Jumat, Januari 28, 2022
BerandaBerita TerbaruPenemuan Meteorit Pelangi di Kosta Rika Mengandung Karbon

Penemuan Meteorit Pelangi di Kosta Rika Mengandung Karbon

Penemuan meteorit pelangi ternyata berasal dari kawasan Kosta Rika. Tepatnya tahun lalu dan kemungkinan memiliki simpanan yang besar. Terutama yang berkaitan dengan kehidupan.

Meteorit pelangi ini ternyata memiliki hubungan dengan sebuah asteroid. Melansir dari Daily Mail, asteroid tersebut memiliki ukuran sebesar mesin cuci. Ternyata asteroid tersebut telah mendarat alias jatuh ke Bumi.

Baca Juga: Simbol Misterius di Matahari Diduga Pesan Harmoni Dari Alien

Jatuhnya asteroid ini menyebar hingga ke dua desa, yakni kawasan Aguas Zarcas hingga La Palmera yang berjarak jauh. Berbeda halnya dengan meteorit yang muncul pada seluruh Bumi.

Penemuan Meteorit Pelangi Dari Kawasan Kosta Rika

Jatuhnya asteroid tersebut terjadi pada 23 April 2019 lalu. Pecahan hasil asteroid tersebut terbilang begitu istimewa. Para ilmuwan mengasumsikan bahwa asteroid tersebut merupakan sisa lembut dari tata surya.

Pada saat itu, tata surya masih berusia muda dan masih hangat. Kala itu tata surya berasal dari debu yang merupakan hasil perputaran nebula. Kemudian terbentuklah tata surya yang menjadi rumah bagi Bumi.

Penemuan meteorit pelangi dari Kosta Rika tersebut menjadi objek penelitian yang menarik. Asumsi mengenai pembentukan tata surya ternyata berhubungan dengan meteorit. Pada pembentukan tata surya juga terjadi pembentukan bintang yang lebih tua.

Kemudian muncul hujan meteorit secara tiba-tiba atau telah terprediksi lebih dulu. Jika melihat secara kolektif, maka meteorit ini memiliki sebutan Aguas Zarcas.

Baca Juga: Penemuan Kura-kura Emas di Nepal, Benarkah Jelmaan Dewa?

Meteorit ini masuk kategori kelas langka yang memiliki nama Kondrites Karbon. Adanya kandungan ini terbentuk ketika malam hingga kemunculan tata surya. Asumsi selanjutnya adalah kala itu tata surya masih terbalut karbon.

Meteorit yang menampilkan visual pelangi tersebut merupakan batu antariksa yang khusus. Batu ini memiliki kandungan senyawa karbon yang kompleks. Bahkan kemungkinan besar juga mengandung asam amino.

Sehingga penemuan meteorit pelangi ini terbilang menarik. Apalagi asam amino dan karbon tersebut nampaknya berkolaborasi. Hasilnya adalah membentuk kandungan DNA dan protein.

Bahkan terdapat kemungkinan yang lainnya terbentuk. Para ilmuwan mengatakan bahwa blok kehidupan bisa saja terbentuk lebih kompleks. Namun hal ini masih perkiraan yang menjadi penelitian.

Deteksi Meteorit Pelangi yang Unik

Sebelumnya terdapat meteor yang sudah meledak. Kawasan Murchison Australia merupakan tempat yang menjadi saksi meledaknya meteor tersebut. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1969.

Setelah ledakan tersebut, ternyata terdapat asam amino pada bagian tanah liat. Penemuan ini telah masuk dalam laporan sains dari Joshua Sokol. Dalam laporan tersebut juga tersirat kesimpulan.

Nampaknya Bumi berasal dari bahan kimia yang terkandung dalam meteorit. Penemuan meteorit pelangi ini juga dibandingkan dengan meteorit Murchison. Aguas Zarcas memiliki fragmen yang mengandung debu Bima Sakti kuno.

Debu ini menunjukkan waktu ketika Matahari belum terbentuk. Sehingga meteorit ini nampaknya sudah sangat tua daripada Matahari. Joshua Sokol mengungkapkan bahwa meteorit baru masih belum memiliki penelitian lengkap.

Studi Meteorit Pelangi

Para ilmuwan menggunakan teknik dan peralatan modern guna menganalisa. Analisa tersebut mencakup senyawa organik yang kompleks. Pada penelitian yang berlangsung muncul hasil bahwa kandungan Aguas Zarcas tidak ditemukan di Bumi.

Sehingga kemungkinan besar bahwa Aguas Zarcas hadir dengan sampel yang berbeda. Tepatnya sampel yang lebih murni dari tata surya ketika masih baru. Ketika mendarat, penemuan meteorit pelangi ini menjadi hujan untuk Kosta Rika.

Kemungkinan masih ada sampel yang menunjukkan meteorit ini. Joshua Sokol kemudian melakukan perbandingan mengenai meteorit yang pernah terdata. Seperti asteroid Ryugu yang berasal dari Jepang.

Alat yang meluncur untuk menganalisa adalah Hayabusa2. Debu dari asteroid Ryugu menjadi objek penelitian tersebut. Para ilmuwan mengungkapkan bahwa asteroid tersebut juga mengandung chondrite karbon.

NASA juga memberikan prediksi yang akan datang. Perkiraannya akan datang sekitar tahun 2023. NASA memperkirakan bahwa meteorit tersebut memiliki keterkaitan dengan Aguas Zarcas, yakni memiliki sampel dengan debu dari Bima Sakti ketika muda.

Potongan asteroid yang berhasil terkumpul memiliki karakteristik murni. Bahkan faktanya tidak pernah menyentuh atmosfer. Namun hal ini masih menjadi pertimbangan. Begitupun dengan meteorit dengan tampilan pelangi.

Penemuan meteorit pelangi yang memiliki nama Aguas Zarcas ini merupakan senyawa karbon. Kemungkinan besar masih ada banyak benda luar angkasa yang akan berkunjung ke Bumi. Entah beberapa tahun yang akan datang. (R10/HR-Online)

- Advertisment -