Profil Haji Misbach, Penganut Ajaran Komunisme di Masa Kolonial

Profil Haji Misbach
Profil Haji Misbach. Foto: Net/ist

Profil Haji Misbach cukup menarik perhatian karena ia seorang tokoh agamawan. Haji Misbach dikenal sebagai penganut komunisme untuk melawan penjajahan. Bagaimana potretnya selama ia hidup?

Ketika berbicara paham komunisme, banyak yang berpikir masalah pembunuhan, kekerasan atau atheis.

Padahal, stigmatisasi paham komunisme yang dianggap membahayakan itu sudah ada sejak masa kolonial Belanda.

Saat itu paham komunisme menyebar diseluruh Hindia Belanda, pembawanya adalah orang berkebangsaan Belanda bernama Hendricus Josephus Franciskus Marie Sneevliet.

Paham ini banyak diminati kalangan buruh dan petani ajarannya dinilai yang sering memperhatikan kondisi masyarakat marginal saat itu.

Baca juga: Gerakan Bawah Tanah, Strategi Pemuda Usir Jepang dari Indonesia

Profil Haji Misbach, Sosok Komunis yang Agamis

Ia tercatat sebagai seorang Haji dan tokoh agama yang di hormati di Surakarta Jawa Tengah. Haji Mohammad Misbach, begitu nama lengkapnya.

Meskipun ia tak sepopuler Cokroaminoto pemimpin SI, dan Sukarno, namun Ia adalah sosok yang berperan penting dalam sejarah pergerakan Indonesia. 

Berbeda dengan “Haji” pada umumnya, ia memilih paham komunisme untuk jalan perang melawan kapitalisme Belanda yang banyak merugikan bangsa.

Berdasarkan latar belakangnya, Haji Misbach mendapat pendidikan pesantren, sekaligus pernah menjadi siswa sekolah Bumi Putera Angka II.

Ia tidak pernah mengerti bahasa Belanda dan tidak punya kawan-kawan dari Belanda, namun ia sangat fasih berbahasa Arab.

Profil Haji Misbach yang lahir tahun 1876 di Kauman Surakarta ini datang dari keluarga penjual batik, bahkan terbilang sukses.

Saat masih kecil ia memiliki nama Achmad. Namun setelah menikah berganti nama menjadi Darmodiprono.

Namun ketika sesudah menunaikan ibadah haji, ia berganti nama lagi menjadi Mohammad Misbach, tutur Nor Hiqmah, dalam bukunya berjudul “ H.M Misbach: Kisah Haji Merah” (2008:2).

Semasa kanak-kanak, Misbach hidup dan besar di lingkungan keagamaan Keraton. Orang tuanya ingin melihat Misbach pandai bergama dan menyekolahkan dia ke pesantren.

Setelah dewasa Misbach sempat menggeluti dan sukses dalam usaha dagang batik. Tapi wataknya yang revolusioner mendoronganya untuk meninggalkan usaha tersebut dan bergabung dengan organisasi SI Merah pimpinan Semaun.

Dari sinilah pertama kali Haji Misbach bergabung dengan Partai Komunis Indonesia.

Menurut Yus Pramudya Jati, dalam pengantar buku berjudul “Haji Misbach Sang Propagandis” (2016: xxii) menyebut profil Haji Misbach ini mulai kenal dengan komunisme sejak dari terjadinya perpecahan di tubuh SI.

Baca juga: Gerakan Ratu Adil: Peran Tokoh Agama Mengusir Kolonial Belanda

Perkembangan Komunis Hindia Belanda

Perkembangan paham di Hindia Belanda ini bermula sejak datangnya Hendricus Josephus Franciskus Marie Sneevliet yang membawa ajaran Marxisme- Leninisme dari Belanda.

Menurut Wahyu Wirawan, (Alumnus Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta), menyebut, sebelum pergi ke Hindia Belanda, Sneevliet aktif dalam partai buruh bernama SDAP (Sociaal Democractische Arbeiders Partij).

Adapun pada tahun 1909 Sneevliet keluar dari SDAP dan menekuni dunia perdagangan.

Sementara menurut M.C. Ricklefs dalam buku berjudul “Sejarah Indonesia Modern” (2005:260), Sneevliet tiba di Indonesia pada tahun 1913.

Awalnya dia berprofesi sebagai anggota staf redaksi pada kantor surat kabar Soerabajaasch Handelsblaad, namun ia hijrah ke Semarang dan bekerja sebagai sekretaris di perusahaan Belanda, Semarangasche Handelvereniging.

Pada 9 Mei 1914, Sneevliet bersama kawannya B.J.A Bransteder, H.W Dekker, P. Bergsma dan Semaun mendirikan organisasi embrio dari Partai Komunis Indonesia, bernama Indische Sociaal Democratisch Vereniging (ISDV).

Perpecahan Sarikat Islam

Profil Haji Misbach selanjutnya, pada awalnya ISDV ingin mencoba bergabung dengan organisasi besar dan revolusioner bernama Insulinde, akan tetapi hal ini tidak tercapai dan kerjasama tidak diperoleh.

Namun menurut Ricklefs, jika dilihat dari perkembangan ISDV memiliki anggota yang begitu pesat setelah organisasi ini bergabung dengan organisasi Sarekat Islam (SI).

Bahkan beberapa anggota SI merah masuk ke dalam ISDV dan mengikrarkan Perserikatan Komunisme Hindia pada tahun 1920, dan mengubahnya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI)  pada tahun 1924.

Adapun anggota SI berhaluan merah yang dipimpin oleh Semaun ini sebelumnya merupakan anak cabang dari SI pimpinan pusat Cokroaminoto, namun perpecahan terjadi didalam tubuh Sarikat Islam.

Konflik tersebut disebabkan oleh adanya kader SI yang rangkap jabatan di dalam tubuh ISDV, hal ini menurut Cokroaminoto sudah menyalahi aturan SI.

Namun Semaun tidak mempedulikan itu, dan mendirikan kelompok baru yang dinamai dengan SI merah.

Begitulah profil Haji Misbach sebagai figur muslim yang revolusioner. Adapun tulisan ini dibuat sebagai bahan pengetahuan dan pencerahan guna meluruskan sejarah yang sudah dibengkokkan pada masa orde baru silam. (Erik/R6/HR-Online)