Warga Ciamis Kembali Keluhkan Tekanan Gas Elpiji Berkurang

Warga Ciamis Kembali Keluhkan Tekanan Gas Elpiji Berkurang
Warga Ciamis keluhkan tekanan gas elpiji berkurang dan sering langka. Foto:Ilustrasi/Net

Berita Ciamis (harapanrakyat.com).- Sejumlah warga di Kabupaten Ciamis Jawa Barat, kembali mengeluhkan kerap berkurangnya tekanan gas elpiji subsidi tiga kilogram. Kurangnya isi gas elpiji bisa diketahui melalui kilometer regulator yang dipasang pada tabung gas sebelum dialirkan ke kompor.

Lina (35), salah serang warga Kelurahan Sindangrasa, Kecamatan Ciamis, ketika ditemui Koran HR, Selasa  (04/08/2020), mengatakan, tidak biasanya gas elpiji tiga kilogram yang dibelinya dari warung isi tekanan gasnya berkurang. Hal itu terlihat dari kilometer regulator.

“Dengan berkurangnya tekanan gas dipastikan pemakaian tidak akan lama dan ditaksir hanya kuat 5 hari saja. Karena saya hampir setiap hari memasak,” ujarnya.

Lina mengaku baru kali ini mendapatkan gas yang isi tekanannya berkurang. Padahal sebelumnya setiap membeli gas isinya selalu full dan bisa digunakan hingga dua minggu pemakaian.

Bahkan kata Lina, saat ini sering terjadi kelangkaan pasokan gas di warung. Sampai-sampai dia sempat menggunakan tungku kayu bakar lantaran persediaan gas di warung yang berada di sekitar rumahnya kosong.

“Kalau urusan harga gas elpiji bagi saya tidak terlalu masalah. Karena pemilik warung juga ingin mengambil untung. Permasalahannya sering terjadi kelangkaan dan kalaupun ada isi tekanannya selalu berkurang,” ujarnya.

Untuk itu, Lina meminta Pemkab Ciamis untuk melakukan pengawasan dalam pendistribusian gas dan melindungi konsumen dari kecurangan. “Kami sebagai masyarakat dan konsumen tentunya ingin ada kepastian pasokan gas yang tidak pernah langka dan tidak ada kecurangan pada isi tekanan gasnya,” tegasnya.

Pemkab Belum Bisa Awasi Gas Elpiji ke Tingkat Warung

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kabupaten Ciamis, David Firda, mengatakan, terkait masalah harga tabung gas elpiji pertamina, pihaknya hanya mengawasi dari agen hingga ke pangkalan di setiap daerah. Sementara untuk harga jual di warung belum bisa mengawasi.

“Untuk harga di pengecer seperti warung, biasanya itu kesepakatan antara pangkalan dengan pemilik warung. Namun kalau melebihi harga yang sudah ditentukan, kami pasti akan mengambil tindakan tegas kepada pangkalan,” katanya, kepada HR Online, Selasa (04/08/2020).

Sementara untuk masalah kurangnya tekanan gas yang dikeluhkan warga, kata David, pihaknya dalam waktu dekat akan melakukan sidak kepada agen dan juga pangkalan gas elpiji. Hal itu guna mengetahui berapa tekanan gas sebenarnya yang ada dalam tabung tiga kilogram saat masih berada di agen dan pangkalan.

“Kalau nanti hasil sidak diketahui ada kecurangan, maka kami akan memanggil pihak pertamina yang mengeluarkan gas elpiji tersebut sebagai bukti perlindungan terhadap konsumen,” pungkasnya. (es/Koran HR)

Loading...