Gaya Hidup Kalangan Muda Picu Derita Saraf Kerjepit, Waspadai!

Gaya hidup kalangan muda dapat memicu terjadinya saraf kejepit. Foto: Ilustrasi/Net.
Gaya hidup kalangan muda dapat memicu terjadinya saraf kejepit. Foto: Ilustrasi/Net.

Gaya hidup kalangan muda dapat memicu terjadinya saraf kejepit. Sakit pada bagian punggung bawah menjadi masalah kesehatan yang bisa mengganggu aktvitas. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya, salah satunya HPN (Herniasi Nukleus Pulposus) atau dikenal dengan sebutan saraf kejepit.

Banyak masyarakat yang mengalami masalah saraf kejepit. Termasuk mereka yang masih berusia muda. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan gaya hidup yang tidak sehat.

Merangkum dari berbagai sumber, dokter spesialis ortopedi RSHS (Rumah Sakit Hasan Sadikin), Ahmad Ramdan, menyebutkan, rata-rata keluhan pasien yang berobat ke RSHS adalah masalah sakit pinggang akibat HNP atau saraf kejepit.

Baca Juga : Sistem Saraf Otonom, Pengertian, Jenis dan Fungsinya Terhadap Organ

Gaya hidup kalangan muda saat ini memicu saraf kejepit. Dulu penderita HPN kebanyakan dari kalangan orang lanjut usia (lansia). Namun, dengan adanya pergeseran pola penyakit, maka penderitanya banyak terjadi pada kalangan mudia.

Bahkan, jumlahnya pun semakin meningkat, dan yang menjadi penyebabnya adalah pola kerja yang tidak sehat atau tidak baik.

Sedangkan, penyebab saraf kejepit pada usia lanjut akibat penuaan. Karena, seiring dengan bertambahnya usia, kadar air dalam bantalan sendi hilang. Akibatnya bantalan sendi menjadi pecah-pecah, rapuh, dan bergeser sehingga tidak fleksibel.

Gaya Hidup Kalangan Muda Picu Saraf Kerjepit

Saraf kejepit yang terjadi pada kalangan usia muda penyebabnya adalah pola kerja yang tidak sehat. Seperti duduk atau berdiri terlalu lama, dan sering naik turun tangga.

Atau tubuh terkena getaran yang kuat terlalu lama, seperti pekerja operator mesin, atau driver, dan lainnya. Bisa juga akibat terjatuh dengan posisi duduk.

HNP atau saraf kejepit merupakan pergeseran bantalan sendi atau penonjolan yang menekan saraf pada bagian tulang belakang. Masalah yang kerap dirasakan penderita HNP biasanya nyeri punggung bagian bawah, atau sakit bahu menjalar hingga ke bagian lengan.

Selain itu, penderita saraf kejepit juga sering mengalami kesemutan, kaku atau lemah otot terasa pada salah satu lengan, dan terasa panas seperti yang terbakar.

Baca Juga : Setelah Menuai Kritik, RSUD Ciamis Cabut Pemberlakuan Pembatasan Pasien

Jika kondisi tersebut tidak segera mendapatkan penanganan bisa mengakibatkan terjadinya gangguan pada sistem gerak. Bahkan bisa sampai kelumpuhan.

Dokter spesialis ortopedi RSHS, Ahmad Ramdan, menyarankan sebaiknya segera periksakan ke dokter apabila Anda merasakan gejala-gejala tersebut. Jangan dipijat, karena kesalahan dalam memijat bisa memperburuk keadaan.

Cara Mencegah Saraf Terjepit

Gaya hidup kalangan muda bisa memicu terjadinya saraf kejepit atau HPN. Dengan pemeriksaan CT Scan serta MRI (Magnetic Resonance Imaging) HNP bisa terdiagnosis.

Sehingga, untuk proses pengobatannya pun bertahap, mulai dengan pencegahan, kemudian pemberian obat-obatan. Apabila obat-obatan masih kurang berpengaruh, maka penderita harus menjalani fisioterapi, intervensi sakit, dan terakhir dengan jalan operasi.

Namun, untuk tidakan operasi ada beberapa hal yang mendasarinya, yaitu jika sudah melakukan semua terapi tapi tidak ada dampaknya. Bisa juga akibat gejala-gejala yang muncul semakin berat.

Baca Juga : Seorang Bayi Terjepit Saat Kecelakaan Angkot Tabrak Pohon

Bila dalam waktu 3 sampai 6 bulan pengobatan efektif belum juga ada perbaikan, atau sudah muncul gangguan saraf yang berat, maka operasi merupakan solusi terakhirnya.

Membiasakan perilaku hidup sehat dengan melakukan pola kerja yang sehat dapat mencegah saraf kejepit. Pola gaya hidup kalangan muda juga harus lebih sehat, caranya dengan memiliki waktu istirahat yang cukup, dan mengurangi berat badan berlebih.

Dokter menyarankan, bagi mereka yang rutinitas kerjanya duduk depan komputer dalam waktu lama, atau berdiri selama berjam-jam, luangkan waktu setiap 3 jam sekali untuk melakukan peregangan.

Kementerian Kesehatan RI juga sudah mensosialisasikan mengenai hal tersebut. Peregangan antara waktu kerja harus menjadi kebiasaan aktivitas fisik dalam gaya hidup kalangan muda. Kebiasaan tersebut untuk membantu melancarkan jalannya sirkulasi darah.

Manfaatnya bisa membantu melemaskan ketegangan syaraf, serta melatih otot supaya lebih kuat. Dengan begitu, badan tidak akan mudah lelah ketika bekerja, dan risiko cedera pada tulang punggung juga akan menurun. (Eva/R3/HR-Online)

Loading...