Sejarah Jurnalistik di Indonesia: Mengenal Mas Marco Kartodikromo

Sejarah jurnalistik di Indonesia mas marco kartodikromo
Mas Marco Kartodikromo bagian dari sejarah jurnalistik di Indonesia. Foto: Ist/Net

Sejarah jurnalistik di Indonesia bisa diurutkan mulai dari awal berdirinya organisasi jurnalis pertama pada zaman Hindia-Belanda. Pada masa kolonial Belanda tersebut terdapat sosok lelaki bernama Mas Marco Kartodikromo.

Sejarah mencatat bahwa ia adalah satu-satunya orang yang paling berani mengkritik berbagai kebijakan pemerintah Belanda melalui tulisannya di kolom surat kabar.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai pelopor jurnalis terkemuka pada masa kolonial Belanda. Takashi Shirashi (Sejarawan Asing), menyebut Marco Kartodikromo sebagai Ksatria.

Julukan ini diberikan karena selain berani mengkritisi pemerintah, Marco juga berani mendirikan organisasi perkumpulan para jurnalis di Hindia Belanda.

Baca Juga: Sejarah Pariwisata Indonesia Berawal dari Kebijakan Turis Kolonial

Beragam tulisan yang berisi kritikan kepada pemerintah koloni kerap diterbitkan oleh Marco dalam surat kabar miliknya bernama Doenia Bergerak.

Hal inilah yang membuat Marco sering keluar masuk penjara karena dituduh sebagai jurnalis pemberontak. Lantas bagaimana sejarah petualangan jurnalistik Marco Kartodikromo pada zaman itu?

Sejarah Jurnalistik di Indonesia, Masa Keemasan Mas Marco

Mas Marco Kartodikrmo begitu nama lengkapnya. Marco lahir di Cepu sekitar tahun 1890 dari sepasang keluarga yang berasal dari golongan priyayi menengah. Ia lulus dari sekolah bumiputera Angka Dua di Bojonegoro dan sekolah swasta Bumiputera Belanda di Purworejo, Jawa Tengah.

Selepas lulus dari sekolah sekitar tahun 1905 Marco Kartodikromo kemudian melanjutkan bekerja pada sebuah perusahaan pemerintah dibagian Dinas Kehutanan, dan mengisi posisi sebagai juru tulis.

Akan tetapi karena sejak kecil Marco memiliki jiwa petualang yang tinggi dan memiliki keuangan yang cukup, akhirnya ia pindah ke Semarang dan bekerja pada perusahaan swasta Belanda.

Petualangan itu dilakukan Marco sambil belajar bahasa Belanda secara privat pada kolega sekantor yang notabene diisi oleh orang berkulit putih.

Baca Juga: H.O.S Tjokroaminoto, Guru Sukarno dan Tokoh Bangsa Lainnya

Sejarah jurnalistik di Indonesia juga dicatat oleh Takashi Shiaraishi dalam bukunya berjudul “Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926” (1990:110). Takashi menyebut Marco sebagai seseorang yang selalu ingin dipandang sama dengan orang-orang Belanda.

Bagaimana tidak, Takashi menyebut Marco sebagai golongan muda yang dididik sejak kecil oleh pendidikan gaya barat.

Meskipun dari segi kepandaian berbahasa Belanda di bawah rata-rata, tetapi Marco selalu tergila-gila dengan simbol-simbol modernitas dan tampil didepan umum dengan gaya Eropa seperti Sinjo. Hal inilah yang mendorong Marco sering bergaul dengan orang Eropa.

Kali Pertama Marco Kartodikromo Mengenal Dunia Pers

Pada tahun 1911, Marco meninggalkan pekerjaannya di Semarang. Lantas ia pergi menuju Bandung, dan bergabung dengan para pentolan surat kabar Medan Prijaji seperti Tirto Adhisoerjo dan Soewardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara).

Sejarah jurnalistik di Indonesia tak bisa dilepaskan dari petualangan Mas Marco. Saat berada di Bandung, Marco dimentori oleh dua tokoh pers tersebut sebagai peserta magang yang memulai karir awal dan menjadikannya jurnalis profesional.

Namun setelah surat kabar Medan Prijaji bangkrut, ia bergabung dengan surat kabar Sarotomo pada akhir tahun 1912, sebagai editor dan administrator, dan genap pada usia dua puluh dua tahun, Marco Kartodikromo terjun ke dunia pergerakan.

Marco Mendirikan Organisasi Jurnalis Pertama di Hindia Belanda

Tony Firman dalam jurnal sejarah berjudul “Marco Kartodikromo: Tokoh Jurnalis Pergerakan dari Blora” (Brawijaya, 2019: 3), menyebut Marco sebagai tokoh pejuang jurnalis pertama di Hindia Belanda (Indonesia sekarang).

Marco Kartodikromo mencatatkan sejarah jurnalistik di Indonesia dengan mendirikan organisasi perkumpulan jurnalis bumiputera pertama bernama “Inlandsche Journalisten Bond” (IJB). Perkumpulan tersebut didirikan di Surakarta pada pertengahan tahun 1914.

Selain mendirikan IJB, Marco kemudian membangun perusahaan surat kabar bernama Doenia Bergerak. Media ini ia gunakan sebagai corong propaganda menyuarakan kritik dan narasi perlawanan kepada pemerintah Belanda, bersama kawannya di IJB.

Adapun di dalam organisasi IJB Marco tercatat sebagai ketua, dan ditemani oleh Sosrokoernio yang menduduki jabatan sekretaris.

Selain itu, keuangan dalam organisasi IJB banyak diberikan oleh M. Haji Bakrie, pengusaha batik termaju di Kauman Surakarta sekaligus pemegang jabatan bendahara dalam organisasi IJB.

Sejarah jurnalistik di Indonesia berlanjut saat Mas Marco memberikan kritikan pedas nan tajam dalam Doenia Bergerak ditujukan kepada penasihat urusan bumi putera bernama D.A Rinkes. Marco membuat Rinkes merasa tercemarkan karena kritikannya yang pedas itu.

Karena kedudukan Rinkes saat itu tebilang penting, ia pun tak tinggal diam. Rinkes menjebloskan Marco dan kawan-kawan organisasinya ke pengasingan di Boven Digul hingga akhir hayatnya.

Begitulah sepenggal sejarah tentang Mas Marco Kartodikromo yang merupakan perjuangan pers dan sejarah jurnalistik di Indonesia. Semoga bermanfaat. (Erik/R7/HR-Online)

Loading...