Sejarah Bantal Guling Berevolusi hingga Sekarang, Awalnya dari Batu

Sejarah bantal guling berevolusi hingga sekarang yang awalnya terbuat dari batu. Foto: Net/Ist.
Sejarah bantal guling berevolusi hingga sekarang yang awalnya terbuat dari batu. Foto: Net/Ist.

Sejarah bantal guling berevolusi hingga sekarang yang awalnya terbuat dari batu. Keberadaan bantal diketahui untuk pertama kalinya berasal dari negara Mesopotamia sekitar 7.000 tahun sebelum Masehi.

Merangkum dari berbagai sumber, bantal pada awalnya menunjukkan tingkat kesejahteraan hidup dari pemiliknya. Masyarakat Mesir kuno juga sudah mengenal bantal.

Begitu pula masyarakat Tiongkok yang mengenal bantal sebagai barang berharga tinggi. Hal itu karena pembuatannya sudah menggunakan teknik penjahitan secara modern berikut ornamennya. Sedangkan, masyarakat Eropa mulai mengenal bantal pada abad pertengahan.

Bantal pun menjadi benda yang tak bisa lepas dari yang namanya tempat tidur. Secara umum bantal di Indonesia ada yang berbentuk kotak dan persegi panjang. Ada juga bantal guling yang bentuknya lonjong.

Tentunya masih banyak bentuk maupun jenis bantal lainnya yang bisa kita lihat sampai hari ini, seperti bantal sandaran kursi, bantal sofa, alas duduk, dan lain sebagainya. Nah, untuk mengetahui sejarah bantal guling, berikut ini ulasannya.

Baca Juga : Sejarah KA Banjar-Pangandaran, Dibangun dari Antusias Swasta Belanda

Sejarah Bantal Guling Berevolusi hingga Sekarang

Bantal Batu

Berdasarkan penjelasan My Pillow Guide, bantal awal mulanya berasal dari Mesopotamia sekitar 7.000 tahun SM (sebelum Masehi). Jangan membayangkan bantal pada masa itu bahannya menggunakan material yang empuk dan nyaman.

Kala itu bahan untuk membuat bantal menggunakan batu pipih, bentuknya persegi panjang, dan pada bagian panjangnya berbentuk cekungan.

Sejarah bantal guling yang berevolusi hingga sekarang. Konon salah satu yang terkaya dari orang-orang Mesopotamia punya inisiatif membuat alat untuk mencegah datangnya semut dan serangga. Atau binatang insekta lain yang merambat ke hidung, mulut, maupun rambut saat tidur di lantai.

Alat tersebut sesederhana batu, mereka meletakannya pada bagian bawah kepala. Akhirnya, kepemilikan bantal bagi suku tersebut menjadi sebuah simbol status masyarakat. Makin banyak bantal yang mereka miliki, maka makin terpandang pula pemiliknya.

Leluhur masyarakat Mesir juga memakai bantal yang terbuat dari batu seperti halnya nenek moyang Mespotamian. Hanya bedanya orang Mesir terkadang menggunakan bantal yang terbuat dari balokan kayu.

Sejarah bantal guling yang berevolusi hingga sekarang, yang kala itu mereka menggunakan bantal karena meyakini kepala adalah bagian paling sakral seorang manusia. Jadi harus melindungi sekaligus juga meninggikan kepala.

Baca Juga : Melihat Bentuk Masjid Agung Ciamis Masa Lalu, Ini Sejarahnya

Perubahan Bahan

Bangsa Romawi dan Yunani mengubah bahan material bantal dari sebelumnya menggunakan batu beralih ke bahan yang lebih lembut. Seperti alang-alang, jerami, dan bulu.

Mereka memasukkan bahan-bahan tersebut ke dalam wadah, kemudian mereka jadikan sebagai bantal. Tentunya terasa nyaman karena lebih empuk. Namun, tetap saja hanya orang-orang kaya yang memilikinya.

Sejarah bantal guling yang berevolusi hingga sekarang, karena seiring berjalannya waktu. Sehingga, fungsi bantal pun mengalami perluasan.

Tak hanya sebagai alas kepala saat tidur, tapi juga untuk alas lutut pada waktu berdo’a. Beragam fungsi bantal pun terus mengalami evolusi hingga sekarang.

Seperti halnya masyarakat China yang membuat bantal dari material keras berupa kayu, bambu, porselen atau keramik, hingga perak. Agar terasa empuk dan nyaman, mereka juga meletakkan beberapa material pada bagian atasnya, seperti pakaian.

Bantal Sempat Tidak Digunakan

Mengutip dari Gotta Sleep, pada masa kekaisaran Romawi Barat, orang-orang kaya masih menggunakan bantal. Tapi bagi kalangan masyarakat biasa, mereka sudah tidak lagi menggunakan bantal. Mereka menilai bantal adalah simbol kelemahan.

Pada masa itu, hanya ada dua kelompok saja yang tetap menggunakan bantal, yaitu bagi ibu hamil, serta Raja Henry VIII. Selain itu tidak boleh menggunakan bantal.

Jadi mereka harus tidur tanpa menggunakan bantal, sehingga posisi kepala dan punggung sejajar. Hanya saja kepercayaan tersebut perlahan luntur. Perlahan orang-orang pun kembali memiliki bantal untuk istirahat pada malam hari.

Kini, banyak orang yang akhirnya menyadari akan pentingnya bantal yang nyaman dan lembut untuk mengistirahatkan kepala. Hanya saja mereka sering mengganti isi bantal lantaran rawan serangan hama penyakit.

Baca Juga : Sejarah Bahari Indonesia, Menelusuri Teknologi Maritim Nenek Moyang

Bantal Guling Hari Ini

Sejarah bantal guling yang terus berevolusi hingga sekarang. Kebanyakan bantal yang ada hari ini isinya kapas atau bahan sintetis lainnya yang empuk.

Meski begitu, tidak hanya bahan saja yang berevolusi hari ini, tapi juga bentuk dan fungsi bantal pun sudah mengalami banyak perkembangannya.

Fungsi bantal maupun guling tak hanya untuk tidur, karena kini sudah banyak yang membekalinya dengan teknologi canggih. Salah satunya untuk mengatur pola tidur, lengkap dengan alarm dan sebagainya.

Bantal dengan teknologi tersebut akan membangunkan penggunanya ketika si penggunanya tidur mendengkur. Itulah sejarah bantal guling yang mengalami evolusi hingga sekarang. (Eva/R3/HR-Online)

Loading...