Kekurangan Vitamin D Meningkatkan Faktor Risiko Corona dan Kematian

Kekurangan Vitamin D Meningkatkan Faktor Risiko Corona dan Kematian
Sinar matahari merupakan vitamin D yang dipercaya bisa menangkal virus corona. Foto: Ist/net

Faktor risiko Corona yang perlu kewaspadaan adalah kurangnya asupan vitamin D. Orang yang kekurangan vitamin D jauh lebih berisiko tertular virus Corona. Padahal sumber vitamin D terbaik yaitu dari sinar matahari.

Para peneliti dari University of Chicago Medicine Amerika Serikat menemukan keterkaitan yang erat antara orang yang kekurangan vitamin D dan kemungkinan terinfeksi virus Corona.

Dalam studi retrospektif terhadap pasien yang teridentifikasi tertular virus Corona ini semakin memperkuat peran vitamin D dalam meningkatkan sistem imunitas tubuh. Hasil studi ini sekaligus memperkuat keraguan sejumlah pihak terhadap manfaat vitamin D.

Baca juga: Siapkah Menggelar Pemilu Saat Pandemi Covid-19? Ini Hasil Risetnya!

Hasil temuan riset terbaru tentang faktor risiko Corona tersebut telah tercantum dalam jurnal JAMA Network Open yang terbit September 2020.

Dampak Kekurangan Vitamin D terhadap Faktor Risiko Corona

Hingga saat ini penyebaran dan penularan virus Corona memperlihatkan grafik yang terus meningkat. Meskipun banyak negara menerapkan pelonggaran lockdown dalam kehidupan kenormalan baru, namun jumlah infeksi terus meningkat.

Hingga saat ini saja jumlah orang yang terinfeksi di seluruh dunia, seperti mengutip dari laman WHO, mencapai angka 27,7 juta orang. Dari jumlah itu sebanyak 899 ribu orang meninggal dunia.

Sedangkan untuk jumlah kasus Covid-19 yang terjadi di Amerika Serikat tercatat sebanyak 6.272.193 orang. Untuk jumlah yang meninggal dunia sebayak 188 ribu.

Baca juga: Ternyata Perut Buncit Tanda Kekurangan Vitamin D, Ini Penjelasannya

Dalam penelitiannya tentang faktor risiko Corona, para ilmuwan dari Universitas Chicago melakukan pengamatan terhadap 489 pasien yang tengan mendapat perawatan di UChicago Medicine. Para pasien itu mengikuti tes untuk mengukur tingkat vitamin D sebelum percobaan.

“Vitamin D penting untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Asupan suplemen vitamin D sebelumnya telah terbukti mampu menurunkan risiko infeksi saluran pernapasan akibat virus,” kata David Meltzer MD PhD, mengutip dari laman Scitech Daily.

Kepala Rumah Sakit UChicago Medicine ini menyatakan bahwa peran vitamin D sangat penting dalam melindungi tubuh terhadap penularan Covid-19 dan faktor risiko Corona.

Para peneliti juga menemukan bahwa tingginya kasus Covid-19 di Amerika Serikat berhubungan dengan rendahnya vitamin D dalam tubuh. Bahkan separuh orang Amerika, kata temuan itu, kekurangan vitamin D.

Kondisi ini terutama mendera orang keturunan Afrika-Amerika dan Hispanik. Begitu juga dengan orang yang tinggal di daerah yang sulit mendapatkan cukup paparan sinar matahari pada saat musim dingin, seperti Chicago.

Vitamin D Bisa Menekan Risiko Kematian Akibat Penyakit

Selain menekan faktor risiko Corona, ilmuwan University Hospitals Leuven Belgia menemukan peran yang lebih vital dari vitamin D. Kadar vitamin D dalam darah bisa memperkirakan kondisi kesehatan dan risiko kematian karena penyakit.

Menurut Dr Leen Anton, banyak orang Eropa yang kekurangan vitamin D, terutama yang telah berusia lanjut. Kondisi ini sering berkaitan dengan risiko yang lebih besar terhadap penyakit penuaan, seperti osteoporosis, kanker, hingga penyakit kardiovaskular.

Baca juga: Sumber Penularan Corona Bisa dari Anak-anak Tanpa Gejala, Waspadalah

Para peneliti melakukan riset menggunakan data dari European Male Aging Study. Studi ini mengambil sample 1.970 orang pria berusia 40 hingga 79 tahun. Hasilnya, kekurangan vitamin D bisa memperkirakan potensi risiko penyakit, bahkan tingkat kematiannya.

“Studi ini mampu memastikan bahwa kekurangan vitamin D berkaitan dengan dampak negatif terhadap kesehatan secara umum. Juga dapat memprediksi risiko kematian yang lebih tinggi,” kata Dr Antonio.

Dari penelitian itu, para ilmuwan Belgia juga menemukan bahwa kadar 25-hidroksivitamin D total dalam tubuh memberikan ukuran yang lebih baik tentang risiko kesehatan pada masa depan. Termasuk terhadap faktor risiko Corona. (R11/HR-Online)

Loading...