Rabu, Juni 29, 2022
BerandaBerita TasikmalayaPosyandu Terhenti, Stunting di Kota Tasikmalaya Diprediksi Meningkat

Posyandu Terhenti, Stunting di Kota Tasikmalaya Diprediksi Meningkat

Berita Tasikmalaya, (harapanrakyat.com),– Kasus stunting di Kota Tasikmalaya diprediksi meningkat, apalagi pelayanan kesehatan seperti Posyandu terhenti akibat pandemi Covid-19.

Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kurang gizi pada tahun 2019 meningkat dari 10,8 persen menjadi 10,95 persen dari keseluruhan anak yang lahir di Kota Tasikmalaya. Karena itu, kasus stunting pada tahun 2020 pun diprediksi meningkat.

Stunting pada anak umumnya menyebabkan tinggi badan kurang dari 50 cm. Kasus stunting biasa ditemukan pada anak dari keluarga miskin.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr. Uus Supangat, mengatakan, status gizi balita menjadi indikator kinerja pemerintah daerah sampai pusat dalam penanganan kasus stunting.

“Status gizi balita bisa diketahui dari penimbangan balita, namun selama pandemi Covid-19 pelayanan kesehatan penimbangan balita ini terhenti. Hal inilah yang diprediksi meningkatkan kasus stunting atau gizi buruk,” katanya, saat Sosialisasi Bulan Penimbangan Balita (BPB) di salah satu hotel Kota Tasikmalaya, Selasa (21/7/2020).

Karena itu, lanjut dr Uus, pihaknya akan mengaktifkan kembali Posyandu di seluruh wilayah Kota Tasikmalaya untuk menekan angka stunting semaksimal mungkin.

“Ini untuk mengejar ketertinggalan selama pelayanan penimbangan balita terhenti akibat pandemi Covid-19. Tentunya tetap dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” katanya.

Selain itu, dilakukan pula penguatan kapasitas SDM dalam pemahaman, pelacakan dan penanggulangan stunting sehingga diharapkan dapat menjadi agen perubahan di lapangan.

“Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya juga akan melakukan intervensi ke lokasi dimana ada kejadian kasus stunting. Salah satunya dengan pemberian makanan tambahan,” terangnya.

Ujung tombak penanganan stunting, menurut dr Uus, berada di pihak Puskesmas dan TP PKK pada Pokja Posyandu. Karena itu harus ada sinergi antara masyarakat dan semua pihak stakeholder dalam upaya memperhatikan dan meningkatkan derajat kesehatan.

“Dengan status gizi yang terkontrol, mudah-mudahan dapat meningkatkan imunitas mereka sehingga mereka bisa lebih tahan lagi terhadap berbagai panyakit termasuk penyakit yang punya potensi wabah,” tandasnya. (Apip/R7/HR-Online)

- Advertisment -