Sejarah Peh Cun, Budaya Tionghoa yang Mengakar Kuat di Indonesia

Sejarah Peh Cun
Potret pemain perahu Peh Cun yang sedang berlomba dengan perahu berkepala naga sebagai bentuk memperingati Imlek di Indonesia. Foto: Ist/Net

Sejarah Peh Cun menarik untuk dibahas. Karena selain Barongsai, ternyata kebudayaan Tionghoa lain bernama Peh Cun ini mengakar kuat di Indonesia.

Peh Cun biasanya digelar dalam bentuk festival balapan perahu. Budaya ini dianggap penting dan sakral dalam kebudayaan orang-orang Cina di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Baca Juga: Sejarah Tembakau di Indonesia, Pernah Jadi Sumber Ekonomi Pribumi

Festival Peh Cun sering dirayakan di pinggir sungai di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Kelompok yang merayakannya berduyun-duyun membawa dan menunggangi perahu berkepala naga.

Orang Cina menyebut Peh Cun berasal dari bahasa Hoakkian yang berarti mendayung perahu. Maka dari itu kebudayaan Peh Cun adalah sebuah pertunjukan balap dayung perahu berkepala naga. Di Indonesia Peh Cun sering diadakan di Jakarta.

Akan tetapi, kebudayaan ini sebenarnya sudah ada jauh sebelum Indonesia seperti sekarang. Pada masa kolonial Belanda, pertunjukan ini sering digelar di kali Ciliwung dan sekitar jalah Gajah Mada Jakarta. Lantas bagaimana sejarahnya?

Asal Usul Sejarah Peh Cun

Olievier Johannes Raap dalam bukunya berjudul “Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe” (2013: 122), mengemukakan dirinya menemukan arsip Belanda yang menerangkan sepenggal sejarah tentang hari perayaan Peh Cun saat itu.

Menurut catatan Olievier, Hari Raya Peh Cun di Indonesia jatuh pada hari kelima imlek sekitar bulan Juni. Istilah Peh Cun itu sendiriberasal dari bahasa Cina Hoakkian, yang artinya (Mendayung Perahu).

Adapun menurut silsilahnya, perayaan ini dimaknai sebagai hari memperingati kematian Quan Yuan (343-278 SM). Ia merupakan seorang tokoh bersejarah di Tiongkok yang terjun ke sungai dan tenggelam.

Dalam sejarah Peh Cun, tercatat bahwa Peh Cun dirayakan oleh komunitas Tionghoa untuk mengingat Quan Yuan. Biasanya dilengkapi juga dengan makanan tradisional yaitu seperti Bakcang, Bakpao, dan kudapan lain yang diolah dengan resep tradisi leluhur Cina.

Sementara menurut Rosyadi dalam jurnal sejarah berjudul “Festival Peh Cun: Menelusuri Tradisi Etnis Cina di Kota Tangerang” (Patanjala, Vol. 2, No. 1 Maret 2010: 27), menjelaskan bahwa secara ritualnya Peh Cun, diawali dengan persembahyangan toan yang.

Persembahyangan ini dilakukan pada tengah hari di hari kelima bulan Juni atau dalam bahasa Cina disebut go gwee cee go.

Budaya Peh Cun Sekarang

Selain merayakan sebuah festival yang bernuansa kebahagiaan, perkembangan selanjutnya dalam sejarah Peh Cun adalah ternyata pesta ini juga dirayakan untuk memberikan makna persembahan kepada desa (Syukuran Desa).

Seiring dengan perkembangan zaman yang pesat, Rosyadi mengungkapkan bahwa kebudayaan Peh Cun saat ini sudah berbelok arahnya dengan Peh Cun yang dulunya dilaksanakan oleh suku Kung Wu dan Yue.

Kalau mulanya pesta Peh Cun ini merupakan persembahan untuk desa, akan tetapi di era sekarang pelaksanaannya sering dikaitkan dengan seorang tokoh di negeri Cina yang berasal dari keluarga dinasti Chouw. Hal ini jelas sudah menyimpang dari tujuan awal diadakannya kebudayaan Peh Cun yang padahal dilaksanakan karena merayakan syukuran desa.

Kebudayaan Peh Cun di Cina dimaknai Sembahyang kepada Tuhan

Sejarah Peh Cun di Cina mencatat perayaan Peh Cun sering dimaknai sebagai proses sembahyang terhadap Tuhan yang direpresentasikan kedalam Yang-ki atau matahari. Pada pertengahan hari di tanggal peringatan Peh Cun, orang Cina mengadakan ritual Toang Yang, yaitu sembahyang “eling” kepada Tuhan.

Adapun menurut maknanya, ritual ini dimaksudkan sebagai pengingat manusia agar selalu ingat bahwa ada kekuasaan Tuhan yang tidak boleh dilupakan dan tidak bisa di ingkari.

Ritual ini juga dimaknai sebagai permohonan manusia kepada Tuhan agar selalu diberi kekuatan dalam menghadapi berbagai cobaan hidup, serta selalu diberikan jalan keselamatan dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Baca Juga: Sejarah Rumah Belanda di Indonesia, Arsitektur Eropa di Iklim Tropis

Sebagai bagian dari sejarah Peh Cun, ritual ini biasanya dilaksanakan di Klenteng Boen Tek Bio atau di setiap rumah keluarga masing-masing dengan beragam bentuk  persembahan, khususnya berupa sesaji yang diisi dari buah-buahan lengkap. Setelah selesai membuat persembahan.

Biasanya pada saat itu juga dilakukan pergantian baju atau selimut bernama Empeh Pe Cun, yaitu sebuah kain yang menyelimuti perahu naga yang dikeramatkan oleh masyarakat Cina setempat.

Adapun sejarah mengenai Perahu Naga Empeh Pe Cun ini berangkat dari tahun 1900. Kala itu terdapat seorang Ksatria bernama Kapitan Oey Khe Thay.

Kapitan Oey menyumbangkan perahu naga hijau kepada Klenteng Boen Tek Bio. Pada tahun 1911 perahu ini diikutkan dalam lomba Peh Cun, akan tetapi perahu ini mengalami kendala dan patah pada bagian tengahnya. Kendatipun demikian perahu tersebut masih bisa melesat, dan akhirnya memenangkan lomba tersebut.

Maka dari itulah Perahu Empeh Pe Cun dikeramatkan dan diperingati hingga saat ini. Begitulah sejarah Peh Cun di Indonesia. (Erik/R7/HR-Online)