Para Kiai di Balik Pemberontakan Petani Banten Tahun 1888

Pemberontakan Petani Banten
Para petani usai melakukan pemberontakan di Banten tahun 1888. Foto: Ist/Net

Pemberontakan petani Banten berkobar pada tahun 1888. Pemberontak tersebut tergolong pemberontakan besar-besaran kepada pemerintahan kolonial Belanda. Korbannya pun banyak, tragis dan mengerikan.

Adapun yang lebih menarik dan tak terduga, sebagian besar yang mengumpulkan massa petani di Banten untuk memberontak Belanda, berasal dari para Kyai besar dan ternama di Banten.

Sejarah Pemberontakan Petani Banten tahun 1888

Hamidah mengungkapkannya dalam Jurnal Sejarah bertajuk “Ulumuna” menulis artikel yang berjudul “Gerakan Petani Banten: Studi terhadap Konfigurasi Sufisme Awal Abad ke XIX” (Ulumuna, Jurnal Studi Keislaman, Vol. XIV, No. 2 Desember 2010: 331).

Hamidah menyebut bahwa pemberontakan petani tersebut terjadi di Distrik Anyer pada tahun 1888. Distrik ini merupakan bagian dari wilayah Banten atau ujung barat laut dari Pulau Jawa.  

Sementara Sartono Kartodirdjo dalam disertasinya yang berjudul “Pemberontakan Petani Banten 1888” (1984: 13), menyebut pemberontakan ini berlangsung dalam waktu yang relatif singkat. Pemberontakan tersebut terjadi dari tanggal 09 sampai dengan 30 Juli 1888.

Baca Juga: Mengulas Kontroversi Asal-usul Sebutan Baduy untuk ‘Urang Kanekes’

Meskipun singkat, namun gejolak sosial yang melatarbelakangi pecahnya pemberontakan kepada pemerintah kolonial Belanda saat itu bisa ditelusuri ke belakang, yaitu pada awal tahun 1870- an.

Sartono mengungkapkan pula bahwa dengan menelisik tahun 1870, diketahui bahwa pemberontakan tersebut adalah salah satu dari sejumlah pemberontakan yang terjadi di Banten.

Pemberontakan Petani Banten juga merupakan suatu contoh mengenai ledakan-ledakan sosial yang berkobar di hampir seluruh penjuru pulau Jawa saat itu.

Baca Juga: Sejarah Pemberontakan PKI Madiun, Tragedi Berdarah Penuh Trauma

Sementara para sarjana Barat menyebut pemberontakan ini disebabkan oleh suatu ledakan fanatisme dan suatu huru-hara petani dalam menentang pajak yang tidak disenangi.

Begitupun dengan Sartono, beliau menambahkan bahwa terjadinya gerakan petani di Banten tahun 1888 diakibatkan oleh gerakan kebangkitan kembali agama dan perkumpulan mistik keagamaan yang tumbuh subur waktu itu.

Agitasi Pemberontakan Petani Banten 1888, ternyata Berasal dari para Kyai

Hamidah (2010: 333), menegaskan bahwa gerakan petani Banten pada tahun 1888 tidak hanya diikuti oleh para petani saja, melainkan dibalik itu terdapat para golongan penduduk pedesaan yang kaya dan terkemuka, seperti para pemuka agama, atau orang Banten menyebutnya dengan panggilan Kyai.

Selain itu, Hamidah juga menambahkan bahwa pemberontakan yang terjadi dalam abad ke XIX di Indonesia tidak dapat dikatakan sebagai pemberontakan petani yang murni dan sederhana.

Artinya pemberontakan para petani ini tak terlepas dari campur tangan kelompok lain. Kebetulan melihat konteks gerakan petani di Banten 1888 ternyata ditunggangi para pemuka agama. Lantas siapa saja para pemuka agama tersebut?

Kyai Haji Abdul Karim

Menurut Sartono (1984: 257), Kyai Haji Abdul Karim merupakan sosok ulama besar. Ia juga merupakan orang suci di mata rakyat Banten saat itu.

Peran Kyai Haji Abdul Karim yang paling menonjol adalah menjadi pemimpin gerakan petani Banten di antara kyai-kyai yang sudah ada. Haji Abdul Karim juga dikenal sebagai seorang pemimpin agama yang menjalankan ajaran tarekat Kadiriah.

Pada masa mudanya, Kyai Haji Abdul Karim mendalami ajaran-ajaran Khatib Sambas. Ia juga memimpin ajaran tarekat Kadiriah di Banten. Seiring dengan berjalannya waktu, beliau tumbuh sebagai pemimpin terkenal di Banten yang menggerakan pemberontakan petani pada tahun 1888.

Kyai Haji Tubagus Ismail

Sebagaimana Kyai Haji Abdul Karim, Kyai Haji Tubagus Ismail juga dikenal sebagai salah seorang anggota tarekat Kadiriah. Ia juga merupakan murid Kyai Haji Abdul Karim.

Seperti terlihat dari namanya, ia termasuk dari kaum bangsawan Banten. Namun, sebenarnya Kyai Haji Tubagus Ismail sudah kehilangan semua pengaruh politiknya. Hanya saja, ia masih mempunyai prestise sosial di kalangan penduduk Banten.

Peran Kyai Haji Tubagus Ismail dalam gerakan petani Banten 1888 adalah menghasut rakyat Banten. Kebanyakan dari mereka berasal dari golongan Petani. Kyai Haji Tubagus menghasut para petani ini agar memberontak melawan kafir kolonial Belanda yang bercokol kuat di Banten.

Begitulah sepenggal sejarah Banten yang berkaitan dengan pemberontakan petani Banten pada tahun 1888. (Erik/R7/HR-Online)