Sejarah Jemparingan, Alat Olahraga Tradisional Khas Kerajaan Mataram

Sejarah Jemparingan
Potret para abdi dalem Keraton Hadiningrat tengah berolahraga dengan memainkan Jemparingan khas kerajaan Mataram. Foto: Keraton Jogya

Sejarah Jemparingan berkaitan erat dengan masa kejayaan Mataram pada abad ke-15. Jemparingan merupakan alat olahraga tradisional yang multifungsi.

Alat ini menjadi bagian dari keseharian lingkungan kerajaan. Selain sebagai alat olahraga, Jemparingan juga merupakan alat berburu hewan di hutan.

Baca Juga: Biografi Pangeran Diponegoro dan Sejarah Perang Diponegoro

Sejarah Jemparingan

Rifaudi Yusuf Bactiar, dalam bukul “Merawat Nilai-nilai Budaya Jawa Melalui Perspektif Kearifan Lokal di Yogyakarta” (2016: 187), menjelaskan pengertian Jemparingan.

Menurut Rifaudi, Jemparingan adalah suatu kegiatan olahraga yang menggunakan busur untuk menembakkan anak panah. Alat ini diperkirakan sudah digunakan sekitar tahun 1600 sesudah masehi.

Adapun fungsi awal Jemparingan merupakan sebuah senjata utama setiap kerajaan, termasuk Mataram. Bukti lain menunjukan Jemparingan sudah digunakan sejak 5000 tahun lalu. Awalnya digunakan untuk berburu kemudian berkembang sebagai senjata dalam pertempuran.

Dalam sejarah Mataram, Jemparingan sudah ada sejak masih bertahtanya raja Mataram pertama, atau HB I. Raja Mataram pertama ini digagas dari mitologi tokoh-tokoh pewayangan cerita Mahabarata pada masa kejayaan Hindu, seperti tokoh Arjuna, Sumantri, Ekalaya, Dorna, dan Srikandi.

Baca Juga: Poligami di Minangkabau, Pernah Dilarang Pada Masa Kolonial

Perkembangan selanjutnya dalam sejarah Jemparingan, alat ini menjadi media olahraga pertama di Kerajaan Mataram. Jemparingan semakin diminati publik sejak diperkenalkannya di lingkungan istana Pura Pakualam pada tanggal 12 Juli 1953, atas prakarsa Raja Sri Pakualam VIII.

Ide Jemparingan Terinspirasi dari Alat olahraga Panahan Raja Charles II di Inggris

Menurut Nadya Dwi Oktafirandan, dalam buku “Teknik Dasar Olahraga Panahan“ (2017: 2), Sri Pakualam VIII telah terinspirasi oleh ide Raja Charles II dari Inggris sekitar tahun 1676.

Raja Charles II menggunakan Jemparingan sebagai media olah raga yang dapat dipertandingkan. Selain di Inggris, Amerika salah satu negara yang mengikuti jejak Inggris meniru ide Raja Charles II. Sejarah mencatat pada tahun 1879 digelar pertandingan Jemparingan di Chicago.

Pada tahun 1959 atas prakarsa Sri Pakualam VIII, Indonesia diterima sebagai anggota FITA (Federation Internasionale de Tir A Lare) dalam sebuah kongres yang diadakan di Osla Norwegia.

Sejarah mencatat sejak saat itu, Jemparingan mulai dikenal dan dipopulerkan di tengah masyarakat Indonesia dengan sebutan olahraga Panahan.

Sejak ide Sri Pakualam VIII dan seiring berkembangnya olahraga Jemparingan atau panahan semakin banyak digemari oleh berbagai kalangan masyarakat luas.

Minat masyarakat terhadap olahraga Jemparingan membuat perkembangan yang sangat signifikan. Beberapa pendapat menyebut budaya Jemparingan Mataram sudah menyebar di berbagai wilayah di Nusantara.

Cara Membuat Jemparingan Khas Mataram

Alat-alat untuk membuat Jemparingan terdiri dari, busur yang terbuat dari Gandhewa dan anak panah yang dibuat dari kayu yang diruncingkan seperti menyerupai jeruji lancip. Adapun pengertian Gandhewa adalah sebuah busur panah yang pada umumnya terbuat dari bilah kayu.

Tak sembarang kayu bisa digunakan untuk membuat Gandhewa atau busur. Pada masa kerajaan Mataram, Gandhewa biasanya terbuat dari Kayu Wulet atau sebuah kayu yang mudah dibuat setengah bulat.

Selain kayu berjenis Wulet, beberapa keterangan lain menyebut, Gandhewa dibuat dengan menggunakan jenis kayu lentur lainnya seperti, Berleyan, Walikukum dan Secang.

Pendapat lain menyebut pula, selain dibuat dari kayu, Gandhewa sering ditemukan berbahan baku bambu. Bambu yang digunakan pada umumnya bambu yang berjenis Ori atau Petung, dan dipilih yang paling tua, sekurang-kurangnya berumur 7 tahun.

Bahan kelengkapan lainnya berupa, pipa besi, kayu sonokiling, kayu walikukum, kulit sapi, benang rami, dan benang jahit.

Memainkan Jemparingan

Sebagaimana memainkan panahan begitu juga dengan memainkan Jemparingan, semuanya terbilang cukup mudah. Hanya untuk menentukan keakuratan menembak tepat pada sasaran diperlukan latihan yang konsisten dan sesering mungkin.

Menurut Moertjipto, dkk dalam bukunya berjudul “Bentuk- bentuk Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Daerah Istimewa Yogyakarta” (1991:41), menyebut idealnya memainkan Jemparingan dapat dilakukan pada waktu berlatih, dan pada saat mengikuti pertandingan.

Selain membuat senang karena dapat bertemu dengan teman baru, hal ini juga mampu melatih kualitas konsentrasi pemain Jemparing semakin tinggi.

Begitulah sejarah Jemparingan sebagai media olahraga khas kerajaan Mataram. Olahraga Jemparingan atau Panahan adalah salah satu bentuk kearifan lokal Indonesia yang masih eksis di tengah kemajuan zaman. (Erik/R7/HR-Online)