Penyebab Sakit Dada Tapi Bukan Gejala Serangan Jantung, Apa Saja?

Penyebab sakit dada tapi bukan gejala serangan jantung. Foto: Ilustrasi/Net.
Penyebab sakit dada tapi bukan gejala serangan jantung. Foto: Ilustrasi/Net.

Penyebab sakit dada yang kerap kita hubungkan dengan gejala serangan penyakit jantung penting untuk kita ketahui. Karena, bisa jadi sakit dada yang terasa penyebabnya dari kondisi lain.

Merangkum dari berbagai sumber, memaksakan otot dada untuk bergerak secara berlebihan menjadi salah satu penyebabnya. Bisa juga akibat hal lainnya yang lebih serius. Namun, jika Anda mengalami sakit dada tetapi tidak tahu apa penyebabnya, sebaiknya segera periksakan ke dokter.

Berikut ini 7 kondisi penyebab dada terasa sakit tapi bukan gejala serangan penyakit jantung. Termasuk apa yang musti Anda lakukan guna mengatasinya.

Kenali 7 Penyebab Sakit Dada

Baca Juga : Kenali Gejala Sakit Jantung yang Patut Diwaspadai

Refluks Asam Lambung

Sakit dada bisa terasa akibat dari refluks asam lambung. Banyak yang menganggap kondisi ini sebagai serangan jantung. Refluks asam lambung (gastroesophageal reflux) terjadi saat asam lambung bergerak naik ke bagian kerongkongan sebagai tabung penghubung tenggorokan dengan perut.

Asam lambung memiliki sifat sangat asam yang pH-nya sekitar dua. Kondisi ini akan menimbulkan sensasi seperti terbakar pada bagian belakang tulang dada.

Tak perlu khawatir jika asam lambung naiknya hanya sesekali. Tapi, kalau dalam satu minggu Anda mengalaminya dua kali atau lebih, kemungkinan Anda punya penyakit GERD (gastroesophageal reflux).

Jika tidak segera berobat, GERD dapat menyebabkan dada sesak, penyakit asma, dan kondisi barrett esophagus yang bisa meningkatkan risiko munculnya jenis penyakit kanker langka.

Herpes Zoster

Penyebab sakit dada yang berikutnya yaitu adanya virus varicella-zoster sebagai penyebab cacar air. Anak-anak biasanya yang mengalami hal ini. Herpes zoster bisa aktif lagi bertahun-tahun pasca penderitanya dinyatakan sembuh.

Virus ini biasanya aktif saat orang memasuki usia 59 tahun lebih. Virus tersebut menyebabkan penyakit herpes zoster. Untuk gejala awalnya adalah kulit terasa gatal dan panas seperti yang terbakar. J

Apabila bagian dada terasa ikut terpengaruh akibat kondisi tersebut, kemunginan Anda juga mengiranya itu adalah serangan jantung.

Demikian kata ahli jantung intervensi dari University of Texas Health Science Center, Houston dan memorial, Hermann Heart, serta Vascular Institute Texas Medical Center.

Beberapa hari kemudian gejala lainnya seperti ruam dan kulit melepuh akan muncul. Jika Anda berpikir ingin memiliki herpes zoster. Sebaiknya segera konsultasi dengan dokter.

Obat antivirus hanya bisa mengurangi rasa sakit dada dan memperpendek durasi gejala kalau Anda meminumnya hanya dalam waktu tak lebih dari 72 jam semenjak ruam muncul. Jika waktunya sudah terlambat, maka dokter akan meresapkan obat untuk penghilang rasa sakit lainnya.

Baca Juga : Gejala Penyakit Jantung Koroner, Penyebab dan Penyakit Pemicunya

Perikarditis

Jika selama beberapa hari terakhir ini Anda tengah berjuang melawan infeksi virus, kemudian tiba-tiba bangun dan merasa sakit menusuk dada, kemungkinan itu perikarditis. Yaitu peradangan lapisan jaringan dalam tubuh yang mengelilingi bagian hati.

Ketegangan Otot

Penyebab sakit dada juga bisa dari gerak otot dada atau olahraga yang berlebihan, sehingga menyebabkan ketegangan. Terkadang Anda menduga kalau otot dada yang tegang sebagai gejala serangan jantung.

Kalau Anda menekan bagian dinding dada, kemudian terasa lumayan sakit, kemungkinan penyebab kondisi ini akibat cedera muskuloskeletal, bukan serangan jantung.

Kostokondritis

Penyebab sakit dada selanjutnya yaitu kostokondiritis. Sekitar 13 hingga 36 persen orang dengan keluhan sakit dada akut yang datang ke ruangan gawat darurat rumah sakit terdiagnosis kostokondritis.

Menurut jurnal American Family Physician pada tahun 2009, kostokondritis adalah kondisi inflamasi ketika tulang rusuk ketemu tulang rawan. Penyebabnya bervariasi, mulai cedera dada sampai infeksi virus.

Orang dengan kostokondritis biasanya akan merasakan seperti ada tekanan pada bagian dinding dadanya. Kondisi ini hampir sama dengan otot dada tegang, dan bagian yang Anda tekan terasa lunak.

Kalau Anda mempunyai kostokondritis, biasanya rasa sakit akan hilang dalam waktu beberapa hari/minggu. Untuk meringankannya Anda bisa minum obat penghilang sakit.

Baca Juga : Penyebab Darah Rendah Akibat Dehidrasi Hingga Penyakit Jantung

Infeksi Pernapasan

Infeksi pernapasan sering menjadi penyebab sakit dada. Selain itu, dalam kasus gangguan autoimun seperti rheumatoid arthritis atau lupus, bisa juga oleh penyebab lain.

Untuk diagnosis, kemungkinan dokter akan mengadakan pemeriksaan CT scan, X-ray, atau EKG Perikarditis. Untuk membantu meredakan peradangan, Anda harus istirahat selama beberapa hari atau bahkan minggu sambil mengkonsumsi obat pereda sakit seperti ibuprofen.

Pankreatitis

Penyebab sakit dada juga bisa akibat peradangan mendadak akut pada pankreas atau pankreatitis. Peradangan ini terletak tepat pada bagian belakang perut.

Rasa sakit pada pankreatitis biasanya intens dan mendalam. Penderita pankreatitis harus segera mendapat perawatan medis. Pasien tersebut akan mendapatkan cairan IV, antibiotik, dan obat lainnya.

Atau bisa saja dokter juga mengharuskan pasien untu melakukan tes darah, serta rangakain tes lainnya, seperti CT scan maupun USG perut.

Penyakit Arteri Koroner

Coronary aertery desease (CAD) atau penyakit arteri koroner merupakan jenis penyakit jantung. Penyebabnya penyakit ini akibat adanya penumpukan plak pada arteri yang mengalirkan pasokan darah ke jantung.

Aliran darah yang tersumbat bisa menyebabkan sakit dada. Selain itu, CAD juga dapat menyebabkan terjadinya serangan jantung secara mendadak. Kondisi ini berkontribusi terhadap aritmia dan gagal jantung.

Jadi, jika Anda merasakan nyeri dada, segera periksakan diri ke dokter untuk memastikan apakah penyebab sakit dada yang Anda alami itu karena serangan penyakit jantung atau bukan.

Karena, Anda juga tidak tahu sakit dada yang terasa itu bakal berakibat fatal atau tidak. Mencegah lebih baik daripada terlambat pengobatan. (Eva/R3/HR-Online)

Loading...