Gastrointestinal Jadi Gejala Covid-19, Begini Penjelasan Para Peneliti

Gastrointestinal jadi gejala Covid-19. Foto: Ilustrasi/Net.
Gastrointestinal jadi gejala Covid-19. Foto: Ilustrasi/Net.

Gastrointestinal jadi gejala Covid-19. Meningkatnya pencarian internet mengenai gejala gastrointestinal kemungkinan berkaitan dengan peningkatan kasus Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir.

Demikian ungkapan para peneliti di rumah sakit peringkat teratas Boston, yakni Rumah Sakit Umum Massachusetts, sebagaimana yang HR Online rangkum dari berbagai sumber, Minggu (13/09/2020).

Penyakit gastrointestinal atau penyakit GI adalah penyakit infeksi yang terjadi pada saluran pencernaan, yaitu lambung, usus besar, usus kecil, rektum. Kemudian, kerongkongan, organ aksesori pencernaan, kandung empedu, hati, dan pankreas.

Menurut para peneliti, hal tersebut menunjukkan adanya gejala peringatan dini baru pada kasus Covid-19. Para peneliti membandingkan hasil penelusuran mengenai hilangnya nafsu makan dan diare, dengan laporan kasus Covid-19 dari 15 negara bagian AS. Laporan tersebut terhitung sejak 20 Januari sampai 20 April 2020.

Google Trends online Alphabet Inc menjadi alat yang mereka gunakan untuk menemukan jumlah penelusuran. Dalam penelusuran itu berkorelasi kuat dengan kasus Covid-19 di New York, California, New Jersey, Massachusetts, serta Illinois. Yang mana beban penyakit meningkat tiga sampai empat minggu kemudian.

Baca Juga : Penyebab Kanker Usus Besar, Waspadai Gaya Hidup Anda

Gastrointestinal jadi Gejala Covid-19

Dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology, penelitian menunjukkan adanya pendekatan serupa dengan tren pandemi influenza yang kala itu berlangsung lebih dari satu dekade.

Dalam kasus Virus Corona, banyak penderita Covid-19 yang sering melaporkan mengenai gejala gastrointestinal. Seperti diare dan sakit perut, sehingga hal ini memicu minat para ilmuwan untuk melakukan penelitian.

Seorang ahli gastroenterologi, sekaligus Direktur Motilitas Gastrointestinal Mass General Laboratorium, Kyle Staller, mengatakan, para peneliti menggarisbawahi bahwa gastrointestinal jadi gejala Covid-19. Karena, gejala gastrointestinal memiliki pertanda potensial dari infeksi virus Corona.

Hal itu juga menunjukkan kalau Google Trends bisa menjadi alat berharga guna memprediksi pandemi, yaitu dengan manifestasi gastrointestinal atau GI.

Para peneliti juga melakukan pengujian terhadap jejak virus corona pada air limbah. Tujuannya untuk mengidentifikasi mana saja tempat-tempat penyebarannya.

Baca Juga : Gejala Awal Corona pada Anak Perlu Diwaspadai

Pendarahan Gastrointestinal

Pendarahan gastrointestinal (pendarahan pada saluran pencernaan) merupakan masalah serius bagi kesehatan saluran pencernaan. Melansir dari Healthline, pendarahan pada saluran pencernaan dapat terjadi pada sejumlah organ penting. Seperti kerongkongan, usus besar, usus kecil, atau rektum anus.

Pendarahan pada kerongkongan, ujung usus kecil atau lambung adalah pendarahan saluran pencernaan bagian atas. Sementara, pendarahan pada usus besar, usus kecil bawah, rektum, dan anus adalah pendarahan saluran pencernaan bagian bawah.

Gastrointestinal jadi gejala Covid-19 karena pendarahan pencernaan yang terjadi memiliki tingkat keparahan yang berbeda-beda. Baik dari skala kecil maupun yang berpotensi dapat menyebabkan kematian.

Gejala

Melansir dari Cleveland Clinic, gejala pendarahan pada saluran pencernaan bisa terlihat jelas atau bisa juga tidak terlihat. Tanda maupun gejalanya tergantung lokasi pendarahan, serta tingkat keparahannya.

Gastrointestinal jadi gejala Covid-19,hal ini akibat gejala pendarahan saluran pernapasan yang muncul secara fisik. Pendarahan ini dapat berupa muntah darah yang berwarna merah, cokelat gelap, bahkan bermimpi bubuk kopi

Selain itu, tinja ketika BAB warnanya hitam dan kering, dan terlihat adanya pendarahan pada anus. Biasanya keluar bersama tinja. Sedangkan, pendarahan pada saluran pencernaan yang tidak terlihat bisa berupa sakit kepala, sulit bernapas, sakit dada dan perut.

Jika tingkat pendarahannya sudah parah, penderitanya bisa sampai mengalami syok. Dalam hal ini penderita mengalami tekanan darah drop, jarang atau susah buang air kecil, detak jantungnya cepat. Bahkan bisa sampai tak sadarkan diri.

Apabila penderita mengalami gejala syok harus segera mendapatkan pertolongan medis. Terlebih penderita sudah muntah darah, tinjanya berwarna hitam ketika BAB, atau sering BAB berdarah.

Baca Juga : Ladies, Ini Gejala Kanker Usus yang Sering Terjadi Pada Wanita

Penyebab

Gastrointestinal jadi gejala Covid-19. Beragam penyebab gastrointestinal (pendarahan saluran pencernana), itu tergantung dari jenis lokasinya.

Misalnya, penyabab pendarahan yang terjadi pada saluran pencernaan atas akibat tukak lambung, yaitu luka yang muncul pada lapisan lambung. Atau luka usus kecil bagian atas. Ini paling umum terjadi.

Penyebabnya bisa akibat efek samping obat atau dari bakteri yang membuat naiknya asam lambung sampai merusak lambung. Selain itu, luka robek selaput lendir yang menghubungkan antara tenggorokan dengan lambung bisa memicu pendarahan.

Penyebab lainnya yaitu pembesaran vena pada esofagus. Ini terjadi bagi penderita penyakit hati dengan kondisi sudah parah. Kemudian, peradangan esofagus akibat penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).

Sedangkan, penyebab pendarahan yang terjadi pada bagian bawah saluran pencernaan sebagai akibat dari penyakit divertikular. Kondisi ini bisa membuat kantong-kantong kecil pada saluran pencernaan terinfeksi kuman.

Penyebab lainnya yaitu radang usus. Ini bisa menyebabkan terjadinya luka pada bagian usus hingga dubur. Kemudian, penyakit Crohn, serta peradangan yang terjadi pada lapisan saluran pencernaan.

Itulah beberapa ulasan terkait gastrointestinal jadi gejala Covid-19 menurut para peneliti yang harus menjadi perhatian. Karena, gejala gastrointestinal memiliki tanda-tanda potensial dari infeksi virus Corona. (Eva/R3/HR-Online)

Loading...