Sejarah Boven Digoel, Kamp Tahanan Paling Seram Zaman Belanda

Sejarah Boven Digoel
Salah satu potret keadaan kamp penampung tahanan di Boven Digoel. Foto: Ist/Net

Dalam lintasan sejarah Indonesia, terdapat suatu tempat yang telah terlupakan pada memori kolektif bangsa Indonesia, yaitu sejarah Boven Digoel.

Jika para pembaca mengetahui lebih dalam tentang Boven Digoel, maka akan menemukan sebuah fakta menarik tentang sejarah Boven Digoel. Lantas apa itu Boven Digoel?

Daerah Boven Digoel letaknya di hulu sungai Digoel, Papua bagian Selatan. Wilayah ini pada awalnya merupakan hutan lepas yang diselimuti oleh belukar pepohonan yang lebat, penuh dengan rawa-rawa, dan sunyi senyap dengan beraneka ragam binatang buas.

Dalam catatan sejarah, Boven Digoel pernah ditetapkan menjadi kamp penampung tahanan pertama di Indonesia pada masa Kolonial Belanda.

Kamp ini dikategorikan sebagai tempat yang paling menyeramkan bagi para tahanan yang akan dikirimkan ke sana.

Sejarah Boven Digoel, Pertama Kali Dibuat Sebagai Kamp Penampung Tahanan

Takashi Shiraishi dalam bukunya berjudul “Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial” (2001: 1), mengungkapkan, penetapan Boven Digoel sebagai kamp penampungan tahanan, berawal dari peristiwa pemberontakan komunis di Banten dan Sumatera pada tahun 1926-1927. 

Akan tetapi kebijakan kolonial memandang tahanan ini bukan sebagai tahanan pada umumnya. Para tahanan diizinkan membangun area kamp penampungan Boven Digoel untuk bertahan hidup.

Baca Juga: Sejarah Pemberontakan PKI Madiun, Tragedi Berdarah Penuh Trauma

Takashi menyebut tahanan dengan istilah pengasingan atau pembuangan. Menurutnya model pengasingan kolonial sudah berlangsung sejak lama di negara jajahannya termasuk Indonesia.

Pada tahun 1900-an misalnya, terdapat tokoh-tokoh yang menentang pemerintah kolonial seperti, Samin Surosentiko, orang Jawa Tengah yang dibuang ke Sumatera Barat pada tahun 1907.

Pada 1927 pun sama, terdapat dr. Tjipto Mangoenkoesoemo yang pernah diasingkan ke pulau Banda Neira karena ia pernah dituduh melakukan agitasi massa dan melakukan perbuatan yang menentang kebijakan kolonial Belanda.

Tokoh lain seperti Semaun, Tan Malaka, Darsono, Haji Misbach, Ali Archam, dan masih banyak lainnya bernasib sama. Mereka pernah dibuang ke Boven Digoel karena dituduh menghasut massa untuk memberontak pemerintah Hindia Belanda.

Hal ini pun dibahas oleh Mangunandikusumo, Dkk dalam bukunya berjudul “Citra dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan Seri Perjuangan ex Digul” (1977: 73).

Ia menyebut bahwa penetapan Boven Digoel sebagai kamp penampung tahanan, dapat diketahui sejak diresmikannya satu bangunan kamp yaitu pada tanggal 10 Desember 1926. Peresmian tersebut berdasarkan surat keputusan Pemerintah Hindia Belanda yang dipimpin langsung oleh Gubernur Jenderal A.C.D. de Graeff.

Sejarah Kedatangan Rombongan Tahanan Pertama, Hampir Separuhnya Berasal dari Banten

Susanto T. Handoko, dalam jurnal berjudul “Boven Digoel dalam Panggung Sejarah Indonesia: dari Pergerakan Nasional Hingga Otonomi Khusus Papua” (Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol.1, No.2, 2016: 84), mengungkapkan bahwa kedatangan rombongan tahanan pertama di Boven Digoel kebanyakan berasal dari Banten.

Baca Juga: Sejarah Sarekat Islam, Embrio Komunisme Pertama di Indonesia

Hal ini dapat dilihat ketika Kapten L.Th. Becking, pimpinan kesatuan yang menghancurkan pemberontakan komunis yang terjadi di Banten.

Penduduk Digoel pun semakin bertambah setelah berganti pimpinan pengawas bernama M.A Monsju. Tercatat  Monsju datang dengan rombongan terbanyak Digoel saat itu yang dikenal dengan istilah rombongan ketujuh.

Adapun Monsju datang pada tanggal 30 Oktober 1927, kedatangannya bertujuan untuk menggantikan Kapten Becking sebagai pengawas Digoel sebelumnya.

Pihak pemegang wewenang atau administratur mencatat bahwa penduduk kamp berjumlah sekitar 920 jiwa, terdiri dari 538 interni dan 382 anggota keluarga.

Selanjutnya pada bulan Februari 1928, angka ini mencapai 1.139 jiwa, terdiri dari 666 internir dan 473 anggota keluarga.

Ketika W.P Hillen anggota Dewan Hindia Belanda, mengunjungi Boven Digoel pada tahun 1930, tercatat penghuni Digoel berada di titik puncak, dengan 2.000 jiwa, termasuk 1.308 para tahanan baru.

Kamp Penampung Tahanan di Boven Digoel, Ternyata Dibagi-bagi Berdasarkan Etnis

Susanto T. Handoko (2016: 85), mengungkapkan bahwa ternyata kamp penampungan tahan di Boven Digoel, dibagi-bagi berdasarkan etnis.

Hal ini sebagaimana Susanto menyebut bahwa pada awalnya para tahanan yang berada di Boven Digoel hidup secara terpisah, dan terkotak-kotak menurut etnis.

Seperti halnya di Kampung Ujung Sumatera, yang penghuninya mayoritas etnis Minangkabau. Begitu juga dengan Etnis Aceh dan Lampung menetap terpisah.

Orang-orang dari Jawa berasal dari etnis Madura, Jawa, dan Sunda berkumpul di pemukiman sendiri dalam kamp di Boven Digoel.

Sama seperti orang Banten yang sebagian besar dari mereka adalah ex pemberontak komunis tahun 1926. Mereka membentuk sebuah kelompok terpisah di dalam kamp karena etnis mereka merasa beda dengan orang-orang dalam satu lingkungan.

Begitulah sepenggal kisah tentang sejarah Boven Digoel, kamp penampun tahanan pertama di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Semoga bermanfaat. (Erik/R7/HR-Online)