Sejarah Pemberontakan PKI Madiun, Tragedi Berdarah Penuh Trauma

Sejarah Pemberontakan PKI Madiun
Dua potret tokoh utama terjadinya sejarah pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, kiri Muso/Musodo, dan kanan Amir Syarifuddin. Foto: Ist/Net

Sejarah pemberontakan PKI pada tahun 1948 di Madiun merupakan peristiwa yang sulit terlupakan. Sejarah Indonesia mencatat peristiwa ini sebagai sebuah tragedi berdarah pertama yang pernah dilakukan oleh bangsa sendiri.

Adapun kalangan sejarawan menyebutnya sebagai salah satu konflik internal yang terjadi pasca kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, hampir semua masyarakat Madiun menyebut, peristiwa tersebut peristiwa yang ganas dan menimbulkan trauma mendalam. Rata-rata masyarakat Madiun masih mengingat peristiwa ini.

Baca Juga: Sejarah Sarekat Islam, Embrio Komunisme Pertama di Indonesia

Banyak masyarakat Madiun yang menjadi korban. Diantara yang menjadi korban itu bahkan tidak berdosa dan tidak mengerti apa-apa, akan tetapi tetap dibantai dan tewas secara mengenaskan.

Sejarah Pemberontakan PKI Madiun, Apa Tujuannya?

Menurut Soetarjo dalam bukunya berjudul “Pemberontakan PKI-Moeso di Madiun” (2001: 7), mengungkapkan bahwa terdapat tiga tujuan PKI memberontak di Madiun pada tahun 1948.

Tujuan PKI melakukan pemberontakan yaitu, PKI ingin mendirikan pemerintahan sosialistis. Pemerintahan tersebut digadang-gadang bakal berlandaskan ideologi Marxisme-Leninisme. Idelogi yang saat ini terlarang di Indonesia.

Sementara yang kedua, PKI melakukan pemberontakan di Madiun, bertujuan mencari massa untuk menentang pemerintahan Soekarno dan Hatta, serta menghancurkan siapa pun yang berusaha menghalangi tujuannya.

Terakhir, PKI di Madiun bertujuan menguasai negara Republik Indonesia dan mengubah sistem pemerintahan Indonesia yang diawali dari pemerintahan kota Madiun.

Adapun beberapa pendapat sejarawan mengungkapkan, bahwa peristiwa pemberontakan PKI Maduiun terjadi hanya di beberapa desa kecil.

Baca Juga: Profil Haji Misbach, Penganut Ajaran Komunisme di Masa Kolonial

Moedjanto dalam bukunya berjudul “Indonesia Abad ke-20” (1988: 31), menyebut bahwa pemberontakan tersebut lantaran PKI ingin menggalang kekuatan rakyat untuk mewujudkan tercapainya Republik Sovyet Indonesia yang berhaluan komunis.

Profil Para Tokoh Utama dari Pemberontakan PKI 1948 di Madiun, Ternyata Ada yang Jebolan Santri

Terdapat para tokoh utama dalam pemberontakan PKI 1948 di Madiun. Salah satunya adalah Amir Syarifuddin. Ia merupakan tokoh yang paling menonjol, terkenal dan kontroversial.

Amir Syafruddin dikenal sebagai tokoh komunis yang taat beragama. Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan jika Komunis di Indonesia itu tidak atheis.

Adapun Amir Syarifuddin pernah memiliki peran yang penting dalam mengusir penjajahan Jepang. Sejarah mencatat, pada masa pendudukan Jepang, Amir membentuk gerakan bawah tanah.

Namun hal ini ditentang oleh beberapa sejarawan karena gerakan Amir dituduh sebagai aksi mata-mata Belanda. Namun usahanya terendus polisi rahasia Jepang (Kemptei), dan Amir Syarifuddin dijatuhi hukuman mati, akan tetapi karena dukungan Sukarno-Hatta, hukuman mati Amir gagal.

Tokoh yang kedua bernama Muso, atau masyarakat Madiun akrab dengan nama Musodo. Muso adalah tokoh kedua yang paling penting dalam peristiwa pemberontakan PKI di Madiun pada tahun 1948.

Muso dikenal sebagai salah seorang pemimpin PKI yang sangat terkenal pada pemberontakan PKI di masa kolonial tahun 1926.

Seperti halnya Amir Syarifuddin yang kuat beragama, Muso pun tercatat pernah menjadi seorang santri. Muso pernah menjadi murid dari tokoh terkenal bangsa bernama H.O.S Cokroaminoto.

Baca Juga: Serikat Indonesia Baru, Manuver PKI Kuasai Indonesia Saat Jepang Kalah

Muso kemudian mengenal politik dan gerakan kemerdekaan setelah dirinya dewasa. Hal ini kemudian mengantarkan Muso ke jenjang karir perpolitikannya yang pesat, ia mampu menjadi salah seorang PKI yang menonjol dalam berbagai gerakan, salah satunya yaitu gerakan PKI di Madiun tahun 1948.

Peristiwa Pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, Pernah Diselesaikan oleh Masyumi

Beberapa pernyataan dari buku berjudul “Lubang-lubang Pembantaian Petualangan PKI di Madiun” (1990: 14), mengungkapkan bahwa Masyumi yang merupakan partai terbesar di Indonesia, mampu mengatasi peristiwa pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Hal ini berangkat dari Masyumi yang pernah memenangkan kursi di Madiun sebagai partai pemenang kedua.

Pada saat pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 terjadi, sejarah mencatat Masyumi berjasa sebagai partai yang membantu meredamkan peristiwa tersebut.

Hal itu dilakukan Masyumi dengan menjadi informan kepada pasukan Siliwangi. Pasukan tersebut bertugas untuk menumpas pemberontakan PKI Madiun bersama divisi Diponegoro dan Divisi Brawijaya.

Selain sebagai informan, Masyumi juga bertugas membentengi rakyat dari pengaruh PKI. Masyumi banyak mulai meningkatkan pemahaman ajaran agama Islam pada masyarakat.

Ajaran Islam yang selalu mereka sampaikan adalah Islam yang mengajarkan harus membela bangsa dan negara dari ancaman separatism. Salah satunya tentu saja pemberontakan PKI di Madiun. Begitulah sepenggal sejarah pemberontakan PKI Madiun tahun 1948, semoga bermafaat. (Erik/R7/HR-Online)