Sejarah Gunung Krakatau Meletus, Banyak Hewan Berperilaku Aneh

Gunung Krakatau Meletus
Ilustrasi Gunung Krakatau meletus. Foto: Net/Ist

Gunung Krakatau meletus menjadi peristiwa paling dahsyat pada tahun 1883. Krakatau meletus ini membuat banyak orang menderita. Lalu bagaimana sejarahnya?

Menurut beberapa catatan, pada tahun tersebut gunung ini meletus dan banyak menimbulkan penderitaan bagi penduduk desa berbagai penjuru terutama daerah Banten.

Orang Belanda yang pada saat itu menguasai Indonesia pun banyak merasakan kesulitan, bahkan pernah kelaparan karena ladang pertanian rusak.

Sejarah Gunung Krakatau Meletus

Krakatau adalah sebuah gunung api di perairan selat Sunda yang pernah menyebabkan bencana besar bagi dunia pada abad 19.

Saat 26 Agustus 1883, Krakatau meletus hingga membuat tsunami serta menggembuskan awan panas. Sehingga menewaskan ribuan penduduk dari berbagai wilayah, terutama Banten.

Baca juga: Gempa Bumi Paling Dahsyat di Dunia

Menurut beberapa kesaksian, saking dahsyatnya letusan gunung ini, suaranya sampai terdengar hingga Australia.

Peristiwa tsunami yang terjadi sejak Gunung Krakatau meletus ini dapat terlihat dari tulisan Romi Zarman dalam jurnal ilmiahnya.

Menurut Romi, pada tahun 1937  terdapat satu orang yang selamat dan masih hidup bernama Ong Leng Yauw.

Ong menjadi saksi hidup peristiwa meletusnya gunung Krakatau tahun 1883 saat masih berusia 14 tahun.

Tatkala gelombang tsunami menghantam salah satu desa yang bernama Karangantu, kata Ong, ia berada agak jauh dari bibir pantai.

Menurut kesaksiannya, air laut yang naik mencapai tiga meter tingginya dan ia pun terhanyut dan selamat karena tersangkut pada sebuah batang pohon kelapa.

Perayaan Hari Besar Tionghoa

Menurut Ong Leng, pada waktu terjadinya peristiwa Gunung Krakatau meletus itu, pelabuhan Karangantu sedang ramai berbagai tamu dari Batavia.

Waktu itu baru saja berlangsung perayaan Hari Besar Tionghoa Kwam-Im Hoedtjouw. Salah satu tamu yang hadir dalam perayaan itu seperti sebuah grup kesenian yang terkenal dari Batavia.

Masih dari catatan Romi, hanya empat orang yang selamat dari peristiwa besar itu, antara lain yakni, Ong Leng Yauw, Ong Boen Seng, Roti Nio, dan Biskoeit Nio.

Baca juga: Gunung Anak Krakatau Erupsi, BMKG; Tak Berpotensi Tsunami

Keanehan Binatang

Menurut Budi Gustaman, dalam Jurnal Ilmiah berjudul “Binatang-binatang sekitar Letusan Krakatau 1883” (Jurnal Sejarah, Vol. 2, (2), 2019: 2), menyebut sebelum peristiwa itu, telah terjadi keanehan pada prilaku hewan sekitar pesisir Banten.

Bahkan, dari kesaksian Johanna Beyerinck, kuda-kuda banyak yang mengamuk, ayam mogok bertelur, kera dan burung tak lagi terlihat pada pepohonan.

Tak hanya itu, rombongan sirkus bernama Wilson’s Great World Circus yang tampil di Batavia pada tanggal 30 Juli 1883, merasakan hal yang sama sebelum Gunung Krakatau meletus.

Tim sirkus  menyaksikan sebuah kejanggalan pada gajah kecil kesayangannya yang tiba-tiba berprilaku aneh saat tampil manggung.

Sesudah meletus, bukan berarti penderitaan selesai begitu saja, namun memunculkan derita baru bagi masyarakat dan hewan-hewan.

Masih dalam catatan Budi, sekitar tahun 1886 terjadi wabah harimau (tijger plague) di wilayah Banten Selatan, seperti Caringin dan Ujung Kulon.

Wabah tersebut timbul akibat kurangnya mangsa dalam hutan, dan kejadian ini tercatat sebagai kasus penyerangan harimau terhadap manusia yang sangat tinggi.

Begitulah sejarah Gunung Krakatau meletus yang menjadi peristiwa paling heboh dan mendunia, bahkan sampai saat ini masih menarik untuk menambah wawasan. (Erik/R6/HR-Online)