Pedagang Kuliner di Bulak Sampih Kota Banjar Minta PJU Ditambah

Pedagang Kuliner di Bulak Sampih Kota Banjar Minta PJU Ditambah
Pedagang kuliner di Bulak Sampih, tepatnya di Jalan Raya Banjar-Langensari, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, berharap adanya fasilitas lampu penerang jalan umum (PJU). Foto: Aisyah/HR

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Pedagang kuliner di Bulak Sampih, tepatnya di Jalan Raya Banjar-Langensari, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, berharap adanya fasilitas lampu penerang jalan umum (PJU) di sepanjang jalan tersebut, yang kini menjadi salah satu lokasi jajanan kuliner di Kota Banjar.

Pantauan Koran HR, Sabtu (01/08/2020), memang di lokasi tersebut sudah ada PJU yang terpasang, namun hanya baru beberapa saja. Sehingga, di sejumlah titik masih terlihat gelap ketika memasuki malam hari.

Andang (46), salah seorang pedagang kuliner di Bulak Sampih, mengatakan, jika malam hari Jalan Bulak Sampih gelap-gulita karena kurangnya lampu penerangan.

“Saya baru satu 1 minggu berdagang di sini. Kalau hari mulai gelap, sulit untuk mencari penerangan. Lokasi Bulak Sampih ini kan di tengah sawah dan jauh dari rumah warga,” katanya, kepada Koran HR.

Ia juga mengatakan, saat ini fasilitas PJU yang sudah terpasang juga sebagian tertutupi dedaunan. Terlebih cahaya PJU yang ada kurang terang.

Karena tidak ada fasilitas lampu penerang, Andang yang membuka dagangannya sejak pukul 6 pagi, akan tutup pada pukul 6 sore setiap harinya.

Keberadaan para pedagang kuliner di Bulak Sampih yang kini semakin ramai oleh pengunjung, Andang ingin pemerintah menambah fasilitas PJU agar pengunjung bisa sampai malam menikmati jajanan kuliner di lokasi tersebut.

“Kalau ada lampu dan semakin terang, paling tidak warung saya bisa buka sampai jam 10 malam lah. Kalau pedagang yang dekat dengan rumah warga bisa ikut nyolok listrik ke sana, tapi bagi yang di tengah paling alternatifnya pakai lampu yang dicas,” imbuhnya lagi.

Lesehan kuliner milik Andang menyediakan jajanan berupa cilok urat, mendoan, aneka minuman dan soto Purwakarta.

Senada dikatakan Anggi (24), pedagang lontong pecel dan gorengan di kawasan Bulak Sampih. Ia mengkau berjualan di tempat tersebut membantu ibunya. Karena sebenarnya Anggi sendiri sudah bekerja di Bandung.

“Akibat terdampak Covid-19, hingga kini saya belum ada panggilan kerja lagi. Jadi ya saya bantu ibu lah, dari pada nungguin ke kota tapi belum dipanggil juga,” tuturnya.

Minta Tambah Fasilitas PJU

Anggi juga menginginkan pemerintah ikut memfasilitasi warung pinggir Jalan Bulak Sampih dengan menambahkan fasilitas PJU. Jika area jajanan kuliner tersebut terang benderang saat malam hari, maka pengunjung pun akan terus berdatangan hingga malam.

“Pelanggan juga tidak akan terburu-buru meski datangnya ke sini menjelang maghrib. Kalau sekarang kan mereka takut kemalaman karena di sininya gelap,” ungkapnya.

Anggi membuka warung milik ibunya dari siang, yakni setelah solat dzuhur, dan akan menutupnya jika hari sudah mulai gelap. Anggi dan ibunya berasal dari Desa Padaringan, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis.

Setiap hari Senin dan Selasa ia dan ibunya libur berjualan lantaran dalam dua hari itu Bulak Sampih selalu sepi pengunjung. Bahkan terkadang sama sekali tidak ada yang beli.

Berbeda jika hari Minggu atau hari libur lainnya, warung jajanan kuliner di sepanjang Jalan Bulak Sampih selalu ramai pengunjung. (Aisyah/Koran HR)

Loading...