Mengulas Kontroversi Asal-usul Sebutan Baduy untuk ‘Urang Kanekes’

Asal-usul Sebutan Baduy
Potret masyarakat Baduy. Foto: Ist/Net

Banyak mayarakat menilai orang Baduy dengan keliru, begitu juga dengan asal-usul sebutan Baduy sendiri. Bagi masyarakat Baduy, mereka sendiri tidak mengerti sejak kapan penamaan Baduy itu ada. Mereka hanya mengerti bahwa identitasnya dinamakan dengan sebutan “Urang Kanekes”.

Hal-hal seperti itulah yang menyebabkan munculnya berbagai tanggapan mengenai identitas Baduy yang kontroversial. Artikel ini mengajak pembaca mengulas sejarah Baduy menurut berbagai tanggapan ahli sejarah yang meneliti Baduy secara keseluruhan.

Asal-usul Sebutan Baduy, Berawal dari Penyebutan Istilah Badwi

Ahmad Maftuh Sujana dalam jurnal sejarah berjudul “Pikukuh: Kajian Historis Kearifan Lokal Pitutur dalam Literasi Keagamaan Masyarakat Adat Baduy” (Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 3 (2), 2020: 82), mengatakan bahwa pada mulanya orang Baduy tidak mengetahui nama Baduy itu sebagai sebutan masyarakat luas terhadap dirinya.

Baca Juga: Sastrawan Betawi S.M Ardan dan Potret Jakarta Tahun 1950

Sebenarnya orang Baduy sangat setuju menyebut dirinya sebagai Urang Kanekes, sesuai dengan nama tempat tinggal mereka. Sebaliknya Urang Kanekes sangat merasa tidak nyaman dengan sebutan Baduy.

Mereka merasa nama Baduy dipersamakan dengan istilah orang Badwi. Badwi sendiri merupakan masyarakat pengembara di padang pasir tanah Arab. Selain itu, peradaban orang Badwi juga seringkali dianggap lebih rendah daripada peradaban masyarakat Arab lainnya.

Menurut Ahmad Maftuh Sujana (2020: 82), kemungkinan sebutan Baduy dilontarkan oleh masyarakat sekitar yang sudah memeluk agama Islam. Sebutan Baduy sendiri sebenarnya memiliki konotasi ejekan.

Sementara Eka Jati, E.S dalam bukunya berjudul “Kebudayaan Sunda suatu Pendekatan Sejarah” (2005: 1974) menyebut bahwa istilah Baduy atau Cibaduy dikenal pula sebagai nama daerah, bukit, dan sungai yang menjadi perbatasan di sebelah utara.

Kontroversi Asal-usul Orang Baduy menurut Para Ahli

Ilmuwan barat bernama C.M Pleyte meneliti nenek moyang masyarakat Baduy. Ia menduga nenek moyang orang-orang Baduy berasal dari daerah Bogor yang merupakan pusat dari Kerajaan Pajajaran.

Baca Juga: Romo Mangunwijaya, Arsitek Mulia bagi Wong Cilik di Yogyakarta

Dasar dari dugaan C.M Pleyte adalah keberadaan Kerajaan Hindu Pajajaran yang sekarang sama dengan Bogor. Di sana terdapat tempat yang disebut arca Domas, letaknya di dekat Cikopo Tengah, tepat di kaki gunung Pangrango.

Sementara menurut pendapat  J. Jacobs dan J.J Meijer lain lagi. Menurutnya orang Baduy berasal dari Banten Utara yang melarikan diri dari pengaruh Islam masa pemerintahan Maulana Hasanudin (1552- 1570). Pernyataan itu dikembangkan oleh ilmuwan barat lain bernama Kruseman dan A.A Pening.

Selain itu, Kruseman dan A.A Pening juga mengembangkan pendapat baru bahwa orang Baduy adalah penduduk asli Banten, dan keturunan Pajajaran yang terdesak oleh Maulana Hasanudin.

Mereka kemudian bergerak menuju Selatan dan beberapa kelompok lainnya tercecer ke berbagai wilayah. Namun kemudian mereka berhasil membentuk kantong-kantong pemukiman orang Baduy.

Kantong-kantong pemukiman itulah yang sampai saat ini bertahan. Di mana masyarakatnya bermukim di kampung-kampung Dangka yang terletak di luar Desa Kanekes.

Namun, salah seorang dokter barat bernama Van Tricht, yang pernah melakukan penelitian kesehatan pada tahun 1928, membantah teori tersebut.

Menurutnya, suku Baduy adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak yang kuat terhadap pengaruh luar.

Akan tetapi mengutip Ahmad Maftuh Sujana (2020: 83), orang Baduy tidak peduli dengan semua teori tersebut, mereka mempunyai kepercayaan bahwa Kanekes adalah pusat dunia (pancer bumi), tempat awal terciptanya dunia sebesar biji lada. Kemudian perlahan-lahan membesar, hingga menjadi planet sekarang.

Sistem Kepercayaan Masyarakat Baduy bernama Sunda Wiwitan

Masyarakat Baduy memegang  kepercayaan atau agama yang disebut dengan Sunda Wiwitan. Istilah Sunda Wiwitan menurut orang Baduy adalah asal usul semua kehidupan yang berasal dari tanah Sunda. Masyarakat Baduy menganggap bahwa agama mereka sejak dahulu atau sejak awal adalah agama Sunda.

Kepercayaan Sunda Wiwitan dilaksanakan melalui penghormatan kepada roh nenek moyang dan kepercayaan kepada Batara Tunggal.

Menurut kepercayaan Sunda Wiwitan, kekuasaan tertinggi berada pada Batara Tunggal (Nu Ngersakeun). Konsep Batara Tunggal dalam masyarakat Baduy, adalah konsep ketuhanan yang bersifat monotheisme. Meskipun mereka juga mengagungkan arwah leluhur atau karuhun.

Orang Baduy mempercayai sekali bahwa sosok Karuhun memiliki tempat di dunia yaitu di Arca Domas. Arca Domas merupakan daerah hutan larangan. Karena itu mereka tetap mempertahankan tempat tersebut dari bencana dan pencemaran lingkungan.

Hal ini sesuai dengan aturan adat melalui ungkapan (gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh di rusak) atau “gunung teu meunang di lebur, lebak teu meunang di ruksak”.

Begitulah sepenggal sejarah orang Baduy serta kontroversi asal-usul sebutan Baduy bagi masyarakat Desa Kanekes. (Erik/R7/HR-Online)