Minggu, Juni 26, 2022
BerandaBerita TerbaruGerakan Ratu Adil: Peran Tokoh Agama Mengusir Kolonial Belanda

Gerakan Ratu Adil: Peran Tokoh Agama Mengusir Kolonial Belanda

Gerakan Ratu Adil merupakan gerakan yang digagas oleh tokoh agama dalam mengusir penjajah Belanda di Indonesia.

Hampir seluruh masyarakat luas mengetahui bahwa para pejuang yang mengusir penjajah di Indonesia berasal dari kalangan angkatan bersenjata.

Hal ini keliru, tak semua perjuangan melawan penjajah berasal dari kekuatan ABRI saja, melainkan ada peran tokoh agama yang pernah menyumbangkan pikiran dan tenaganya guna meraih kemerdekaan bangsa.

Saat itu para tokoh agama yang menjadi pemimpin gerakan mengusir penjajah dikenal dengan istilah Ratu Adil. Masyarakat Jawa percaya jika kehadiran Ratu Adil mampu memberikan petunjuk bagi kehidupan yang damai dan penuh kebahagiaan.

Kebanyakan mitos gerakan ini tersebar di kalangan masyarakat luas di Jawa. Menurut beberapa sejarawan, suatu gerakan muncul akibat situasi yang sedang kacau balau.

Sementara masyarakat merindukan akan berdirinya kembali tata kehidupan yang pernah berlaku di masa lampau, seperti kejayaan kerajaan Majapahit, Mataram, dan lain sebagainya.

Sejarah Gerakan Ratu Adil

Ratu Adil adalah sebuah gerakan rakyat yang timbul dari kepercayaan bahwa seorang tokoh agama akan datang untuk membebaskan rakyat dari segala penderitaan dan kesengsaraan. Tokoh itu digambarkan sebagai seorang Raja Adil atau dalam Islam dikenal dengan Imam Mahdi.

Baca Juga: Gerakan Bawah Tanah, Strategi Pemuda Usir Jepang dari Indonesia

Zaman keemasan yang penuh dengan keadilan dan kemakmuran segera datang apabila tokoh tersebut telah tiba di tengah-tengah masyarakat luas di Jawa.

Tokoh yang memimpin gerakan tersebut biasanya muncul dari orang yang mengaku menerima semacam wahyu untuk menjadi pimpinan agama, layaknya Nabi atau juru selamat. (“Sejarah Nasional Indonesia 2” 1992: 205)

Sementara H.M Rasyidi dalam majalah Prisma yang berjudul “Imam Mahdi dan Harapan akan Keadilan” (No.1, Januari, 1977: 45), mengartikan gerakan Ratu Adil sebagai bahasa yang berasal dari istilah barat Messianisme (Juru selamat), dan Sang Mesiah (Imam Mahdi).

Pengertian Ratu Adil pun bermacam-macam. Dikutip dari catatan yang sama Rasyidi bilamana dua kata (Messianisme-Mesiah) digabungkan dalam satu kalimat, akan timbul istilah baru yakni Messianistis.

Maksud Mesianistis atau Ratu Adil itu adalah suatu gerakan yang memuat harapan-harapan akan datangnya si juru selamat, dan suatu zaman yang bahagia.  

Baca Juga: Bandung Lautan Api, Sejarah Rakyat Jabar Lawan Sekutu

Orang-orang yang menjadi pengikut gerakan ini memiliki kehendak untuk mengubah keadaan buruk menjadi lebih baik dan sejahtera. Biasanya keadaan keadaan yang dialami itu digambarkan sebagai keadaan yang serba jelek, tidak ada keadilan, penuh penderitaan, banyak penyelewengan dan kemiskinan.

Gerakan Ratu Adil: Peran Tokoh Agama Mengusir Kolonial Belanda di Sidoarjo

Menurut buku “Sejarah Nasional Indonesia 2” (1992: 206), pada tahun 1903 telah terjadi pemberontakan Ratu Adil di Kabupaten Sidoarjo (Jawa Timur). Gerakan tersebut dipimpin oleh seorang tokoh agama bergelar kyai bernama Kasan Mukmin.

Kasan Mukmin mengaku sebagai orang yang telah menerima wahyu dari Tuhan, bahwa gerakan ini harus dipimpin oleh dirinya sebagai Juru Selamat (Ratu Adil). Menurut pengakuannya ia akan mendirikan sebuah kerajaan baru di Jawa. Dalam khotbah-khotbahnya ia mengajak untuk melakukan perang jihad melawan pemerintah Belanda.

Kasan Mukmin tak jarang mengajak pengikutnya mempelajari ajaran-ajaran jihad. Ia mengumpulkan para pengikutnya untuk merencanakan penyerangan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Namun sejarah mencatat, gerakan Ratu Adil tersebut gagal. Pemerintah kolonial telah mendengar kabar penyerangan ini dan segera pasukan bersenjatanya guna menghalau pasukan pengikut Kasan Mukmin.

Kedatangan pasukan kolonial pun bak gayung bersambut. Meskipun dinyatakan gagal namun perlawanan semakin sengit ketika para pasukan bersenjata kolonial melengkapi persenjataanya.

Alhasil pertempuran berakhir dengan jumlah korban yang tidak sedikit. Tercatat dalam pertempuran tersebut terdapat 40 orang meninggal terbunuh, dan 20 orang lainnya luka-luka.

Pemberontakan Kasan Mukmin Disebabkan oleh Penarikan Pajak yang Mahal

Buku “Sejarah Nasional 2” (1992:207), menyebut gerakan Ratu Adil yang mengobarkan pemberontakan ini memiliki latar belakang yang diawali dari pelampiasan rasa dendam dan ketidak-puasan rakyat terhadap penguasa.

Alasan itu muncul terutama karena banyaknya penyelewengan dalam masalah penyewaan tanah untuk perkebunan tebu, berbagai pengerahan buruh dan penarikan pajak yang cenderung tinggi.

Hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemberontakan Kasan Mukmin yang mengatasnamakan Ratu Adil di daerah Sidoarjo Jawa Timur pada tahun 1903.

Begitulah sejarah gerakan Ratu Adil yang pernah terjadi di Jawa pada abad ke XX. Sebagaimana biasa tulisan ini layak dibaca guna memenuhi pengetahuan umum tentang sejarah peran tokoh agama pada masa kolonial. Semoga Bermanfaat. (Erik/R7/HR-Online)

- Advertisment -