Sejarah KA Banjar-Pangandaran, Dibangun dari Antusias Swasta Belanda

Sejarah KA Banjar-Pangandaran
Sejarah KA Banjar-Pangandaran saat dibangun Belanda. Foto: Net/ist

Sejarah KA Banjar-Pangandaran dahulu dibangun oleh para swasta Belanda di Jawa Barat. Sejarah KA yang sudah tak aktif ini, namun petilasannya masih dapat dijumpai. Lalu bagaimana sejarahnya?

Menurut ahli sejarah, pembangunan kereta api jurusan Banjar Pangandaran awalnya tidak disetujui oleh pemerintah kolonial.

Pasalnya,  pembangunan tersebut tidak strategis dengan rencana ekonomi Belanda yang sudah diperkirakannya.

Akan tetapi para pengusaha swasta Belanda menilai lain yang justru sebaliknya menguntungkan.

Menurut para pengusaha, jika pembangunan jalur ini dapat dilaksanakan, maka jalur tersebut memiliki potensi kuat guna mengembangkan wilayah Priangan selatan.

Usulan ini pun diajukan kepada utusan kolonial pusat, namun dengan berbagai alasan hal tersebut tidak disetujuinya.

Baca juga: Sejarah Kereta Api Indonesia

Sejarah KA Banjar– Pangandaran

Menurut Agus Mulyana dalam bukunya yang berjudul “Sejarah Kereta Api di Priangan” (2017: 131), mengungkapkan, terdapat beberapa permohonan dari swasta yang menginginkan pembangunan.

Mereka berharap agar jalur kereta api dari Parigi, Kalipucang dan Banjar, melalui wilayah pesisir pantai.

Swasta menilai ke depannya dapat memberikan keuntungan perusahaan, termasuk mengembangkan wilayah selatan di Priangan.

Agus menyebut, seorang pendiri perusahaan swasta Belanda bernama Eekhout, di tahun 1904  telah mengajukan gagasan kepada pemerintah.

Gagasannya membangun jalur kereta api dari Banjar melewati Kalipucang, serta dari arah Parigi sampai Garut (Pamempeuk).

Akan tetapi sebelum jalur itu diusulkan, swasta Belanda justru lebih awal mengajukan pembangunan KA Banjar-Garut yang melintasi daerah Kalipucang dan Parigi, namun ditolak.

Baca juga: Lanjutan Reaktivasi Jalur Kereta Api Banjar-Pangandaran

Dalam sejarah KA Banjar-Pangandaran ini, pada April 1892 swasta Belanda pernah menyampaikan rencana membangun jalur kereta yang sama dengan tujuan mengembangkan daerah selatan Priangan.

Akan tetapi  dipermohonkan dengan jalur yang berbeda. Swasta mengajukan pembangunan jalur kereta pendek di daerah Priangan, melintasi teluk Wijnkoop, menuju Jawa Tengah yang dekat dengan Kalipucang.

Akan tetapi permohonan tersebut tetap ditolak oleh pemerintah, terutama oleh Panglima Militer Belanda waktu itu.

Lantas pihak swasta ini pun memiliki beragam alasan hipotesa atas penolakannya itu.

Penolakan ini disebabkan oleh karena daerah tersebut merupakan jalan kepentingan tentara yang harus dikelola oleh para petinggi pemerintah, bukan swasta.

Para petinggi pemerintah pun setuju dengan usulan Panglima Militer Belanda itu, sehingga permohonan swasta ditolak kembali.

Masih soal sejarah KA Banjar-Pangandaran, pada tanggal 14 April 1899 melalui surat keputusan pemerintah nomor 13, permohonan swasta diterima, dengan catatan harus mengubah jalurnya.

Yakni, dari Sukabumi ke selatan menuju Sagaranten. Penerimaan jalur ini ditandai dengan pernyataan pemerintah dengan No. 19, pada bulan Juli tahun 1900.

Seiring dengan dikabulkannya permohonan oleh pemerintah, swasta pun diperbolehkan juga atas permohonannya untuk membangun jalur kereta api modern yang digerakan oleh uap dan listrik untuk lajur priangan selatan di sekitar Sukabumi.

Tanah yang Subur di Pangandaran Mendukung

Tahun 1904, menurut Agus, swasta yang dipimpin oleh perusahaan perkebunan terkenal keluarga Belanda, memohon izin untuk membangun jalan kereta api yang memanjang dari Banjar lewat Emplak, sampai Cijulang dan berakhir di Garut.

Dalam sejarah KA Banjar-Pangandaran ini, mereka beralasan karena akan banyak melewati perkampungan yang masih sepi masyarakatnya.

Nantinya mereka akan memanfaatkan wilayah yang sangat strategis itu untuk dikembangkan.

Di sebelah barat Parigi sampai melewati hutan Selatan masih sedikit masyarakatnya, begitu juga dengan daerah Emplak-Pangandaran- dan Cijulang.

Meski terdapat segelintir masyarakat di sana yang hidup sangat sederhana, namun mereka serba cukup dari hasil bertani.

Sumber pertanian penduduk di daerah-daerah tersebut diketahui banyak dipakai untuk kebutuhan pangan sendiri sehingga mereka hidup berkecukupan.

Sebelum ada pembangunan lajur kereta api di Pangandaran, para petani sukar untuk menghasilkan uang dari hasil berkebunnya.

Kesukaran-kesukaran itu diakibatkan oleh uang transport yang mahal, karena masih menggunakan energi manual seperti alat angkut yang digerakan oleh tenaga Hewan.

Sejarawan mencatat sejarah KA Banjar-Pangandaran, saking sulit untuk menjual padinya, masyarakat di sana masih ada yang menyimpan padi hingga tahunan, bahkan ada juga yang sampai puluhan tahun.

Oleh karena itulah perusahaan perkebunan milik keluarga Belanda tadi, diterima oleh pemerintah kolonial.

Perusahaan perkebunan Belanda akan menyulap wilayah pesisir Selatan dengan pembangunan kereta, sehingga akan membangun taraf hidup petani di Pangandaran. 

Baca juga: Jalur Kereta Api Banjar-Cijulang Dibangun Belanda untuk Ekploitasi Ekonomi

Menurut pengusaha keluarga Belanda ini jalur yang dibangun melewati Pangandaran bakal berpengaruh luas bagi perkembangan daerah hingga ke perkampungan sungai Citanduy Kalipucang.

Dengan dibangunnya jalur ini, penduduk akan mudah meningkatkan produksi pertanian karena mereka akan menanam tanam-tanaman yang tidak hanya untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Tetapi juga tanaman yang mudah dijual sebagai bekal atau oleh-oleh pengunjung yang turun di Pangandaran, atas pengawasan perusahaan perkebunan milik Belanda tadi.

Begitulah sejarah KA Banjar-Pangandaran yang mana dapat menambah wawasan pengetahuan lokal. (Erik/R6/HR-Online)