Sejarah Sarekat Islam, Embrio Komunisme Pertama di Indonesia

Sejarah Sarekat Islam
Potret Semaoen (kiri), sebagai penyebar ajaran komunisme pertama di Indonesia yang berawal dari organisasi Sarekat Islam. Foto: Ist/Net

Sejarah Sarekat Islam (SI) ternyata menarik untuk dibahas. Sejumlah sumber menyebutkan Sarekat Islam merupakan sebuah organisasi embrio dari penyebaran komunisme pertama di Indonesia.

Perjalanan tersebut cukup panjang untuk diceritakan, akan tetapi artikel ini mencoba mengungkapkan bagaimana awal berkembangnya Komunisme pertama di Indonesia.

Seperti halnya menurut Tsabit Azinar Ahmad dalam jurnal sejarah berjudul “Sarekat Islam dan Gerakan Kiri di Semarang” (Jurnal Sejarah dan Budaya, Tahun Kedelapan, Nomor 2 Desember 2014: 226).

Tsabit menyebut perkembangan komunisme cukup pesat pada tahun 1950-1960. Hal ini tidak terlepas dari sejarah Sarekat Islam dan periode masa Pergerakan Nasional.

Baca Juga: Profil Haji Misbach, Penganut Ajaran Komunisme di Masa Kolonial

Perkembangan komunisme berkaitan erat dengan keberadaan organisasi Sarekat Islam yang saat itu mulai berdiri di Semarang.

Komunisme sebagai gagasan ternyata mendapat dukungan kuat dari sejumlah kalangan Sarekat Islam. Namun pada perkembangannya, muncul perdebatan-perdebatan di antara para anggota Sarekat Islam sendiri.

Ujung dari perdebatan tersebut adalah pecahnya Sarekat Islam. Perpecahan dari Sarekat Islam inilah kemudian yang menjadi embrio berkembangnya komunisme di Indonesia.

Sejarah Sarekat Islam Berkembang di Semarang, Penyebab Konflik dengan Kelompok Cina

Tsabit Azinar Ahmad (2014: 226), mengungkapkan perkembangan Sarekat Islam yang amat pesat memunculkan cabang-cabang di berbagai daerah, tak terkecuali di Semarang.

Sarekat Islam Semarang berdiri atas prakarsa Raden Saleh Muhammad Joesoep, seorang Klerk di salah satu perusahaan trem (Kereta Api) Semarang.

Sarekat Islam yang berdiri di Semarang sempat menjadi pemicu terjadinya perkelahian antara orang China dengan anggota Sarekat Islam Semarang. Perkelahian terjadi di kampung Brondongan pada tanggal 24 Maret 1913.

Baca Juga: Serikat Indonesia Baru, Manuver PKI Kuasai Indonesia Saat Jepang Kalah

Perkelahian tersebut berawal dari perselisihan antar kelompok. Kelompok China tak terima dengan para anggota Sarekat Islam yang memberontak.

Saat itu, Sarekat Islam mendirikan Koperasi yang memberikan dampak negatif bagi perusahaan China di Semarang.

Setelah konflik itu terjadi, Yuliati dalam buku berjudul “Semaoen: Pers Bumiputera dan  Radikalisasi Sarekat Islam Semarang” (2000: 32), menyebut bahwa jumlah anggota Sarekat Islam di Semarang meningkat secara pesat. 

Pada bulan April 1913, jumlah anggota mencapai, 12. 216 orang, dan pada akhir 1915 jumlah anggota menjadi 21.832 orang. Jadi Selama dua tahun ada peningkatan jumlah anggota sebanyak 9.616 orang.

Semaoen jadi Pemimpin Sarekat Islam, Paradigma SI Berubah ke arah Komunisme

Ketika Semaoen menjadi pemimpin Sarekat Islam, terdapat sebuat paradigma yang berubah ke arah komunisme. Sebagaimana Soe Hok Gie mengungkapkan dalam bukunya berjudul “Di Bawah Lentera Merah” (1999: 6).

Hok Gie menyebut bahwa perubahan dalam kepemimpinan SI Semarang oleh Semaoen, mencerminkan adanya perubahan pendukung yang berasal dari kaum buruh dan rakyat kecil.

Adapun buruh-buruh yang menjadi pengikut SI pimpinan Semaoen adalah buruh yang berada dalam gelombang pesat industrialisasi di Semarang, sehingga banyak buruh yang menjadi pekerja diberbagai perusahaan.

Buruh-buruh itulah yang mendukung pergerakan Sarekat Islam. Sekaligus pelaku pergerakan Sarekat Islam. Pemimpinnya siapa lagi kalau buka Semaoen.

Semula SI Semarang fokus pada kehidupan warga kelas menengah. Namun pada perkembangan selanjutnya, SI banyak bergerak untuk rakyat kecil. Sehingga paradigma perjuangan lebih bersifat radikal.

Ketentuannya memilih jalan radikal dalam berjuang, ternyata dipengaruhi oleh aliran komunisme yang berkembang subur dalam gagasan Semaoen membangun Sarekat Islam.

Semaoen dan Komunisme, Perkenalan Semaoen dengan Ajaran Komunis

Semaoen lahir pada tahun 1899 di Mojokerto sebagai anak seorang buruh kereta api. Kehidupan Semaoen jauh dari dari kehidupan seorang priyayi. Lantaran ia memang bukan keturunan priyayi. Namun Semaoen besar pada “zaman etis”, ia pun turut mengenyam pendidikan dasar bergaya Barat.

Pada tahun 1913 dalam usia 14 tahun, Semaoen bergabung dengan Sarekat Islam cabang Surabaya. Semaoen dikenal aktif dalam berbagai penampilan kongres SI dan sangat revolusioner.

Adapun perjumpaan awalnya dengan ajaran komunisme, yaitu ketika dipertemukan dengan Sneevliet tokoh komunisme asal Belanda yang berkunjung di Semarang. 

Pada saat itu Semaoen memandang Sneevliet sebagai sosok Belanda yang manusiawi, tulus, dan terbebas dari mentalitas kolonial yang dimilikinya. Melalui Sneevliet lah, Semaoen belajar menulis dan berbicara dengan bahasa Belanda, dan mempelajari komunisme dengan lebih serius.

Pengaruh tersebut sangat berdampak terhadap perkembangan Sarekat Islam di Semarang yang bersifat radikal. Hal ini diperparah dengan pendirian ISDV(Indische Sociaal Democratische Vereeniging)  pada tahun 1914 sebagai cikal bakal (Partai Komunis Indonesia).

Begitulah sepenggal sejarah Sarekat Islam sebagai embrio penyebaran komunis pertama di Indonesia. Banyak pendapat yang setuju bahwa munculnya komunisme berawal dari perkembangan Sarekat Islam pimpinan Semaoen di Semarang. (Erik/R7/HR-Online)