Tren Peningkatan Kasus Positif Covid-19 di Jabar Menurut Pakar Epidemiologi

Tren peningkatan kasus positif Covid-19 di Jawa Barat sudah diprediksi oleh pakar epidemiologi. Foto: Ilustrasi/Net.
Tren peningkatan kasus positif Covid-19 di Jawa Barat sudah diprediksi oleh pakar epidemiologi. Foto: Ilustrasi/Net.

Berita Jabar (harapanrakyat.com),- Tren peningkatan kasus positif Covid-19 di Jawa Barat sudah diprediksi oleh pakar epidemiologi. Karena itu, masyarakat diimbau agar disiplin menerapkan kembali protokol kesehatan Covid-19.

Seperti dikatakan staf pengajar di Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Unpad, Prof. Bony Wiem Lestari. Menurutnya, masyarakat merupakan garda terdepan dalam perang melawan Covid-19.

Dilansir laman Humas Jabar, Bony juga menyebutkan, memakai masker serta tetap menjaga jarak mampu mencegah penularan virus corona. Hal itu sudah banyak dibuktikan secara ilmiah.

Bahkan, sebelumnya para pakar di Jabar sudah memprediksi tren peningkatan kasus positif Covid-19 bakal terjadi sekarang ini. Di Jawa Barat, saat ini jumlah kasus positif mencapai 4.951 bertambah 105 orang.

Jumlah kasus positif sebanyak itu tak beda jauh dengan apa yang sebelumnya diestimasi para pakar, yaitu di angka 5.000 kasus.

Bony pun menjelaskan, seharusnya masyarakat membaca dengan bijak terhadap data kasus yang tersaji. Hal itu supaya jangan sampai ada mispersepsi, dan salah dalam menyikapinya.

Tiga Kemungkinan Tren Peningkatan Kasus Positif Covid-19 di Jabar

Ada tiga kemungkinan terjadinya tren kasus positif Covid-19. Pertama, karena laju infeksi saat ini sedang terjadi. Para pakar memprediski dalam satu bulan ke depan kasus positif masih akan naik.

Kedua, efek dari peningkatan tes masif yang dilakukan. Sekarang Jabar tengah mengejar target WHO, yang mana tes PCR 1 persen dari total jumlah penduduk, atau sekitar 500 ribu.

Seperti diketahui bahwa Provinsi Jabar saat ini tengah gencar melakukan uji usap atau tes swab/PCR. Dalam minggu terakhir saja, tes swab sudah mencapai angka 78.000. Kemungkinan sekarang sudah di angka 88.000.

Menurut Bony, semakin banyak masyarakat yang dites, maka banyak temuan positif dan itu semakin bagus guna melakukan pelacakan.

Sedangkan, kemungkinan ketiganya, lanjut Bony, adanya pelimpahan administrasi. Provinsi Jabar berpotensi mendapat limpahan kasus positif Covid-19 dari provinsi lain. Dalam artian tertular di provinsi lain, namun karena KTP-nya Jabar, sehingga dihitung kasus Jabar.

Lebih lanjut ia mengatakan, faktanya di lapangan, sebetulnya para pakar juga kesulitan untuk menentukan kurva penularannya. Apakah saat ini gelombang satu Covid-19 sudah dilewati Indonesia, atau menyongsong gelombang kedua.

Untuk menentukan kurva tersebut syaratnya adalah tes masif yang baik. Di awal pandemi terjadi, di Indonesia, khususnya di Jabar, tes masif yang dilakukan belum sebaik sekarang ini.

Hal yang Harus Dilakukan Pemda

Dalam situasi tren kasus positif Covid-19 seperti sekarang ini, Bony juga merekomendasikan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah.

Pertama, pemerintah daerah harus memastikan organisasi atau institusi di bawahnya lebih rajin lagi turun langsung ke lapangan mengecek kualitas ventilasi udara.

Selain itu, juga mengecek disinfeksi alat pendingin udara atau AC, baik yang ada di perkantoran, mal, bioskop, pabrik, asrama, pesantren, serta tempat lainnya yang dianggap berisiko tinggi.

Karena, ada wabah yang menyebabkan radang pernapasan akut ternyata sumbernya dari AC. Hal tersebut sempat outbreak di Amerika Serikat. Karena itulah harus lebih sering membersihkannya.

Kemudian, rekomendasi yang harus dilakukan pemerintah daerah adalah menyediakan SDM dan sistem pelayanan kesehatan yang memadai. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan pasien positif Covid-19.

Selain itu, pemda juga harus meperkuat lagi edukasi masyarakat mengenai pentingnya menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Karena, meskipun pemerintah sudah mewajibkan banyak, namun jika masyarakatnya tak patuh, maka tetap bakal sulit berjalan.

Baca Juga : Kepala Daerah di Jabar Sebut Kasus Positif Covid-19 di Wilayahnya Impor dari Luar Daerah

Penularan Melalui Udara

Profesor Bony juga menjelaskan sekaligus meluruskan isu bahwa Covid-19 bisa ditularkan lewat transmisi udara. Isu tersebut memang sudah beredar luas di masyarakat.

Ia menegaskan, penularan lewat transmisi udara dimungkinkan bisa terjadi di fasilitas kesehatan, seperti di ruangan isolasi. Jadi bukan di tempat umum.

Namun, lanjut Bony, WHO saat ini masih belum menemukan bukti kalau penularan melalui udara bisa terjadi di tempat yang lainnya.

Sementara, penelitian yang valid juga masih belum keluar, sehingga pemerintah sekarang ini masih menerapkan protokol kesehatan WHO yang lama. 

Maka adanya tren peningkatan kasus positif Covid-19 dapat ditarik kesimpulannya bahwa, kewaspadaan perlu ditingkatkan. Khususnya di fasilitas kesehatan Covid-19 yang terdiri dari Ring 1, 2, dan Ring 3.

Hal ini pun menjadi peringatan penting bagi para tenaga medis, seperti dokter, perawat, dan keluarga terdekat pasien posistif Covid-19. 

Misalnya, kapan tenaga medis perlu memakai masker surgical, masker N95, dan APD Level 3. Karena, tenaga kesehatan harus disiplin menerapkan protokol kesehatan guna perlindungan dirinya.

Namun, WHO juga memperingatkan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaanya ketika berada di tempat indoor (dalam ruangan).

Begitu pula saat berada di tempat yang banyak orang dengan kondisi ventilasi udara yang tidak bagus. Karena, hal itu memungkinkan terjadinya penularan melalui udara. (Eva/R3/HR-Online)