Organisasi Poetri Mardika, Memotivasi Kemajuan Perempuan di Indonesia

Organisasi Poetri Mardika
Potret pengajar dari organisasi Poetri Mardika yang tengah memberi materi pelajaran kepada kaum wanita. Foto: Ist/Net

Apakah para pembaca sudah tahu, pada awal abad kedua puluh, perempuan yang tergabung dalam organisasi Poetri Mardika, mampu memotivasi kemajuan kaum hawa di Indonesia?

Organisasi perempuan ini telah mengambil peran penting dalam perjuangan perjalanan bangsa yang patut diperingati. Poetri Mardika merupakan organisasi yang bertujuan memberikan motivasi kepada perempuan Indonesia.

Mereka mengingatkan pentingnya meningkatkan taraf hidup para kaum hawa dalam berbagai hal kehidupan. Para perempuan yang tergabung dalam organisasi ini semakin banyak kala tahun 1912 di Batavia.

Lantas bagaimana sejarah lengkap organisasi pertama yang memotivasi kemajuan perempuan di Indonesia? daripada penasaran, silahkan simak dibawah ini.

Poetri Mardika, Organisasi Perempuan yang Aktif Memotivasi Kemajuan

Restu Diniyati dalam jurnal sejarah berjudul “Potret Gerakan Perempuan pada Abad ke 20 di Batavia: Poetri Mardika 1912” (Jurnal Pendidik dan Penelitian Sejarah, 2020: 137), mengungkapkan Poetri Mardika merupakan organisasi perempuan pertama yang aktif memotivasi kemajuan kaum hawa di Indonesia.

Poetri Mardika adalah organisasi perempuan yang bertujuan memotivasi seluruh perempuan di Indonesia tentang pentingnya meningkatkan taraf hidup. Mereka menggunakan jalur pendidikan dalam kehidupan sosial untuk mewujudkannya.

Baca Juga: Sejarah Budi Utomo, Organisasi Pergerakan Nasional Pertama Indonesia

Perjuangan organisasi Poetri Mardika dinilai berhasil. Sebagaimana yang dikutip dalam pendapat Restu Diniyati, bahwa hal ini bisa dilihat pada tahun 1912.

Jumlah perkumpulan perempuan bertambah banyak dan organisasi perempuan semakin luas orientasinya. Terutama dalam menjangkau masyarakat bawah untuk mendapatkan kebebasan dalam kehidupan bermasyarakat.

Poetri Mardika Menginspirasi Berbagai Organisasi Nasional

Semenjak lahirnya Poetri Mardika, ternyata banyak organisasi-organisasi besar yang terinspirasi dari gerakannya. Para organisasi besar tersebut mendirikan perkumpulan bagian khusus untuk perempuan. Misalnya, Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan Sarekat Ambon yang juga yang mempunyai kelompok pergerakan perempuan.

Baca Juga: Poligami di Minangkabau, Pernah Dilarang Pada Masa Kolonial

Adapun para organisasi besar itu menamakan organisasi perempuannya sebagai berikut, kelompok pergerakan perempuan dari Sarekat Islam bernama Wanudiyo Utomo.

Kemudian Sarekat Perempuan Islam Indonesia (SPII), bagian perempuan dari Muhammadiyah adalah Aisyiyah, dan perkumpulan perempuan dari Sarekat Ambon yaitu Ina Tuni.

Rata-rata perkumpulan-perkumpulan perempuan di atas bermaksud untuk memberikan kesempatan bagi perempuan memiliki kepandaian-kepandaian khusus, seperti keterampilan menjahit, membatik, merenda, dan sebagainya.

Kegiatan ini diajarkan kepada perempuan agar mereka mempunyai kemampuan bertahan hidup tanpa selalu bergantung kepada kaum laki-laki.

Sementara Suryochondro dalam bukunya yang berjudul “Potret Pergerakan Wanita di Indonesia” (1984: 137), menyebut pergerakan perempuan pada masa itu bersifat memperjuangkan nilai-nilai baru dalam hal pendidikan, kesusilaan, dan peri kemanusiaan, serta menuju pada usaha meninggikan kedudukan perempuan dalam keluarga dan masyarakat.

Poetri Mardika Menerbitkan Surat Kabar

Menurut Restu Diniyati (2020: 137), lahirnya sebuah organisasi yang didorong oleh gagasan kemerdekaan menimbulkan kesadaran butuhnya untuk menyebarkan suara mereka secara luas dengan melalui media massa. Media massa dianggap sebagai kebutuhan untuk menampung cita-cita mereka.

Sejarah mencatat surat kabar pertama yang diterbitkan oleh perkumpulan perempuan adalah Tiong Hwa Wi Sien Po yang diurus oleh Lien Titie Nio.

Surat kabar yang kedua adalah Poetri Hindia yang terbit pada tahun 1908 dipimpin oleh RTA Tirtokoesoemo. Sementara pada tahun 1912 di Sumatera Barat terbit juga surat kabar perempuan bernama Soenting Melajoe.

Begitupun dengan Poetri Mardika, para anggotanya mengkhendaki untuk mencetak surat kabar. Hal ini berguna untuk menyebarluaskan gagasan-gagasan para anggota organisasi yang berkaitan dengan kemajuan perempuan di Indonesia.

Surat Kabar Poetri Mardika diterbitkan mulai tahun 1915 di Batavia. Surat kabar tersebut memiliki semboyan “Soerat kabar memperhatikan keadaanja pihak perempoan boemi poetra di Insulinde”.

Sementara untuk isinya, surat kabar Poetri Mardika banyak berisikan pengajaran terhadap perempuan serta gagasan gagasan baru untuk para perempuan.

Menurut catatan Junaedhi dalam bukunya berjudul ”Rahasia Dapur Majalah di Indonesia “ (1995: 137), menyebutkan surat kabar Poetri Mardika tercantum nama percetakannya yaitu NV. Drukkerij Boedi Utomo Surakarta. Surat kabar ini mengandalkan pembiayaannya dari para pelanggannya.

Akan tetapi, meskipun demikian apapun yang telah direncanakan oleh Poetri Mardika dianggap berhasil. Hal ini salah satunya disebabkan oleh kekuatan media massa Poetri Mardika yang tercatat mempunyai banyak pelanggan. Harapan-harapan kemajuan kaum perempuan pun akhirnya mampu tercapai dengan baik.

Begitulah sepenggal sejarah perempuan yang dapat dilihat dalam organisasi Poetri Mardika, semoga bermanfaat. (Erik/R7/HR-Online)

Loading...