Mutasi Virus Corona Baru Lebih Berbahaya Terdeteksi di DIY dan Jateng

Mutasi Virus Corona Baru Lebih Berbahaya Terdeteksi di DIY dan Jateng
Ilustrasi Mutasi Virus Corona Baru . Foto: Ist/net

Sebuah mutasi virus Corona baru yang lebih berbahaya berhasil terdeteksi dari pasien Covid-19 yang terdapat di Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah. Virus Corona yang telah bermutasi ini jauh lebih berbahaya dengan daya infeksi lebih kuat.

Para peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mengatasnamakan Pokja Genetik melaporkan hal itu pada website resmi UGM, belum lama ini. Pokja tersebut merupakan binaan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK UGM).

Para ilmuwan UGM itu melakukan penelitian tentang urutan atau sequencing genom SARS-Cov-2 yang menyebabkan Covid-19. Virus SARS-Cov-2 yang menyebar di Indonesia berbeda dengan virus yang menular di negara lain.

Selain menemukan mutasi virus Corona baru, peneliti UGM juga berhasil mengidentifikasi 4 isolat SARS-Cov-2 khas Indonesia. Sequencing genom SARS-Cov-2 ini sudah UGM laporkan ke GISAID.

Baca juga: UGM Temukan 4 Sequencing Genom Virus SARS-Cov-2 Indonesia

GISAID atau Global Initiative on Sharing All Influenza Data merupakan lembaga yang berperan sebagai bank data genom virus Corona di seluruh dunia. Data genom ini penting untuk pembuatan vaksin dan obat Covid-19.

Temuan genom SARS-Cov-2 UGM ini melengkapi temuan sejumlah lembaga yang sebelumnya juga telah berhasil mengidentifikasi beberapa genom virus SARS-Cov-2 yang terdapat dan menular di Indonesia.

Lembaga Biologi Molekuler Eijkman sudah melaporkan 7 urutan genom dan ilmuwan Universitas Airlangga juga melaporkan 6 urutan genom baru. Saat ini ke 17 genom virus Corona baru Indonesia itu sudah masuk ke GISAID.

Data Mutasi Virus Corona Baru

Para ilmuwan UGM menemukan mutasi virus Corona baru saat sebelumnya memeriksa pasien Covid-19 yang terdapat di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

‚ÄúSepertiga data yang berhasil kami temukan terdeteksi di Yogyakarta dan Jawa Tengah,” kata dr Gunadi SpBA PhD, Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM mengutip dari laman UGM.

Hingga 31 Agustus 2020, virus SARS-Cov-2 telah menginfeksi sebanyak 25.590.934 kasus yang tersebar di seluruh dunia. Dari jumlah itu, jumlah kematian telah menembus angka 853.415 orang.

Baca juga: Kemenkes Lakukan Uji Klinis Sejumlah Obat untuk Virus Corona

Sedangkan jumlah kasus yang terjadi di Indonesia hingga akhir Agustus sebanyak 174.796 kasus dengan jumlah meninggal mencapai 7.417 orang. Sekarang Indonesia berada dalam urutan 23 negara terbanyak di dunia dengan Covid-19.

Untuk mutasi virus Corona baru temuan ilmuwan UGM ini teridentifikasi sebagai mutasi D614G. Mutasi D614G pada virus SARS-CoV-2, menurut Gunadi, sebenarnya sudah terdapat pada temuan negara lain.

Bahkan tercatat sebanyak 77,5 persen dari semua 92.090 isolat yang telah teridentifikasi para ahli ternyata mengandung mutasi D614G.

Sedangkan virus yang menular di Indonesia dan sudah berhasil teridentifikasi tercatat sebanyak 9 dari 24 isolat juga mengandung atau mengalami mutasi D614G.

Genomes Virus Corona Indonesia yang Masuk GISAID Masih Sedikit

Yang menarik, mutasi virus Corona baru ini kabarnya jauh lebih berbahaya ketimbang virus aslinya. Bahkan hasil mutasi ini memiliki daya infeksi 10 kali lipat lebih tinggi dan lebih menular.

Baca juga: Asal Usul Virus Corona Berdasarkan Ilmu Sains

Dengan penemuan para ahli terkait mutasi D614G tentu sangat penting dalam pengembangan vaksin Covid-19. Terdeteksinya mutasi baru ini juga berguna untuk perawatan pasien Covid-19 yang lebih efektif.

Menurut Gunadi, temuan 24 full genomes dari virus Corona Indonesia yang telah masuk ke GISAID terbilang sangat sedikit. Apalagi jika membandingkan dengan 92.090 full-genomes seluruh dunia yang sudah masuk GISAID.

Padahal, kata staf pengajar Fakultas Kedokteran UGM ini, data WGS sangat penting. Utamanya untuk mengetahui sebaran virus beserta jenis mutasi virus Corona baru yang telah menginfeksi masyarakat Indonesia. (R11/HR-Online)

Loading...