Hari Kereta Api Nasional dan Kaitannya dengan Lawang Sewu Semarang

Hari Kereta Api Nasional
Lawang Sewu Semarang, dulunya merupakan kantor kereta api pertama zaman kolonial Belanda. Foto: Ist/Net

Dalam rangka memperingati Hari Kereta Api Nasional yang jatuh pada hari ini tanggal 28 September 2020, berikut akan dijelaskan bagaimana sejarah kereta api pertama di Indonesia dimulai. Akan tetapi untuk memulai hal itu perlu diketahui pula bahwa Lawang Sewu yang ada di Semarang, ternyata merupakan kantor pusat pertama kereta api di Indonesia.

Adapun mengapa tanggal 28 September dijadikan sebagai hari peringatan kereta api nasional yaitu karena sejarah berpindahnya kantor stasiun pusat yang direbut dari tangan Jepang ke wilayah Bandung Jawa Barat pada tanggal 28 September 1945.

Baca Juga: Sastrawan Betawi S.M Ardan dan Potret Jakarta Tahun 1950

Selain dari pada itu tanggal tersebut dipilih juga sebagai hari kereta api nasional sekaligus mengenang berdirinya Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI).

Sejarah Lawang Sewu, Kantor Kereta Api Pertama di Indonesia

Lawang Sewu merupakan bangunan kuno yang ada di Semarang Jawa Tengah. Beberapa sumber sejarah mengatakan bahwa Lawang Sewu pernah menjadi kantor kereta api pertama yang ada di Indonesia. Keberadaan Lawang Sewu saat itu tak terlepas dari sejarah Semarang.

Kota Semarang merupakan salah satu kota besar pada masa penjajahan Belanda. Letaknya yang berada di ujung pulau Jawa menjadikan Semarang sebagai salah satu kota pelabuhan penting yang hidup pada zaman kolonial. Imbas dari hal tersebut adalah banyaknya bangunan kuno peninggalan Belanda yang salah satunya adalah Lawang Sewu, kantor kereta api pertama di Indonesia.

Faisal Prabowo dalam jurnal penelitian berjudul “Sejarah Kantor Nederlands-Indische Spoorweg (NIS) di Semarang” (Jurnal ini diseminarkan dalam acara Seminar Ikatan Peneliti lingkungan Binaan Indonesia, 2017: A506) mengungkapkan, penyebutan Lawang Sewu untuk kantor kereta api termegah di Semarang yaitu berasal dari bahasa Jawa yang berarti “Pintu Seribu” karena jumlah pintunya yang sangat banyak.

Baca Juga: Sejarah Boven Digoel, Kamp Tahanan Paling Seram Zaman Belanda

Menurut data yang ada, jumlah pintu di sana tidak benar-benar seribu buah, hanya terdapat 342 pintu saja. Faisal juga menyebut jika Lawang Sewu sendiri sudah ada sejak awal abad ke 19.

Lawang Sewu saat itu berfungsi sebagai kantor dari maskapai kereta api pada masa kolonial yaitukantor Nederlands-Indische Spoorweg (NIS).

Lawang Sewu dibangun Karena Permintaan Pengguna Kereta Api yang Semakin Melonjak Abad- 19

Faisal juga mengungkapkan jika asal usul dibangunnya Lawang Sewu yaitu karena permintaan pengguna kereta api di Hindia Belanda yang semakin melonjak pada abad ke-19.

Hal ini dapat dilihat dari mulainya pembangunan jalur kereta api pertama di Semarang- Solo- Jogja pada tahun 1873 hingga jalur Gundih-Surabaya pada akhir tahun 1890-an.

Pembangunan-pembangunan jalur kereta api ini tentunya mengakibatkan pertambahan aktifitas dan jumlah personil dari NIS.

Akibatnya, kantor NIS yang berada di Stasiun Semarang NIS pun dirasa tidak memadahi. Selain itu lokasi kantor lama yang berada di daerah rawa-rawa juga dirasa kurang sehat sehingga menambah alasan untuk memindahkan kantor NIS ke wilayah yang baru.

Akhirnya didapatlah lokasi yang baru tersebut di pusat kota Semarang, antara pertemuan jalan Pemuda, dan jalan menuju Kendal.

Direksi NIS kemudian menunjuk seorang arsitek Belanda bernama Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J Oeundag untuk membuat rancangan kantor NIS yang baru.

Kemudian dimulailah pembanguanan komplek Lawang Sewu dari pembangunan gedung C pada tanggal 27 Februari 1904. Pembangunan komplek Lawang Sewu selesai pada Juli 1907. Berbagai pembangunan tersebut untuk mendukung aktifitas kereta api saat itu.

Selain sebagai Objek Wisata, Lawang Sewu Saat ini juga sering dijadikan Foto Pre-wedding

Seiring dibukanya Lawang Sewu sebagai objek wisata sejarah, pemugaran dan renovasi rutin dilakukan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan para pengunjung.

Baca Juga: Jumlah Pintu Lawang Sewu Ternyata Kurang dari 1.000, Ini Penjelasannya

Renovasi sendiri dilakukan dalam dua tahap. Mulai dari tahun 2010 untuk gedung A dan C. Kemudian dilanjutkan pada tahun 2014 untuk gedung B, D dan E.

Renovasi itu sendiri meliputi beberapa hal seperti penambalan, pengecatan dinding dan pintu. Selain itu ada perbaikan plafon dan lantai. Renovasi juga meliputi beberapa penambahan fasilitas, seperti café dan ruang menyusui.

Kini Lawang Sewu menjadi salah satu objek wisata ternama di kota Semarang. Selain sebagai museum, banyak orang yang memanfaatkan Lawang Sewu sebagai lokasi foto pre-wedding, tempat pameran, hingga lokasi pertemuan komunitas.

Adapun pengunjung yang ingin masuk ke tempat ini biasanya akan dikenakan biaya lima ribu rupiah untuk anak-anak. Sementara untuk orang dewasa dikenakan tiket sepuluh ribu rupiah.

Begitulah sejarah hari kereta api nasional, dan sejarah Lawang Sewu, sebagai kantor pertama kereta api di Indonesia. (Erik/R7/HR-Online)