Pandemi Covid-19, Guru SLB di Kota Banjar Kesulitan Mengajar

Guru SLB Kota Banjar
Ilustrasi. Foto: Ist/Net

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Guru SLB di Kota Banjar kesulitan saat mengajar anak didinya. Selama pandemi Covid-19, semua kegiatan pembelajaran di sekolah dilakukan secara luring maupun daring. Tak terkecuali kegiatan pembelajaran Sekolah Luar Biasa (SLB) Pasundan 2 Kota Banjar, Jawa Barat.

Kesulitan terjadi saat pembelajaran harus dilakukan secara luring dimana guru harus mendatangi tempat peserta didik. Lantaran peserta didik SLB memang memerlukan penanganan yang ekstra ketimbang sekolah normal pada umumnya.

Hal itu disampaikan oleh Agi Febiyaty salah satu guru yang sudah hampir 11 tahun mengabdi di SLB ini. Menurutnya SLB Pasundan 2 Kota Banjar memiliki anak didik sebanyak 71 orang yang terdiri dari tingkat SD, SMP, dan SMA.

“Pandemi Covid-19 ini saya beserta teman-teman yang lainnya harus mengajar secara daring dan luring dengan mendatangi rumah anak didik saya. Ini sangat susah selain harus sabar dalam penyampaiannya juga cukup lama dimengerti oleh anak-anak, sebab tanpa membawa buku paket, kalaupun harus membawa tentulah sangat banyak jadi cukup berabe,” katanya, Selasa (22/9/2020).

Guru SLB Kota Banjar Dibantu Orang Tua Murid

Selama sistem pembelajaran luring diterapkan, orang tua peserta didik sering kali membantu hingga pembelajaran bisa tercapai tanpa kesulitan. Dalam sistem pembelajaran luring ini setiap guru akan mengajar dengan perbandingan 1 berbanding 4 dengan pengurangan waktu tidak terlalu jauh.

“Pengurangan waktu pembelajaran berbeda tingkatan meskipun tidak terlalu jauh, di masa Luring ini pembelajaran untuk setingkat SMA 1 jam itu sekitar 35 menit. Beda lagi untuk tingkat SMP dan SD yang 1 jam nya sekitar 30 menitan jadi tidak terlalu jauh perbedaannya, ” ucapnya.

Menurut Agi, di SLB ini tiap murid nantinya akan disesuaikan atau dikelompokkan sesuai dengan kebutuhan yang dimiliki anak didik tersebut.

“Di sekolah ini terbagi menjadi 4 kelompok yang pertama  peserta didik Tuna Grahita (memiliki keterlambatan). Kedua Tuna Netra (tidak bisa melihat bawaan) dan low vision (masih bisa melihat namun di bantu alat). Ketiga tuna rungu (tidak bisa mendengar dan masih bisa mendengar namun harus di bantu alat), dan keempat Tuna Daksa (memiliki keterbatasan tubuh). Nantinya mereka akan dikelompokkan dilihat dari ‘kekhususan’ yang dimiliki mereka. Hal ini dilakukan agar memudahkan mereka untuk bergaul,” tambahnya.

Penilaian Selama Pembelajaran Luring

Sementara untuk penilaian, para guru juga menentukan dan menerapkan batas nilai KKM seperti yang dilaksanakan di sekolah-sekolah normal pada umumnya.

“Di SLB juga diterapkan nilai KKM (batas nilai terendah), terkecuali untuk kelompok Tuna Grahita kami tidak memberikan nilai KKM. Ini dilakukan untuk mengukur prestasi belajar mereka. Saat ini KKM untuk kelompok Tuna Netra nilai KKM 70, untuk kelompok Tuna Rungu nilai KKM 70, untuk kelompok Tuna Daksa nilai KKM sama yaitu 70,” terangnya.

Ketika ditanya kerinduan terhadap para anak didiknya, Agi berkata sangat rindu kepada para anak didiknya tersebut.

Hal senada dikatakan oleh Kepala Sekolah SLB Pasundan 2 Kota Banjar Hj. Etin Hendrayatin. Ia pun mengatakan sudah sangat rindu mengajar anak didiknya.

“Terus terang saya sangat rindu dengan keriangan mereka, terkadang saya sering terhibur dengan tingkah laku mereka. Bahkan mereka juga merasakan kerinduan yang sama sampai-sampai ada salah seorang peserta didik yang WA maupun video call menanyakan kapan akan sekolah lagi,” pungkasnya. (HDN/R7/HR-Online)