2 Kali Tanggul Jebol di Kota Banjar, Ratusan Hektar Sawah Tak Teraliri Air

tanggul jebol di kota banjar
Warga Kota Banjar memperbaiki tanggul yang jebol. Foto: Aisyah/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Tanggul jebol di Kota Banjar jadi penyebab aliran air tidak sampai ke ratusan hektar sawah di Ciamis. Sebanyak 225 hektar sawah di wilayah Desa Sukanegara, Desa Kertajaya Kecamatan Lakbok, dan Desa Karangpaninggal, Desa Sukamulya, Kecamatan Purwadiri tidak bisa dialiri air.

Baca Juga: 255 Hektar Sawah di Ciamis Tak Teraliri Air, Petani Kelimpungan

Tanggul jebol di Kota Banjar itu biasanya dialiri air irigasi BBWS wilayah Lakbok Utara. Saluran air berasal dari Paniisan P1 2 KI 1.

Aep Saepulloh, Kepala Dinas PUPR Ciamis, mengatakan, pihaknya sudah mengecek penyebab ratusan hektar sawah di Ciamis yang tidak dialiri air.

“Setelah mengecek, pengairan tersebut rupanya menjadi kewenanganan BBWS. Salah satu penyebab tidak mengalirnya air karena terdapat tanggul yang jebol di daerah Banjar,” katanya.

2 Kali Tanggul Jebol di Kota Banjar

Dari penelusuran HR Online, tanggul yang jebol berada di saluran air P2, tepatnya di Kampung Sampih, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar.

Tanggul jebol tersebut terjadi pada bulan Juni 2020 lalu. Tanggul jebol sudah terjadi dua kali dalam waktu sebulan.

Salah seorang petugas penjaga air yang enggan disebut namanya, mengaku mendengar informasi tersebut dari warga pada malam hari, sekitar tanggal 18 Juni 2020.

Satu tim langsung menuju lokasi dan memutup pintu air di depan Polsek Langensari, dan pintu air P1 di depan MTS Langensari. Baru pada pagi harinya tanggul yang jebol diperbaiki.

Tumar (51), warga setempat membenarkan hal tersebut. Tanggul jebol yang pertama terjadi sekitar pukul 9 malam. Padahal kata Tumar, cuaca pada waktu itu stabil, tidak ada hujan atau angin kencang. Pada saat kejadian Tumar sedang bersantai menikmati angin malam di depan rumahnya.

“Tiba-tiba terdengar suara keras seperti tanah ambruk di saluran irigasi. Suaranya terdengar hingga lima rumah samping saya,” katanya, Senin (6/7/2020). 

Air kemudian meluap, di tengah kepanikannya Tumar melapor kepada Ili-ili kampung sekitar. Ili-ili lalu menelpon petugas saluran air. “Sekitar setengah jam, air dapat terbendung. Karena pintu air di jalur sebelumnya ditutup,” katanya.

Malamnya warga ramai di lokasi, dan berjaga-jaga lantaran khawatir ada kejadian yang tidak diinginkan.

Pagi hari baru saluran irigasi diperbaiki dengan melibatkan warga dan petugas. Sebanyak 150 karung berisi tanah di masukkan ke dalam lubang tanah yang ambruk. Lalu diplester dan dibiarkan kering sehingga air bisa dibendung. 

Setelah 3 hari kemudian, tutur Tumar tanggul jebol kembali pada pukul 9 malam, tanggal 27 Juni. Ada 15  kantong terlempar ke pinggir tanggul. Namun, kejadian ini tidak sebesar tanggul jebol yang pertama.

“Ternyata yang jebol lagi tanah yang di pinggir jebolan pertama,” kata Tumar. 

Akhirnya upaya yang sama pun dilakukan warga bersama petugas pintu air. Pintu air juga ditutup dan pagi hari baru diperbaiki kembali. Hingga kini tanggul yang jebol dilapisi dengan plastik PE. (Aisyah/R7/HR-Online)

Loading...