Romo Mangunwijaya, Arsitek Mulia bagi Wong Cilik di Yogyakarta

Romo Mangunwijaya, Arsitek Mulia bagi Wong Cilik di Yogyakarta
Potret Romo Mangun didalam sampul buku, dan keadaan pemukiman kampung kali Code yang terlihat indah nan bersih. Kini pemukiman Code dijadikan sebagai salah satu tempat destinasi wisata yang menarik di Yogyakarta. Foto: Istimewa

Apakah kalian pernah melihat segelintir orang yang tak punya rumah, pada pinggiran kali seperti Jakarta? Bagaimana perasaan kalian, pasti ada rasa simpati ingin membantu bukan? Jika jawabannya Ya’ berarti kalian berjiwa besar seperti Romo. Lantas siapa sih Romo Mangunwijaya?

Sejarah Romo Mangunwijaya dan Simpatinya terhadap Wong Cilik

Nama lengkapnya adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, pada 6 Mei 1929. Semasa hidupnya Romo Mangun merupakan seorang pengajar, budayawan, rohaniawan dan arsitek. Karya-karyanya yang sebagian berbentuk bangunan religius tersebar hampir diseluruh penjuru Indonesia, salah satunya Yogyakarta.

Menurut Rony Gunawan Sunaryo dalam Jurnal Ilmiahnya “Mengikuti Langkah Pikir Romo Mangun: Sebuah tinjauan mengenai metode perancangan arsitektur Yusuf Bilyarta Mangunwijaya”, (Dimensi Teknik Arsitektur, Vol. 35, No. 1, Juli 2007: 41). Kemuliaan hati Romo Mangun terbentuk sejak beliau masih kecil untuk menjadi Imam Pradja Keuskupan Agung Gereja Semarang.

Baca Juga: Sastrawan Betawi S.M Ardan dan Potret Jakarta Tahun 1950

Bahkan ketika Romo Mangunwijaya menjadi mahasiswa Achen Jerman, ia menyandang predikat sebagai Pastor. Hal ini mencerminkan konsistensi profesi Romo Mangun. Karena selain sebagai rohaniawan gereja tetapi ia juga berprofesi sebagai mahasiswa jurusan arsitek muda Jerman.

Sepulang dari Jerman, ia pun aktif sebagai pengajar dalam jurusan Arsitektur Universitas Gadjah Mada. Namun karena sering aktif dalam dunia kerohaniawanan Romo Mangun memutuskan berhenti mengajar pada tahun 1982. Dari sinilah awal mula Romo Mangun memiliki citra yang spesial dari kalangan Wong Cilik Yogyakarta.

Romo Mangunwijaya Menginisiasi Penataan Pemukiman Kumuh Bantaran Kali Code Yogyakarta

Menurut pendapat Ornai Kori Surniyati, dalam buku “Merawat Nilai-Nilai Budaya Jawa Melalui Perspektif Kearifan Lokal di Yogyakarta” (2016: 171). Menyebu pada masa-masa perang kemerdekaan tahun 1945-1950 banyak terjadi perpindahan penduduk dan pembangunan rumah secara bebas pada pinggir-pinggir kali Code.

Pada tahun 1960-an hingga 1970-an, para urban kemudian membangun pemukimannya pada hulu sungai sebelah utara kota. Bantaran kali Code sangat kumuh, selain tempat pembuangan sampah, juga sebagai pemukiman para pengemis, pemulung, pencopet dan PSK. Kala itu rumah penduduk kali Code terbuat dari kardu bekas, lalu gedhek (anyaman bilik dari bambu), dan beberapa bahan plastik bekas sampah yang masih bisa terpakai.

Kedatangan Romo Mangunwijaya ke bantaran Kali Code pada tahun 1984, telah menginisiasi penataan pemukiman penduduk dan membawa perubahan bagi kesehatan lingkungan para urban. Selain mengubah lingkungan menjadi tertata rapih, kedatangan Romo Mangun juga telah merombak citra negatif kali Code menjadi lebih baik.

Y.B Priyana Hadi, dalam bukunya yang berjudul “Y.B Mangunwijaya dimata Para Sahabat” (1999:8), menyebut Romo Mangun telah membangun mental penduduknya dengan pendampingan terhadap kaum cilik yang kesusahan. Ia mempercayai bisa mengubah citra Code, jika penduduk sekitar mendukung dan terampil merawat pemukimannya.

Pemukiman Kali Code Memperoleh Penghargaan

Menurut Mujiyanti dalam penelitianya yang berjudul ”Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Kali Code tahun 1980-1992” (2012: 73), menyebut pemukiman Code pernah memperoleh penghargaan pada tahun 1992. Adapun penghargaan tersebut sangat bergengsi pada masanya, yaitu Pengharagaan The Aga Khan, sebuah ajang penilaian arsitektur dunia dari Aga Khan IV (Jenewa Swiss), pada tahun 1977.

Hal ini sudah barang tentu menjadi sebuah kebahagiaan bagi Romo Mangunwijaya, dan juga masyarakat sekitar Code. Penghargaan itu membuktikan bahwa usaha Romo Mangun pun berhasil, dan kampung Kali Code tidak lagi dipandang sebagai perkampungan yang kumuh.

Begitulah kisah Romo Mangunwijaya dan pembangunan pemukiman kumuh pinggiran Kali Code Yogyakarta. Perjuangannya pun dalam membela Wong Cilik tak sia-sia hingga akhir hayatnya tiba. Kini usahanya telah berhasil dengan keadaan Code yang semakin bersih dan menarik wisatawan yang berkunjung, semoga bermanfaat. (Erik/R9/HR-Online)