Pemilik Pabrik Penggilingan Padi di Banjar Pilih Usaha Odong-odong

Pemilik Pabrik Penggilingan Padi di Banjar Pilih Usaha Odong-odong
Herli (42), menunjukkan kendaraan odong-odong miliknya. Foto: Aji/HR

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Karena usaha pabrik penggiling padi yang dimilikinya sepi, Herli (42), warga Dusun Pasirleutik, Desa Mekarharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, kini mencoba menambah usahanya dengan membuat kendaraan odong-odong.

Ia mengaku memilih membuka usaha barunya itu karena ia melihat kendaraan odong-odong menjadi kendaraan wisata bagi warga yang ingin berkeliling kota, dan selalu ramai penumpang.

“Sebelum punya odong-odong, saya hanya memiliki pabrik penggiling padi. Tapi jasa penggilingan padi sedang sepi. Kemudian, waktu saya mengirimkan gabah ke daerah Jawa Tengah, saya melihat odong-odong yang ramai penumpang. Dari situ mulai terinspirasi ingin membuat odong-odong untuk menambah penghasilan,” tuturnya, kepada Koran HR, Selasa (15/09/2020).

Kebetulan, lanjut Herli, ia memiliki mobil yang jarang dipakai. Ia pun akhirnya memutuskan untuk mengubah mobilnya menjadi kendaraan odong-odong.

Herli membuat dan merancang kendaraan tersebut, bersama temannya. Proses pembuatannya pun memakan waktu hingga 3 bulan.

Sedangkan, biaya untuk memodifikasi mobilnya menjadi kendaraan odong-odong, Herli mengaku habis sekitar Rp 25 jutaan. Tapi itu belum termasuk untuk membeli kelengkapan fasilitasnya, seperti tv dan audio.

“Untuk kendaraan odong-odong ini, saya juga sudah mengurus perizinannya. Untuk mengurus periznan saya mengeluarkan biasa sebesar 1,5 juta rupiah. Saya juga sudah bergabung dengan Paguyuban Odong-odong Kota Banjar yang bernama Banjar Tayo Community atau BTC,” kata Herli.

Ia juga menuturkan, sejak memiliki usaha barunya itu, awalnya Herli sendiri yang mengemudikan kendaraan odong-odongnya. Pada hari pertama dan kedua, ia menggratiskan kepada penumpangnya yang berada di lingkungannya.

Usahanya tersebut kemudian membuahkan hasil, yang mana setiap penumpang harus membayarnya ketika naik kendaraan odong-odong miliknya. Untuk jarak dekat seperti dari Randegan memutar hingga ke Mekarharja, penumpang membayar tarif sekitar Rp 5.000 per orang.

Terdampak Pandemi Covid-19

Namun, baru saja usaha barunya itu berjalan dua minggu, virus Corona datang, dan akhirnya aktivitas odong-odongnya harus terhenti selama beberapa bulan, sampai PSBB tak berlaku lagi.

“Setelah PSBB dibuka, saya memulai lagi mengopareikan kendaraan odong-odong. Sekarang saya juga sudah menambah 1 unit odong-odong, dan punya dua orang supir,” tuturnya.

Dalam satu hari, Herli bisa mendapat setoran sekitar Rp 200 ribu sampai Rp 400 ribu lebih. Selain itu, kini untuk rute terjauhnya bisa sampai ke Manganti dengan tarif sekitar Rp 25 ribu per orang. Satu kendaraan odong-odong bisa menampung sekitar 20 orang.

“Karena sekarang sedang pandemi Covid-19, maka saya mewajibkan kepada setiap penumpang untuk mentaati protokol kesehatan, seperti memakai masker. Saya berharap usaha odong-odong bisa terus berjalan, dan bisa membantu orang lain agar bisa mendapatkan pekerjaan, misalnya jadi supir odong-odong,” pungas Herli. (Aji/Koran HR)

Loading...