Hari Demokrasi Internasional, Berawal dari Sistem Yunani Kuno

Hari Demokrasi Internasional
Potret peradaban Yunani Kuno, sebagai salah satu bukti nyata sejarah demokrasi dalam memperingati hari demokrasi Internasional. Foto: Ist/Net

Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui jika pada hari ini, tanggal 15 September 2020 merupakan hari demokrasi Internasional. Ternyata peringatan tersebut berangkat dari sebuah ketetapan dunia yang disetujui bersama pada tanggal 15 September 1988 di Dewan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

PBB mengeluarkan ketetapan bahwa tanggal tersebut akan menjadi hari peringatan demokrasi Internasional. Mungkin banyak orang yang belum memahami betapa pentingnya hari ini, karena tidak ada perayaan meriah seperti peringatan-peringatan lainnya. Kendati demikian bukan berarti hari peringatan yang satu ini tidak memiliki makna yang signifikan.

Sejarah mencatat, hari demokrasi Internasional ternyata berawal dari sistem berbangsa masyarakat Yunani kuno.

Sejarah Hari Demokrasi Internasional dan Budaya Masayarakat Yunani Kuno

Fuad Hasan dalam buku berjudul “Bab Pengantar, dalam Plato, Apologia: Pidato Socrates yang Diabadikan Plato” (1986: 29-31), mengungkapkan hal tersebut. Fuad menyebut demokrasi yang ada di dunia ternyata berawal dari budaya masyarakat pada zaman peradaban Yunani Kuno.

Akan tetapi dalam pandangan Fuad yang lebih dalam, konsep awal demokrasi sebetulnya sudah ada jauh sebelum masa peradaban Yunani kuno yang bercorak Negara Polis.

Adapun Negara Polis merupakan negara kota yang memiliki otonomi tersendiri yang kemudian menghasilkan sebuah karakteristik khas peradaban Yunani kuno.

Baca Juga: Sejarah Hari Olahraga Nasional Ditetapkan 9 September, Ini Alasannya

Sistem demokrasi sangat nampak jelas ada pada polis Athena. Lantas mengapa di Athena sistem demokrasi itu tumbuh subur?

Maka jawabannya karena Athena terkenal sebagai sebuah polis di Yunani kuno yang memiliki masyarakat intelektual. Dengan kata lain Athena dianggap sebagai pusat keilmuan di Yunani.

Adapun pada awalnya demokrasi itu muncul di Yunani berangkat dari kebiasaan masyarakat Athena yang menggemari musyawarah/mufakat.

Seperti halnya sistem pemerintahan yang berlaku di Polis, pemungutan suara di Athena saat itu didasarkan pada suara mayoritas.

Setiap permasalahan yang menyangkut kehidupan berpolis, terutama yang berkaitan erat dengan kepentingan publik, masyarakat Yunani khususnya di Athena selalu menyelesaikannya dengan cara pemungutan suara (demokrasi).

Demokrasi Pada Masa Yunani, Pernah Terkubur dan Kembali di Zaman Renaisance

Simon Petrus L. Thajajadi dalam bukunya berjudul “Petualangan Intelektual” (2014: 271-277), mengungkapkan sistem demokrasi yang pernah berjaya pada masa Yunani, ternyata pernah terkubur dan kembali lagi di zaman Renaissance. Hal ini terjadi karena kerajaan Yunani kuno saat itu mengalami keruntuhan yang panjang.

Dari keruntuhan kerajaan besar Yunani, sistem demokrasi ikut terkubur di dalamnya. Akan tetapi setelah lama demokrasi terkubur, akhirnya lahir jaman baru di Eropa yang disebut dengan Renaissance membuat sistem demokrasi kembali digunakan.

Menurut Simon, Renaissance merupakan sebuah penemuan kembali jati diri masyarakat Eropa, dan kelahiran yang baru berdasarkan pada penggalian kembali warisan Yunani kuno.

Baca Juga: Serikat Indonesia Baru, Manuver PKI Kuasai Indonesia Saat Jepang Kalah

Pada masa inilah sejumlah karya filsafat Yunani mendapatkan perhatian yang lebih serius di Benua Eropa. Demikan pula dengan demokrasi Yunani menjadi ilham bagi sekian filsuf dan pemikir untuk melakukan hidup yang berlandaskan pada keadilan yang mutlak.

Sistem Demokrasi di Indonesia, Lahir dari Para Mahasiswa Pribumi yang Belajar di Eropa

Werthreim W.F dalam buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Misbah Zulfa Ellisabet berjudul “Masyarakat Indonesia dalam Transisi: Studi Perubahan Sosial” (1999: 51-52), kurang lebih mengungkapkan bahwa sistem demokrasi di Indonesia lahir dari para Mahasiswa Pribumi yang bersusah payah menempuh pelajaran di Benua Eropa.

Kelompok ini memiliki kebiasaan yang menarik orang Eropa lain untuk berkenalan dan saling bertukar pikiran dengan ide-ide luhur yang agung dan memukau. Lebih jauh dari itu mereka juga merupakan saksi kehidupan bernegara yang jauh lebih baik, dan lebih berdemokrasi.

Pengalaman tersebut sebenarnya sungguh ironis. Lantaran bangsa-bangsa Eropa itulah yang sebenarnya berkuasa penuh di tanah kelahiran mereka, namun tanpa adanya keadilan. Dari hal itulah banyak para tokoh bangsa memperjuangkan hak-hak keadilan suatu bangsa dengan menggunakan jalan berdemokrasi.

Begitulah sejarah sederhana dari hari demokrasi internasional yang jatuh tepat pada hari ini. Semoga bermanfaat. (Erik/R7/HR-Online)

Loading...