Mitos Menggendong Bayi Saat Maghrib dan Asal Muasal Sejarahnya

Mitos Menggendong Bayi
Ilustrasi mitos menggendong bayi saat maghrib. Foto: Net/Ist

Mitos menggendong bayi saat maghrib menjadi sesuatu yang menarik. Menggendong bayi pada pergantian malam ini ternyata ada asal-usulnya. Lalu bagaimana sejarahnya?

Kepercayaan ini bermula dari sebuah desa yang bernama Regunung, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Menurut beragam pendapat, hal ini merupakan fenomena yang langka sehingga para peneliti budaya menyebut tradisi ini sebagai nilai-nilai kearifan lokal yang perlu dan tetap lestari.

Bahkan, sampai sekarang masih tetap ada yang mana warga setempat meyakini ketika memasuki waktu maghrib bagi yang memiliki bayi harus menggendongnya.

Bila tidak, warga sekitar percaya roh halus atau lelembut akan mengganggunya, bahkan ada yang sampai meninggal dunia.

Mitos Menggendong Bayi Saat Maghrib

Menurut Putri Andany dalam jurnalnya mengungkapkan, asal muasal tradisi ini bermula sekitar tahun 1900-an dari Desa Regunung.

Pada waktu itu seorang bayi meninggal dunia dan menghebohkan masyarakat. Pasalnya, ketika maghrib keluarga maupun orang tuanya tidak menggendongnya.

Karena terus rewel dan tak bisa diam, gelisah dan terus menangis, tidak lama kemudian bayi itu pun meninggal dalam keadaan kulit berubah menjadi hitam.

Perubahan warna kulit ini masyarakat yakin karena orok itu menemui ajalnya saat pergantian siang ke malam.

Selain itu, sebagian warga juga menyebut karena ulah makhluk halus yang keluar dari dunianya saat waktu sedang berganti.

Sedangkan bayi dapat merasakan dan rentan terhadap makhluk gaib, sehingga perlu mendapatkan perlindungan yang salah satunya dengan menggendongnya.

Baca juga: Asal Usul Jenglot, Ilmiah vs Kepercayaan(Buka di tab peramban baru)

Bantuan Sesepuh

Dari mitos menggendong bayi ini, ketika mendapati sedang rewel atau hal-hal aneh, warga langsung mendatangi sesepuh setempat untuk meminta bantuan.

Namun sebelum itu, sebagai langkah antisipasi yang paling utama seorang ibu lah yang langsung menggendongnya agar tidak rewel.

Sedangkan bila hal itu tidak membuat bayinya tenang, barulah mereka mendatangi kasepuhan, seperti kiai, dukun maupun orang pintar.

Ketika mendapatkan bantuan ini, biasanya sang ibu akan mendapatkan berbagai keterangan, termasuk nasehat agar tidak keluar rumah saat maghrib tiba.

Pasalnya, orang zaman dulu mempercayai dari waktu tersebut sprektum warna alam sedang selaras dengan frekuensi jin dan iblis.

Apalagi tenaga keduanya sangat besar lantaran mereka beresonasi atau ikut bergetar dengan warna alam.

Tak hanya mitos menggendong bayi saja, pada saat pergantian waktu ini mereka juga menasehati bila sedang dalam perjalanan sebaiknya berhenti sejenak untuk istirahat ataupun salat.

Kepercayaan ini pun menurut para leluhur memiliki tujuan agar senantiasa bayi terjaga dan terhindar dari hal gaib.

Baca juga: Mitos Seputar Kesehatan Anak yang Tak Perlu Lagi Dipercaya

Warisan Budaya Jawa Kuno

Beberapa pendapat menyebut bahwa tradisi ini berasal dari budaya Jawa kuno yang bernama Gugon Tuhon.

Budaya tersebut merupakan berisi larangan-larangan tertentu untuk seorang bayi yang baru lahir.

Pantangan itu, antara lain orang tua tidak boleh meletakkan bayi sendirian saat maghrib tiba, sehingga harus tetap menjaganya, baik oleh ibunya atau keluarganya.

Dalam pola dimensi mitos tersebut menyebutnya sebagai tradisi tanda-tanda, yang mana bayi merupakan tanda, maghrib penanda dan menggending adalah pertanda.

Mitos menggendong bayi ini masih begitu melekat pada masyarakat di berbagai daerah Indonesia, terutama mereka yang berasal dari Jawa. (Erik/R6/HR-Online)

Loading...