Aliran Kebatinan Sapta Darma di Yogyakarta, Berawal dari Tukang Cukur

Aliran Kebatinan Sapta Darma
Potret Hardjosapuro (Sri Gutomo), pencetus aliran kebatinan Sapta Darma pada tahun 1952. Foto: Ist/Net

Aliran kebatinan Sapta Darma adalah salah satu aliran kepercayaan yang tumbuh subur di Yogyakarta. Penghayat kebatinan adalah sebuah aliran kepercayaan yang dianut seseorang dari warisan leluhur yang sudah lama ditinggalkan. Aliran ini biasanya dianut kuat oleh beberapa orang terutama di daerah Jawa.

Hernawan dalam “Merawat Nilai-nilai Budaya Jawa Melalui Persektif Kearifan Lokal di Yogyakarta” (2016:61), menyebut Yogyakarta merupakan daerah pusat penghayat kebatinan tertinggi di Indonesia.

Baca Juga: Sastrawan Betawi S.M Ardan dan Potret Jakarta Tahun 1950

Sejarah Lahirnya Aliran Kebatinan Sapta Darma

Sebelum mengenal aliran kebatinan Sapta Darma, ada baiknya kita simak pengertian penghayat kebatinan terlebih dahulu. Apa itu penghayat kebatinan?.

Menurut Abu Su’ud dalam “Ritus-Ritus Kebatinan” (2001:12), penghayat kebatinan pada dasarnya merupakan upaya dengan maksud meningkatkan keluhuran budi dalam hubungannya dengan sesama manusia maupun dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu, Stange Paul dalam “Kejawen Modern: Hakikat dalam Penghayatan Sumarah” (2009:5), mengartikan penghayat kebatinan sebagai naluri seseorang yang berkaitan dengan adat istiadat leluhur Jawa yang tidak termasuk dalam ajaran Islam. Tetapi juga tidak dikategorikan dalam agama yang pernah berkembang di Jawa sebelumnya.

Belakangan Hernawan (2016:62) menyebut, terdapat berbagai aliran kebatinan yang berkembang di Indonesia. Aliran-aliran yang tergolong besar muncul pada paruh pertama abad ke-20.

Adapun aliran kebatinan yang muncul pada abad tersebut memiliki basis masa yang kuat dan terorganisir, lengkap dengan kepengurusan dan anggaran dasar atau anggaran rumah tangga.

Menurut Hernawan, kemunculan gerakan ini dilatar belakangi oleh adanya suatu bentuk perubahan pola kehidupan masyarakat yang awalnya tradisional menjadi modern.

Dalam perkembangannya, aliran kebatinan Sapta Darma muncul pada paruh pertama era kemerdekaan di Yogyakarta, tepatnya pada tahun 1952.

Hernawan (2016:63), menyebut pula aliran kebatinan Sapta Darma sebagai sebuah representasi dari adanya kearifan lokal masyarakat Jawa yang berbentuk kepercayaan.

Dalam perkembangannya hingga saat ini kepercayaan Sapta Darma masih bisa bertahan ditengah arus global dan perkembangan tekhnologi yang semakin pesat.

Perkembangan Aliran Kebatinan Sapta Darma

Aliran Kebatinan Sapta Darma adalah salah satu kepercayaan yang berkembang di Jawa, dengan pusat penyebarannya di Yogyakarta. Mengapa diberi nama Sapta Darma?

Baca Juga: Sejarah Boven Digoel, Kamp Tahanan Paling Seram Zaman Belanda

Menurut As’ad I, Hafidi dalam “Aliran-Aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia” (1977: 35), nama tersebut diambil dari kandungan tujuh macam “mewarah” suci yang merupakan kewajiban suci penganutnya.

Secara etimologis mewarah adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh para penghayat kebatinan Sapta Darma.

As’ad I, Hafidi (1977:79) memiliki pandangan berbeda dengan Hernawan (2016:62). As’ad menyebut aliran kebatinan Sapta Darma terlahir di Pare, Kediri Jawa Timur, bukan di Yogyakarta. Ia juga menuturkan, ajaran ini dimulai oleh seorang yang bernama Harjosapuro.

Harjosapuro berasal dari desa Sanding, daerah yang masuk dalam kawedanan Pare. Ia merupakan seorang yang bersahaja, lugu, nan sederhana. Meski ia tak pernah belajar agama apapun secara khusus, tetapi menurut As’ad, Harjosapuro memiliki kepercayaan yang kuat kepada Tuhan yang sifatnya Esa.

Pada sehari-hari, Harjosapuro berprofesi sebagai tukang cukur. Selain itu ia juga dikenal sebagai orang yang piawai membuat blangkon Jawa.

As’ad juga menuturkan, Harjosapuro menerima wahyu ajaran Sapta Darma di kediamannya, di Pare pada tanggal 26 Desember 1952. Namun mulai tanggal 18 Agustus 1956 ia baru berani menyebarkannya di seluruh pelosok Jawa termasuk di Yogyakarta.

Hernawan (2016:67), menyebut penyebaran Sapta Darma tidak selamanya berjalan dengan mulus. Beberapa pengikut kebatinan Sapta Darma dikabarkan sering diintimidasi masyarakat dan dilarang menyebarkan ajaran tersebut karena dianggap menyesatkan.

Dari peristiwa tersebut aliran Sapta Darma meredup hingga muncul kembali pada tahun 1956 di Yogyakarta, Semarang, dan beberapa tempat lain di Jawa Tengah. 

Aliran Kebatinan Sapta Darma muncul dan Berkembang di Yogyakarta

Setelah Aliran kebatinan Sapta Darma muncul kembali pada tahun 1956, ternyata berkembang pesat pada tahun 1959 di Yogyakarta. Hal ini seperti dikutip dari Kedaulatan Rakyat “10 Balung Pakel Eloke Digawe Dewe” (22/3/1962: No.2).

Koran tersebut mengabarkan pada tanggal 9 Juli 1959 di Desa Blekik, Sleman, Yogyakarta, telah terjadi peristiwa yang menggemparkan.

Siswoyo yang oleh masyarakat umum di Yogyakarta dianggap penganut aliran kebatinan Sapta Darma, dibantu dengan 14 orang lainnya, termasuk saudara kandungnya, mengobati kakaknya bernama Samibadriyah, yang mengalami sakit jiwa dan sembuh.

Dari peristiwa ini kemudian muncul nama Sri Suwartini (Mahasiswa Fakultas Hukum, UGM) sebagai juru bicara Harjosapuro dalam membesarkan Sapta Darma di Yogyakarta.

Adapun setelah berganti nama menjadi Putri Sri Panewang, pusat aliran kebatinan Sapta Darma dipindahkan dari Kediri ke Yogyakarta, hingga sekarang.

Begitulah sejarah aliran Sapta Darma yang masih hidup hingga saat ini di Yogyakarta. Masyarakat Yogyakarta menganggap hal ini sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa, yang tidak perlu dilebih-lebihkan. (Erik/R7/HR-Online)