Sejarah Taman Siswa dan Kurikulum Trikon Gagasan Ki Hadjar Dewantara

sejarah Taman Siswa
Potret sejarah taman siswa dan Ki Hadjar Dewantara (Paling kanan) dengan murid-muridnya. Menurut keterangan arsip, gambar diambil oleh Oedaya Ogpang sekitar tahun 1928. Foto: Istimewa

Pada perjalanan sejarah taman siswa yang merupakan sekolah partikelir milik Ki Hadjar Dewantara yang berkembang pada tahun 1922 di Yogyakarta dikenal dengan ajaran trikonnya. Trikon adalah nama kurikulum pada sebuah lembaga institusi pendidikan di sekolah bernama Taman Siswa.

Adapun salah satu fokus kurikulum ini terletak pada pendidikan budaya. Seperti metode pelestarian budaya, menumbuhkan semangat berkebudayaan, hingga diajarkan berbagai cara membuat alat-alat budaya seperti wayang dan corak-corak berkesenian lainnya.

Lalu apa yang dimaksud dengan kurikulum Trikon, dan bagaimana aplikasinya pada kegiatan belajar di sekolah Taman Siswa? Simaklah penjelasan dibawah ini.

Sejarah Taman Siswa dan Kurikulum Trikon

Tokoh taman siswa Ki Hadjar Dewantara pernah menyatakan keprihatinannya melihat bangsa Indonesia ditengah-tengah modrenisasi jaman yang semakin berkembang. Hal ini seperti ditulis oleh Asmarita Dewi, dalam bukunya “Merawat Nilai-nilai Budaya Jawa Melalui Perspektif Kearifan Lokal di Yogyakarta”, (2019: 100).

Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa ditengah modernisasi ini bangsa Indonesia hendaknya jangan menyatukan apa yang tidak mungkin dan tidak perlu dipersatukan. Akan tetapi cukuplah hanya menyatukan pokok-pokoknya saja. Pendapat ini kemudian menjadi catatan penting dalam sejarah taman siswa.

Baca juga: Sejarah Rumah Belanda di Indonesia, Arsitektur Eropa di Iklim Tropis

Menurutnya dalam hal tersebut bangsa Indonesia harus tetap ingat dengan syarat-syarat “Harmoni” dan “Waktu yang tepat. Selain itu dengan menerapkan dasar kebudayaan nasional Indonesia adalah segala puncak-puncak dan sari-sari kebudayaan yang bernilai di seluruh kepulauan, baik yang lama maupun yang diciptakan baru dalam arti berjiwa nasional.

Dengan menerapkan konsep tersebut Ki Hadjar Dewantara menilai tidak akan terjadi perusakan budaya dalam negeri sendiri. Ki Hadjar ini adalah orang pertama yang menerapkan kurikulum Trikon pada tahun 1922 di sekolah taman siswa Yogyakarta.

Menurut Suhartono dalam “Perjuangan Ki Hadjar Dewantara dari Politik ke Pendidikan”, (2017:136) mengatakan arti dari sebuah istilah Trikon. Menurutnya Trikon adalah salah satu konsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang berasal dari pemangamatnya selama belajar di Belanda.

Sejarah Taman Siswa dari Latarbelakangnya

Ki Hadjar mendefinisikan Trikon sebagai sebuah konsep pembelajaran yang berdasar pada upaya manusia menghubungkan budaya luhur bangsa Indonesia dan menyeleksi datangnya budaya luar dengan memberikan kemungkinan berpadunya budaya bangsa dengan budaya luar yang menghasilkan suatu budaya baru.

Sederhananya, konsep Trikon merupakan sebuah kurikulum pembelajaran yang digunakan di Taman Siswa, untuk menyaring budaya luar ditengah modernisasi dan disebabkan oleh kemajuan tekhnologi yang semakin berkembang.

Model Pembelajaran Trikon

Dalam sejarah taman siswa, Asmarita mengisahkan dalam bukunya berjudul “Merawat Nilai-nilai Budaya Jawa Melalui Perspektif Kearifan Lokal di Yogyakarta”. Dalam buku itu mengulas tentang salah satu keluarga Taman Siswa bernama Ki Priyo Diwarso.

Ki Priyo menyebut bentuk perjuangan taman siswa dapat dilihat dari konsep Trikon dengan teknik “Try on Error Methode”. Dalam metode ini diberlakukan “learning by doing” yang berarti belajar dengan melakukan.

Baca juga: Sejarah Penjajahan Jepang di Indonesia: Siksaan dan Trauma Elien

Menurutnya, Ki Hadjar belajar terlebih dahulu atau istilah kata dalam bahasa Jawa melakoni. Kemudian dia memperaktekannya sendiri lalu disebarkan kepada orang lain. Metode tersebut dinilai dapat berfungsi sebagai bahan pengetahuan pengajar pada setiap karakteristik anak didik di sekolah.

Dalam catatan sejarah Taman Siswa yang sama, Ki Hadjar dalam mempraktekkan kurikulum Trikon, menggunakan media pembelajaran mewayang dan menembang. Dua pembelajaran tersebut dinilai efektif dalam melaksanakan kurikulum Trikon di Taman Siswa.

Praktek Kurikulum Trikon

Kebudayaan terutama kesenian menjadi fokus utama kurikulum Trikon di sekolah Taman Siswa. Seseorang yang merupakan lulusan Taman Siswa harus mampu memainkan wayang dan menembang lagu klasik yang bertumpu pada sastra kuno.

Alhasil sekolah tersebut mengangaplikasikan kurikulum Trikon dengan menjadikan pertunjukan wayang dan tembang Jawa kuno menjadi sebuah mata pelajaran. Pada saat awal pemberlakuan kurikulum Trikon, anak didik sekolah Taman Siswa sangat antusias.

Ki Hadjar Dewantara, dalam catatan sejarah Taman Siswa, menegaskan bahwa  mata pelajaran mewayang dan menembang memiliki dua fungsi yang saling berkaitan yakni mendidik dan mengajarkan kebudayaan yang bersifat rekreatif.

Namun di masa kolonial sekolah ini pernah dilarang karena dianggap sebagai sekolah liar. Pada masa itu ijin pendirian sekolah harus direstui pemerintah Belanda. Sementara Ki Hajar menentang itu.

Menurutnya kebijakan tersebut adalah sebuah aturan yang diskriminatif dan berlawanan dengan cita-cita bangsa Indonesia. Namun pada akhirnya sekolah Taman Siswa menjadi sebuah institusi lembaga pendidikan yang diakui pemerintah Belanda. Hal itu seiring pencabutan kebijakan sekolah liar pada tahun 1933.

Begitulah sejarah Taman Siswa dan kurikulum trikon gagasan Ki Hadjar Dewantara yang harus dipahami sebagai bahan penambah wawasan dan pengetahuan sejarah. Terutama sejarah pendidikan masa pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia sekitar tahun 1922-1933. (Erik/R2/HR-Online)

Loading...