Sastrawan Betawi S.M Ardan dan Potret Jakarta Tahun 1950

Sastrawan Betawi S.M Ardan
Foto sastrawan Betawi S.M Ardan, seorang cerpenis yang piawai memotret Jakarta lewat tulisan. Foto: Ist/Net

Sastrawan Betawi S.M Ardan dan Potret Jakarta adalah sebuah istilah dalam mengenang sosok cerpenis berbakat asal Jakarta pada era tahun 1950.

Syamardan nama lengkapnya, tersohor juga sebagai seniman Betawi yang piawai menulis naskah-naskah drama klasik seperti lenong Betawi. Hingga akhir masa hidupnya, ia masih aktif mendidik beberapa seniman pelawak Betawi.

Publik luas tidak hanya mengenal S.M Ardan sebagai sastrawan dan seniman betawi, tetapi juga sebagai budayawan betawi. Akan tetapi tak banyak orang mengenal S.M Ardan sebagai pahlawan betawi pada masa penjajahan.

Lalu siapakah yang sebenarnya sosok SM. Ardan itu, dan seperti apakah karya-karyanya?

Profil Sastrawan Betawi S.M Ardan

Syamardan begitulah nama aslinya, namun karena kerap menulis di kolom hiburan pada salah satu koran lokal di Jakarta membuat namanya dikenal publik dengan singkatan pena S.M Ardan.

Beberapa waktu silam ada pendapat yang mengatakan S.M Ardan “bukan orang Jakarta”, karena waktu itu ia lahir dan besar di Medan.

Namun tanggapan ini ditepis oleh sejarawan J.J Rizal yang menyebut, keliru jika S.M Ardan dikatakan bukan orang Betawi. “Karena jika ditarik sejarahnya ia adalah seorang Betawi tulen,” ungkapnya.

Menurut J.J Rizal dalam Terang Bulan Terang di Kali: Cerita Keliling Jakarta (2007: 271) menyebut Ardan memang lahir di Medan pada tanggal 2 Februari 1932. “Tetapi di sana ia hanya numpang lahir, selebihnya menjadi anak-anak, remaja dan dewasa di Jakarta,” jelasnya.

Dikutip dari catatan yang sama, tercatat ayah sastrawan Betawi S.M Ardan adalah seorang tukang potret yang merantau kerja di Medan. Kemudian kembali ke Jakarta ketika ia berusia enam tahun. Akan tetap Ardan tumbuh besar di antara anak-anak Jakarta.

Ardan mengalami suka dan duka sebagai orang Jakarta, dan berusaha bergaul akrab dengan keadaan Jakarta serta penghuninya.

S.M Ardan, Tokoh Sastra Modern

Beberapa tokoh pengagum S.M Ardan menyebutnya sebagai “orang dalam Jakarta (insider)”. Ini disebutkan juga oleh J.J Rizal yang dikenal sebagai sejarawan dan pendiri penerbit Komunitas Bambu itu.

Syamardan dewasa dikenal banyak orang sebagai penulis di kolom cerpen mingguan koran Jakarta terbitan tahun 1950. Kepiawaiannya dalam menulis mengantarkan Ardan pada ketenaran publik sekaligus tokoh-tokoh sastra terkemuka di Indonesia.

Menurut pengantar Ajip rosidi dalam buku “Terang Bulan, Terang di Kali: Cerita Keliling Jakarta” hingga HB. Jassin, menyebut tulisan sastrawan Betawi S.M Ardan biasa menggunakan pemakaian bahasa sederhana yang diambil dari dialek Betawi sehari-hari.

Sebagian besar kritikus sastra seperti H.B Jassin mengomentari cerpen Ardan dengan terkagum-kagum.

H.B Jassin mengungkapkan betapa berkembangnya dunia sastra populer dalam lingkup cerpen di Indonesia ini setelah hadirnya karya-karya Ardan.

Pendeknya menurut Jassin, S.M Ardan telah banyak mengilhami karya-karya sastra baru di Indonesia pada kurun waktu tahun 1950 sampai dengan 1990.

Lalu apa saja karya-karya Ardan yang mengilhami sastrawan Indonesia kurun waktu 1950-1990 tersebut?

Tiga Karya Sastra S.M Ardan dan Keadaan Jakarta Tahun 1950

“Pawai di Bawah Bulan” adalah salah satu judul cerpen satrawan Betawi S.M Ardan yang terbit tahun 1950. Dalam cerpennya itu ia menggambarkan masyarakat Jakarta yang serba kekurangan dan banyak dilanda kemiskinan.

Dalam cerpennya itu Ardan menyoroti kebijakan Presiden Sukarno dalam menjamin kesehatan masyarakat Jakarta saat itu.

Ardan menulis dengan gaya sarkas. “Orang miskin yang sakit dimasa itu harus rela mendapatkan antrian yang tidak masuk akal sementara orang kaya yang mampu membayar sejumlah uang mendapat nomor antrian yang cepat, sialan”.

Secara tidak langsung cerpen ini dibuat menjadi anekdot yang menyindir, sederhananya “Orang miskin dilarang sakit”, tulis Ardan pada paragraf berikutnya.

Sementara di tahun yang sama sastrawan Betawi S.M Ardan juga menerbitkan judul cerpen bergaya roman, namun berisi penuh dengan kritik. Cerpen tersebut berjudul “Bulan Sabit di Langit Barat”.

Cerpennya ini menggambarkan keadaan sosial di Jakarta yang diskriminatif. Si Kaya dan Si Miskin adalah dua tokoh yang di gambarkan Ardan sebagai orang-orang  yang berseberangan.

Lalu cerpen Ardan yang terakhir berjudul “Belum Selesai”. Sama halnya seperti pada cerpen sebelum-sebelumnya Ardan masih mengkritik keadaan Jakarta yang carut marut.

Dalam cerpennya itu sastrawan Betawi S.M Ardan menceritakan sebuah adegan kriminal seseorang bernama Kosim. Tokoh Kosim merampok uang cukong untuk membeli perlengkapan dapur guna mencukupi periuk rumah tangganya yang serba kekurangan.   

Dari cerpen inilah yang menurut H.B Jassin, Ardan dikatakan sebagai pelopor sastra populer era tahun 1950 sampai dengan 1990.

Akan tetapi yang lebih dari menarik dari tokoh Betawi itu terletak pada kebiasaanya menggunakan Jakarta sebagai bahan gagasan menulis cerpen.

Sastrawan Betawi S.M Ardan ini menyebut, bahwa itulah karya sastra yang sesungguhnya, karena tulisan-tulisan cerpen yang menarik harus mampu meramal masa depan. (Erik/R7/HR-Online)