Korps Prajurit Estri, Pasukan Bersenjata Perempuan Pertama dari Surakarta

Korps Prajurit Estri
Ilustrasi Korps Prajurit Estri yang tengah menari di Istana. Foto: Net/Ist

Korps Prajurit Estri ternyata merupakan pasukan bersenjata perempuan pertama milik istana Mangkunegaran Surakarta. Prajurit Estri ini terungkap dari catatan salah seorang wanita yang mengaku sebagai anggotanya.

Uniknya tulisan tersebut masih memiliki fisik yang utuh meskipun berangka tahun 1757-1795.

Sang penulis mengungkapkan keterampilan prajurit estri dalam berkuda. Tak hanya itu, menggunakan senjata dan mahir berperang juga menjadi kelebihan dari pasukan khusus istana.

Korps Prajurit Estri

Pada kurun waktu abad ke 18 masehi, kerajaan Surakarta yang memimpin waktu adalah seorang raja dengan gelar Mangkunegaran I.

Pada era kepemimpinannya itu, Mangkunegaran I kerap aktif membangun kekuatan militer dengan konsep Tri Darma.

Pendeknya, konsep itu ia pakai dalam mengerahkan segala kekuatan dari semua golongan masyarakat, tak terkecuali perempuan yang tergabung dalam korps prajurit estri.

Raja mengajak warganya untuk bergabung dalam pasukan yang sudah ada. Hal ini seperti dalam tulisan Fika Hidayani dalam jurnal “Prajurit Wanita Jawa dalam Istana Mangkunegaran I Surakarta”, (Volume 5: Nomor 1, Juli 2013).

Untuk pertama kalinya kerajaan Mangkunegaran merekrut perempuan sebanyak 144 anggota yang terdiri dari divisi pleton karabijn (senapan), dan satu kavaleri lengkap dengan pasukan berkuda.

Baca juga: Kodam Siliwangi Berawal dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

Selain menjadi pioner perang, korps Prajurit Estri merupakan Abdi Raja dalam istana.

Selain memiliki karakter yang tangguh dalam peperangan, ternyata sebagian prajurit lainnya memiliki rangkap jabatan dalam istana.

Seperti dalam tulisan oleh Kumar Ann dalam Prajurit  Perempuan  Jawa:  Kesaksian  Ihwal  Istana  dan  Politik   Jawa   Akhir abad  ke-18, (Komunitas Bambu: 2008), sebagian dari prajurit ini menjadi abdi.

Prajurit khusus ini memiliki tugas mengusung perkakas raja, seperti bejana air minum, sirih komplet, pipa tembakau,    keset, payung, kotak minyak wangi, dan pakaian-pakaian.

Selain itu, mereka juga bertugas menjaga  Raja  dengan  membawa  tombak  dan  tulup  yang berjaga pada semua  sisi  keraton.

Tim Kantor Rekso Pustoko dalam “Naskah Terjemahan Serat Babad Nitik Mangkunagaran” menyebutkan korps prajurit estri yang lain berprofesi juga sebagai penyanyi, penari dan pemain musik dalam Kraton Mangkunegaran.

Alhasil dari dua sumber tersebut bisa tahu bahwa prajurit ini memiliki kemampuan ganda dalam profesinya bekerja untuk istana.

Selain mengangkat senjata dan berperang, mereka tak lupa dengan kodrat yang ada pada dirinya sebagai perempuan Jawa yang patuh.

Pemilihan Anggota Prajurit

Meskipun korps Prajurit Estri merupakan pelopor majunya kekuatan perempuan, namun ternyata belakangan berkembang informasi pemilihan anggotanya sangat diskriminatif.

Seperti pendapat Risa Herdianti, perekrutan prajurit perempuan dengan cara paksaan. Bahkan, hanya perempuan yang memiliki paras cantik yang dapat masuk menjadi prajurit.

Kebanyakan anggota, kata Risa, perekrutannya dengan mengambil putri pejabat daerah, seperti lurah, demang, setingkat kecamatan maupun kabupaten.

Sementara menurut catatan sejarah lainnya, perempuan dengan paras paling cantik biasanya akan menjadi prajurit pengawal raja dalam Istana.

Tak hanya itu, gelar Abdi-Dalem Priyayi Manggung atau Prajurit Keparak éstri, ataupun Pasukan Langenkusumo juga tersemat pada mereka.

Menurut Kumar Ann, pengamat sejarah Jawa, kendati begitu mereka lebih beruntung tidak menjadi selir raja.

Pasalnya, dalam peraturan kerajaan selir tidak boleh menerima tawaran pernikahan selama raja masih hidup atau bahkan sudah meninggal.

Baca juga: Bagaimana Memperlakukan Sektor Informal?

Akan tetapi, sumber lain mengatakan, nasib korps prajurit estri sangat tragis saat waktu menjelang akhir hayat kerajaan Mangkunegaran.

Francoist Valentijn, seorang misionaris, ahli botani, dan penulis buku mencatat, istana Surakarta pada abad 18 telah terjadi eksploitasi perempuan besar-besaran.

Menurutnya, perempuan-perempuan mantan prajurit estri diperjual-belikan pada bangsawan setempat. Namun anehnya mereka justru senang dan bahagia karena menjadi istri bangsawan.

Mantan korps prajurit estri percaya bahwa suaminya kelak tak akan berani memperlakukannya secara buruk, apalagi ada ungkapan raja akan marah ketika memperlakukan buruk terhadap istri. (Erik/R6/HR-Online)

Loading...