan sistem angin yaitu “angin muson”. Angin ini sering bertiup di hampir seluruh pesisir Nusantara.

Sistem angin muson ini terjadi karena disebabkan oleh lokasi Indonesia yang cenderung berdekatan dengan lintas Khatulistiwa.

Dalam sejarah bahari Indonesia, tercatat kebiasaan nenek moyang Indonesia melaut dengan memanfaatkan perubahan arah angin. Di Nusantara angin Muson biasanya terjadi dalam bulan Oktober dari Maluku ke pusat-pusat perdagangan Ujung Pandang, Gresik, Demak, Banten, sampai ke Malaka dan Aceh.

Sedangkan dalam bulan Maret biasanya dilakukan sebagai perjalanan pulang ke arah Timur, seperti Maluku, Ambon, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Sejarah Budi Utomo, Organisasi Pergerakan Nasional Pertama Indonesia

Nugroho, (1992: 88), menyebut bahwa tradisi melaut yang mahir dengan menggunakan angin muson ini dibuktikan oleh laporan-laporan perjalanan pengunjung-pengunjung Eropa.

Para pelaut yang datang dari Eropa memerlukan bantuan Mu’alim Indonesia dalam perjalanan berlayarnya ketika ingin mengunjungi Nusantara.

Teknik Pembuatan Kapal di Nusantara Menunjukan Kemajuan Teknologi yang Berkembang

Sejarah bahari Indonesia yang dituturkan Nugroho Notosusanto (1992: 89), menyebut teknik pembuatan kapal pada jaman bahari telah menggunakan kajian teknologi dengan ukuran taraf yang tinggi. Hal ini dibuktikan oleh beberapa peninggalan tulisan oleh Portugis dan Belanda yang ditulis sejak abad ke-16 dan 17.

Tulisan tersebut menunjukkan bahwa tingkat teknologi kapal pada waktu itu sudah terbilang maju. Selain dari tulisan, bukti lain terdapat pada lukisan prasejarah yang terdapat dalam dinding-dinding gua yang melukis gambar perahu-perahu. 

Penelitian Elymart Jastro berjudul “Kajian Perahu Tradisional Nusantara di Museum Bahari, Jakarta Utara: Proses Produksi Pesan tentang Teknologi Perahu” yang diterbitkan Universitas Indonesia, tahun 2010 juga mencatat hal tersebut.

Penelitian tersebut menjelaskan perahu tradisional nusantara terdapat di berbagai wilayah di Indonesia. Pada awalnya perahu ini dibuat dengan pengalaman-pengalaman “Getok Tular” atau istilahnya dari mulut ke mulut yang diwariskan para leluhur.

Sejarah bahari Indonesia juga memperlihatkan jejak maritim nenek moyang, salah satunya melalui perahu yang dibuat dengan teknologi tinggi saat itu bernama perahu Lesung. Perahu ini terbuat dari satu batang kayu yang dikeruk bagian dalamnya seperti lesung dengan bentuk memanjang.

Untuk memperbesar isi ruangannya biasanya dinding lesung ini ditinggikan dengan papan. Sedangkan untuk mengontrol angin sekaligus alat navigasi dilengkapi dengan layar bercadik menyebelah yang dipasang di tengah perahu.

Penggunaan cadik adalah khas bagi jenis perahu yang berasal dari Indonesia. Bahkan metode perahu bercadik ini dicontoh oleh beberapa belahan dunia seperti, pesisir Afrika Timur, pulau Madagaskar di sebelah barat dan Polinesia sebelah timur.

Juru Mudi Kapal Pertama di Nusantara Disebut Mu’alim

Juru mudi kapal biasa dikenal dengan Nakhoda, akan tetapi berbeda hal nya dengan para Nakhoda di Nusantara, mereka disebut Mu’alim.

Dalam sejarah bahari Indonesia, dicatat bahwa Mu’alim (Nakhoda) hanya bertindak sebagai pelaksana melajunya sebuah kapal. Akan tetapi budaya nahkoda di Nusantara sedikit berbeda.

Baca Juga: Sejarah Peh Cun, Budaya Tionghoa yang Mengakar Kuat di Indonesia

Para mualim atau nahkoda di Nusantara biasanya memiliki saham atas kapal yang sedang ditungganginya. Oleh sebab itulah di dalam catatan sejarah Mu’alim tidak menerima gaji, melainkan mendapat upah dari sebagian hasil penjualan barang yang dimuatnya.

Selain mengatur lajunya kapal, mualim juga tercatat sebagai pemimpin yang paling bertanggungjawab dalam menentukan arah mata angin.

Mualim membawahi para pegawainya yang terdiri dari Tukang Tengah yang bertugas dibagian tengah kapal, Tukang Kiri, dan Tukang Kanan Kapal, dan Tukang Petak yang bertugas mengatur gulung tariknya layar yang berfungsi membantu Mualim dalam menentukan arah mata angin.

Begitulah sepenggal catatan sejarah bahari Indonesia. Dengan penjelasan di atas kiranya tepat apabila dalam sebuah lagu anak-anak Indonesia digambarkan nenek moyang adalah seorang pelaut. (Erik/R7/HR-Online)