Selesai Mengaji, Santri Miftahul Huda Banjar Jualan Kerupuk Kulit

Selesai Mengaji, Santri Miftahul Huda Banjar Jualan Kerupuk Kulit
Santri Ponpes Miftahul Huda Al Azhar komplek Jabal Rohmah saat menunjukkan kerupuk dorokdok yang dijual. Foto: Istimewa

Berita Banjar (harapanrakyat.com).- Sejumlah santri Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda Al Azhar komplek Jabal Rohmah, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, memiliki cara sendiri untuk mengisi waktu luang setelah mengaji.

Mereka mengisi waktu luang dengan berdagang kerupuk dorokdok kulit sapi.

Aji Muhammad Iqbal, santri Ponpes Miftahul Huda asal Bandung, mengaku, awal mulanya ia ingin memanfaatkan waktu kosongnya dengan kegiatan produktif yang bisa menutupi kebutuhan selama di pesantren.

Karena, dirinya ingin bisa tetap belajar agama tanpa membebani orang tua atau keluarganya.

“Apa saja saya coba, mulai dari jasa design grafis, membuat karikatur dan lainnya. Paling penting kegiatan ini tidak mengganggu kegiatan belajar mengaji saya, dan tentunya halal,” tutur Aji, kepada Koran HR, Selasa (15/09/2020).

Berkaitan dengan usahanya menjual kerupuk dorokdok kulit sapi yang ia dapatkan dari Tasikmalaya, hal itu karena melihat potensi pasar yang begitu besar untuk wilayah Kota Banjar.

Apalagi saat pertama kali mencoba menjual sebanyak 30 kilogram, dalam waktu 4 hari sudah ludes terjual.

“Ternyata responnya sangat bagus, apalagi di sini masih jarang. Alhamdulillah, banyak yang suka dengan rasanya, dan harganya juga murah,” ungkap Aji.

Nur Solihin, santri lainnya asal Bandung, mengaku tertantang untuk bisa belajar kewirausahaan saat masih mengenyam pendidikan agama. Karena hal itu akan menjadi bekal setelah bermasyarakat nanti.

Banyak Peminatnya

Sebelum berjualan, Solihin terlebih dahulu melakukan observasi ke berbagai tempat di wilayah Kota Banjar untuk melihat peluang pemasaran kerupuk dorokdok kulit sapi.

“Ketika awal uji coba, ternyata banyak peminatnya. Secara bertahap, nanti akan merambah ke rumah makan, tempat bakso dan lainnya,” tutur Solihin.

Soal harga, ia menjual kerupuk dorokdok kulit sapi seharga Rp 70 ribu untuk ukuran per setengah kilogramnya, dengan berbagai varian rasa, seperti jeruk nipis pedas, balado, dan original. Selama ini  peminatnya rata-rata dari kalangan pegawai maupun pejabat yang ada di Pemkot Banjar.

“Kalau ada yang pesan kita langsung antar, karena sistemnya DO. Untuk ukuran yang kita jual juga sekarang ada pilihan, jadi tidak hanya yang setengah kilo saja, sehingga bisa menjangkau semua kalangan,” terangnya.

Melaui kegiatan dalam bidang penjualan ini, Solihin berharap bisa menjadi bekal setelah ia selesai mengenyam pendidikan di pesantren. Terlebih zaman sekarang kemampuan sesoerang sangat penting, terutama bidang perdagangan.

“Intinya saya ingin mandiri dan tidak merepotkan keluarga ataupun orang tua. Mudah-mudahan saja bisa berkembang ke depannya,” harap Solihin.

Menanggapi hal tersebut, pengasuh Ponpes Miftahul Huda Al Azhar Komplek Jabal Rohmah, KH. Gun Gun Gunawan Abdul Jawad, mengaku pihaknya tidak pernah membatasi santri untuk berkreatifitas.

Sehingga, ada sejumlah santri yang mengabdi untuk yayasan, bekerja di bengkel, mengelola pom mini, maupun berdagang di sekitar pesantren.

“Ini semua demi kemandirian para santri agar dikemudian hari mereka ketika berumah tangga dan bergabung dengan masyarakat, tidak menjadi beban orang tua dan masyarakatnya, sebagaimana yang Rasulullah SAW ajarkan,” katanya.

Gun Gun menambahkan, pihaknya juga mendorong para santri agar bisa aktif dalam organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakat.

Baik NU maupun lainnya selama tidak bertentangan dengan aqidah Islam Ahlussunnah Waljama’ah Annahdliyyah. (Muhafid/Koran HR)

Loading...