Sejarah Rumah Belanda di Indonesia, Arsitektur Eropa di Iklim Tropis

sejarah rumah Belanda
Gedung sate Bandung adalah salah satu bangunan sejarah rumah Belanda di Indonesia. Foto: Istimewa

Sejarah rumah Belanda di Indonesia rupanya banyak mengisahkan cerita. Diketahui terdapat perbedaan antara arsitektur rumah Belanda yang dibangun di Batavia (Jakarta) dengan rumah Belanda yang dibangun di beberapa daerah di Indonesia. Seperti Bandung, Yogyakarta, Semarang dan Solo.

Rumah Belanda di Batavia mengadopsi dari budaya Indis. Ciri rumah ini dikelilingi benteng-benteng tinggi hingga menyerupai kastil. Sementara rumah Belanda di luar Batavia lebih sederhana dan tidak dibentengi oleh tembok yang tinggi dan tebal.

Rumah-rumah Belanda di luar Batavia cenderung berbentuk komplek atau dikenal dengan istilah Landhuizen.

Landhuizen sendiri menurut Djoko Soekiman dalam bukunya berjudul, “Kebudayaan Indis dari Zaman Kompeni sampai Revolusi” (Komunitas Bambu: 2014), adalah bentuk bangunan rumah gaya Belanda yang didirikan di luar wilayah Batavia.

Baca juga: Sejarah Penjajahan Jepang di Indonesia: Siksaan dan Trauma Elien

Dalam catatan sejarah rumah Belanda ini menyebut bahwa penamaan Landhuizen berasal dari bahasa Belanda. Landhuizen artinya Pesanggrahan. Adapun arsitektur Landhuizen ini bergaya khas rumah-rumah orang Eropa di Belanda.

Masyarakat Eropa terutama Belanda yang tinggal di luar Batavia mendirikan Landhuizen di setiap daerah tempat tinggalnya. Menurut Djoko Soekiman, mereka akan merasa nyaman apabila bisa tinggal di Indonesia dengan sarana rumah yang disesuaikan dengan negeri asalnya.

Sejarah Rumah Belanda di Indonesia

Rumah Belanda dengan arsitektur Landhuizen banyak dibangun di kota-kota besar selain Batavia, antaralain di Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Jika kita mampir ke kota-kota tersebut akan melihat beberapa komplek rumah Belanda yang masih berdiri kokoh hingga saat ini.

Sejarah pembangunan rumah Belanda di Indonesia dikerjakan dengan hati-hati dan penuh ketelitian. Sejak hadirnya orang Belanda ke Indonesia, unsur-unsur budaya Eropa mulai masuk ke tatatan masyarakat pribumi, terutama di pulau Jawa. Perkenalan budaya Eropa salah satunya dimulai dari pendirian bangunan rumah.

Desain Rumah Belanda

Menurut Djoko Soekiman dalam buku “Kebudayaan Indis dari Zaman Kompeni sampai Revolusi” (2014: 107), pembuatan rumah Belanda di Jawa mendapatkan penanganan yang baik dan dikerjakan oleh para ahli yang betul-betul terampil.

Akan tetapi menurut catatan yang sama menyebut pula bahwa pembuatan rumah Belanda di Indonesia tidak sepenuhnya mirip seperti tempat tinggal di negeri induknya. Hal ini dilakukan sebagai upaya mereka menyesuaikan diri dengan iklim di Indonesia yang beriklim tropis.

Dalam catatan sejarah rumah Belanda lainnya, yaitu dari arsip Djoko Soekiman “V.I van de Wall, Oude Hollandsche Bouwkunst in Indonesie”, (Antwerpen de, Sikkel, MCMXLII: 17), menjelaskan bagaimana pembuatan rumah Belanda di Indonesia dikerjakan dengan sangat hati-hati dan penuh ketelitian.

Hal itu karena adanya pencampuran antara seni bangunan barat dengan lingkungan dunia timur yang sangat asing. Selain itu orang-orang Belanda sangat menguasai dan mencintai karya-karya pertukangan sampai pada detail-detailnya.

Dalam beberapa catatan sejarah rumah Belanda mengisahkan bahwa para tukang yang sudah terampil itu mengerjakannya dengan apik. Seperti halnya penggunaan cat untuk mewarnai bagian-bagian depan rumah yang menimbulkan kesan halus dan serasi.

Karakteristik Bangunan Kolonial di Nusantara

Mengutip arsip Djoko Soekiman, tukang bangunan yang membangun rumah Belanda selalu memperhatikan unsur estetis, seperti mengkolaborasikan ornamen batu bata kedalam pembuatan tiang-tiang rumah.

Kemudian batu-batu bata tersebut ditempelkan satu sama lainnya dan digosok hingga menghasilkan garis-garis yang jelas dan enak dipandang. Dalam bahasa Belanda hal itu dinamakan Muurdamen.

Dalam sejarah rumah Belanda, menurut buku Djoko Soekiman, terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara gaya perumahan Belanda di Jawa (luar Jakarta) dengan corak perumahan di Batavia. Adapun yang membedakan dua corak gaya tersebut berasal dari rentang waktu pembangunan rumah yang berbeda-beda.

Kebanyakan rumah Belanda di Batavia dibangun pada masa awal pemerintah Hindia-Belanda. Sementara rumah Belanda yang ada di luar Batavia dibangun setelah pemerintah kolonial lama berkuasa di Nusantara.

Baca juga: Kebiasaan Unik Orang Indonesia yang Mengadopsi Budaya Belanda

Di Batavia komplek rumah Belanda dikelilingi benteng-benteng tinggi hingga menyerupai kastil. Sementara komplek rumah Belanda di luar Batavia lebih sederhana dan tidak dibentengi oleh tembok yang tinggi dan tebal.

Menurut Kusno Abidin dalam “Zaman Baru Generasi Modernis; Sebuah Catatan Arsitektur” (2015: 15), arsitektur rumah gaya Belanda di luar Batavia dibangun sedemikian rupa untuk memberi kesan yang ramah. Hal itu agar mampu beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya.

Rumah Belanda Dilengkapi Barang Seni

Dalam catatan lain sejarah rumah Belanda, dikutip dari buku Djoko Soekiman (2014: 112), terdapat perlengkapan rumah belanda yang terdiri dari barang estetik dan punya nilai seni yang tinggi.

Rumah Belanda yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, pasti memiliki isi perlengkapan yang antik dan estetik, seperti halnya lukisan.

Mengutip dari catatan kuno Boedel Beschrivingen, menyebut ruang tengah yang terletak di belakang ruang depan (voorhuis) biasanya dilengkapi dengan lukisan-lukisan sebagai hiasan dinding. Selain itu di beberapa sudut tersimpan lemari yang diisi dengan piring-piring hias dan jambangan porselen.

Di ruang depan juga biasanya diletakan sebuah kursi nyonya untuk kebaktian (kerkstoel) seperti halnya kursi-kursi di gereja hanya bentuk lebih kecil dan efisien. Setiap hari minggu kursi ini akan dibawa ke gereja oleh para budak perempuan dengan beberapa perlengkapan lain, seperti kotak sirih, payung, dan kitab injil.

Selain itu biasanya rumah Belanda dilengkapi dengan beberapa senjata yang disimpan diruang depan, antaralain terdiri dari, senapan, pedang, perisai, dan tombak.

Hal itu merupakan peraturan wajib yang harus dipenuhi untuk menjamin keamanaan keluarga Eropa di Indonesia, khususnya orang Belanda. Begitulah sepenggal sejarah rumah Belanda di Indonesia yang layak untuk menjadi referensi pengetahun sejarah. (Erik/R2/HR-Online)  

Loading...